<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995</id><updated>2012-02-05T04:45:00.241-08:00</updated><category term='Puisi'/><category term='Hukum Acara Pengadilan Agama'/><category term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category term='Hukum Islam'/><category term='Makalah'/><category term='Ilmu Falak'/><category term='Artikel'/><category term='Ulumul Hadits'/><category term='Hukum Acara Perdata'/><category term='Praktek Falak'/><category term='Buah Pikiran'/><category term='Sejarah Peradaban Islam'/><category term='Perbandingan Madzhab'/><category term='Hukum Tata Negara'/><category term='Fiqih Perbandingan'/><category term='Syari&apos;ah'/><category term='Politik'/><category term='Hukum Waris'/><category term='Hukum Perdata'/><category term='Humor Politik'/><category term='Hikmah'/><category term='Humor'/><category term='Kaidah Fiqhiyyah'/><category term='Hukum Fiqih'/><category term='Kolom Emha'/><category term='Fiqih Ibadah'/><category term='Sastrawan'/><category term='Hukum Adat'/><category term='Pengantar Ilmu Hukum'/><category term='Rukyatul Hilal'/><category term='Ilmu Sosial Dasar'/><category term='Cerpen Teladan'/><category term='Tafsir Ahkam'/><category term='Hukum Pertanahan/Agraria'/><category term='Hukum Pidana'/><category term='Umum'/><category term='Ushul Fiqih'/><category term='Fiqih Muamalah'/><category term='Wacana Keislaman'/><category term='Fiqih Munakahat'/><category term='Fiqh Muqaranah'/><category term='Nasionalis'/><category term='Kumpulan Humor Gus Dur'/><category term='Lembaga Ekonomi Syariah'/><category term='Realita'/><category term='Lebaran'/><category term='Cerpen Islami'/><category term='Hadits Ahkam'/><category term='Metodologi Studi Islam'/><title type='text'>© m|a|s| |b|e|m|b|e|n|g|s ®</title><subtitle type='html'>DEPAN KAMPUS IKAHA PP. ROUDLOTUL QUR'AN "DARUL FALAH III" JL.IRIAN JAYA NO.55 TROMOL POS:61471. TEBUIRENG, CUKIR, DIWEK, JOMBANG, JAWA TIMUR</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>186</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-4892885517669368268</id><published>2011-12-10T07:06:00.000-08:00</published><updated>2011-12-10T07:25:24.687-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih Muamalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Pengadilan Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Hibah Dan Wasiat (Kajian Kompilasi Hukum Islam, Fiqih Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata)</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Hibah dan wasiat adalah perbuatan hukum yang mempunyai arti dan peristiwa yang berbeda dan sekilas tampaknya begitu sepele apabila dilihat dari perbuatan hukum dan peristiwanya sendiri. Meskipun tampaknya sepele tetapi apabila pelaksanaannya tidak dilakukan dengan cara-cara yang benar dan untuk menguatkan atau sebagai bukti tentang peristiwa hukum yang sepele tadi, padahal khasanah materi hukum Islam dibidang hibah dan wasiat ini bukan hukum ciptaan manusia, tetapi hukumnya ditetapkan Allah SWT dan RasulNya(Al-Baqarah ayat 177 dan ayat 182).Dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama (UUPA) dan kompilaasi HukumIslam (KHI) kata wasiat disebut lebih dahulu dari kata hibah, tetapi didalam kitab-kitab fiqih dan KUH Perdata hukum hibah lebih dahulu dibahas, baru kemudian wasiat. Tidak prinsip memang antara yang lebih dahulu disebut atau dibahas antara hukum hibah dan hukum wakaf, namun sistematika pembahasan terhadapmateri tersebut dalam tnini hukum hibah dan hukum wakaf dimulai membahas hibah, perbuatan hukum yang berlakunya setelah kematian pemberi wasiat.Hibah dam wasiat berdasarkan hukumislam dalam konteks kompetensi absolut Badan-badan Peradilan di Indonesia adalah kewenangan Peradilan Agama (pasal 49 ayat(1) UUPA, sedang hibah dan wasiat didalam KHI merupakan pedoman bagi hakim Pengadilan Agama khususnya untuk menyelesaikan masalah-masalah berkenan bidang hukum yang terdapat didalamnya (Inpres nomor 1 Tahun 1990).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Hibah dan wasiat yang dirumuskan dalam pasal demi pasal KHI tidak lepas dari kitab-kitab fiqih dan justru memang bersumber dari al-Quran, hadist dan kitab-kitab fiqih. Mengaitkan materi KHI dengan kajian fiqih dalam tulisan ini, karena hibah dan wasiat yang dimuat dalam KHI bukanlah suatu ketentuan yang final dan telah mencakup permasalahan hibah dan wasiat. Disebutkan dalam impres, bahwa KHI merupakan pedoman yang mengisyaratkan patokan umum yang memerlukan perkembangan dan pengkajian lebih lanjut yang tidak lain pengembangannya merujuk pada kajian fiqih, karena dalam kitab fiqih dijelaskan latar belakang dan lahirnya pendapat Ulama Fiqih terhadap obyek yang dikaji dan segala kemungkinan yang akan timbul, sehingga dengan merujuk kepada kitab-kitab fiqih merupakan dasar untuk mengembangkan dan menafsirkan lebih lanjut hasil kajian yang sudah ada.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Disamping itu sudah menjadi kodrat, bahwa hukum yang dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan, termasuk dalam hal ini KHI tidak menampung permasalahan hukum yang timbul dalam kehidupan manusia, yang senantiasa berubah dengan membaur permasalahan yang baru, apalagi hibah dan wasiat yang belum diatur dalam KHI hanya terdiri beberapa pasal yang tidak menutup kemungkinan permasalahan hukum di bidang hibah dan wasiat belum diatur yang memerlukan penafsiran hukum dalam penerapannya. Hampir setiap hukum yang diatur dalam peraturan prundangundangan tidak mampu menampung permasalahan hukum yang berakselerasi dengan perkembangan masyarakat. Wajarlah kalau dikatakan hukum berjalan tertatih-tatih dibelakang perkembangan zaman, karena hukum tidak mampu mengantisipasi perkembangan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Bagaimanapun lengkapnya suatu kitab hukum, tidak mampu mengantisipasi persoalan hukum yang timbul dalam kehidupan masyarakat. Adalah suatu kodrat, bahwa kehidupan dan perilaku pergaulan manusia secara kontinyu mengalami perubahan. Para ahli ilmu sosial mengajarkan, bahwa sesungguhnya tidak ada masyarakat yang statis, tidak bergerak, melainkan yabg ada adalah masyarakat manusia yang secara terus menerus mengalami perubahan. Hanya saja gerak perubahan dari masyarakat yang lain, ada yang cepat, tetapi ada pula yang lambat. Hal ini merupakan ciri dari kehidupan masyarakat. W. Fridmann yang diikuti oleh Teuku Muhammad Radhi, SH. mengatakan, tempo dari perubahan-perubahan sosial pada zaman ini telah berakselerasi pada titik dimana asumsi-asumsi pada hari ini mungkin tidak berlaku dalam beberapa tahun yang akan datang (Teuku Muhammad Radhi, SH, 1981 : 8). Ibnu Kholdun (1332-1440) mengatakan, bahwa keadaan umat manusia, adat kebiasaan dan peradabannya tidaklah pada suatu gerak dan khittoh yang tetap, melainkan berubah dan berbeda-beda sesuai dengan perubahan zaman dan tempat, maka keadaan ini terjadi pula pada dunia dan negara. Sungguh sunnatullah berlaku pada hamba-hambaNya (Subhi Mahmassani, 1981 , 160).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Adapun tulisan ini menyisipkan pembahasan hibah dan wasiat dalam KUH Perdata dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang ketentuan yang terdapat dalam hukum Islam dengan ketentuan yang diatur dalam KUH Perdata, sebab wasiat dan hibah yang diatur dalam KUH Perdata tidak lepas dari pengaruh hukum Islam. Meskipun atas pengaruh hukum Islam, tetapi berbeda nilai idiilnya dengan hukum islam, karena dalam KUH Perdata hibah dan wasiat digolongkan perjanjian cuma-cuma yang tidak mengandung unsur kasih sayang dan tolong menolong. sedangkan dalam hal islam perbuatan hukumnya dilihat dari kamul khomsah pada assanya sunnah (Al-Baqoroh ayat 177 dan 180). Hibah dalam KUH Perdata merupakan bagian dari hukum perjanjian dan digolongkan perjanjian untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu diwaktu hidupnya (Subekti,1991,1).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pada asasnya suatu perjanjian adalah bersifat timbal balik, seseorang menyanggupi memenuhi prestasi disebabkan dia akan menerima kontra prestasi dari pihak lain. Meskipun hibah termasuk hokum perjanjian cuma-cuma, karena hanya ada prestasi dari satu pihak saja (Penghibah), sedangkan penerima hibah tidak ada kewajiban untuk memberikan kontra prestasi kepada penghibah. Dikatakan diwaktu hidupnya untuk membedakan hibah dengan testamen atau hibah antara suami istri dalam islam diperbolehkan. Hibah dalam KUH perdata tidak boleh ditarik kembali, sedang dalam islam dapat ditarik kembali, khusus hibah orangtua kandung kepada anak kandungnya.Hibah dan Wasiat dalam KUH Perdata (BW)Materi hukum tentang hibah dan wasiat dalam KUH Perdata sendiri bukan diambil dari codex justinianus carpus juris civilis yang menurut para sejarah sebagai sumber hokum modern dan bukan pula hibah dan wasiat diambil dari kitab undang-undang hasil imajinasi napolion yang dimuat dalam codex napolion yang merupakan sal usul KUH perdata (BW), tetapi codex napolion justru ide dasarnya ditranformasikan dari kitab fiqih karya imam Asy-Syarkowi yang kemudian dalam aplikasinya terdapat perbedaan yang mendasar antara hibah dan wasiat dalam KUH Perdata dengan hibah dan wasiat dalam hukum Islam. Masih melekat dikalangan dunia hukum, bahwa hukum modern selalu dikaitkan dengan negara Eropa, karena memang sejarah hukum senantiasa dikaitkan dengan hukum Romawi, mengingat pengaruh hukum Romawi terhadap perkembangan hukum pada negaranegaradi Eropa sangat besar, khususnya dibidang hukum perdata yang dikembangkan melalui hukum universal atau hukum umum (jus comune, jus gentium). Jus comune atau jus gentium ini merupakan codex justinianusyang pada abad ke VI dikodifikasikan sebagai sebuah hukum tertulis oleh Negara-negara Eropa pada abad ke XV dan abad ke XVI. Codex justinianus khususnya hukum perdata menjadi sumber utama dari hukum perdata modern(Theo Huibers, 1990:34).Meskipun Codex Justinianus khususnya dibidang hukum perdata yang dikatakan menjadi sumber utama dari hukum perdata modern, namun BW (KUH Perdata) yang sekarang berlaku di Indonesia yang doberlakukan berdasarkan pasal II Aturan peralihan UUD 1945 adalah bersumber dan meniru kitab fiqih hasil karya Ulama Islam.Kitab fiqih mazhab sudah ada sejak tahun 800 M sedangkan BW Eropa baru pada awal abad XIX M, yakni berdasarkan code napolion yang disusun setelah napolion kembalidari bermukim di Mesir selama kurang lebih 15 bulan antara Bulan Mei 1798 sampai bulan Agustus 1799. Sejarah KUH Perdata (BW) Indonesia sendiri adalah mengikuti kodeifikasi BW di negeri Belanda (1838), sedangkan BW belanda mengikuti BW perancis yang terkenal code napolion (1807). Adapun kodifikasi Hukum Perancis yang merupakan cikal bakal hukum perdata modern Eropa sekarang sesungguhnya berpangkal pada 2 (dua) sumber yaitu Hukum Romawi dan Hukum Islam, hukum Romawi terkenal dengan kodifikasi Yustinianus (483-565) yang disebut Codex Justinianus atau justinianus corpus juris civilis. Sedangkan hukum fiqih Islam diambil oleh Napolion dan dimuat dalam Code napolion berasal dari kitab fiqih susunan Abudalah Asy-Syarkowi (1737-1812 M).Pada waku Napolion menduduki Kairo Mesir, jabatan Asy-Syarkowi adalah Syaikhul Azhar yang diminya napolion membantu hokum Perancis, yaitu Portalis, Tronchet, Bigot De Preameneu dan Mallevilie yang keempatnya adalah para Sarjana Hukum Prancis yang turut Napolion ke Mesir. Hasil karya tim hukum Prancis tersebut yang dibantu oleh Imam Asy-Syarkowi inilah BW Prancis disusun tersebar di nagar-negara Eropa yang dikatakan sumber hukum modern, termasuk yang diadopsi belanda dan diberlakukan pada negara jajahannya termasuk Indonesia yang sampai sekarang BW Belanda tersebut masih berlaku positif di Indonesia yang dikenal dengan KUH Perdata, padahal di Belanda sendiri KUH Perdata tersebut sudah dilakukan perubahan. Oleh karena itu tidak aneh kalau dalam KUH Perdata memuat atau membicarakan materi hukum hibah dan wasiat dalam pasal-pasalnya yang tidak lain adalah diambil dari kitab fiqih Imam Asy-Syarkowi, meskipun telah dilakukan perubahan yang justru telah bertentangan dengan ketentuan hibah dan wasiat dalam hokum Islam. pasal 874 sampai dengan pasal 1022 KUH Perdata tentang wasiat dan hibah adalah berdasarkan pada prinsipprinsip kitab fiqih. pasal 1666 sampai dengan pasal 1693 KUH Perdata adalah tentang hibah mendekati persamaan dengan yang dibahas dalam kitab fiqih, kecuali dalam syarat-syarat tertentu ada perbedaan yang mendasar. Kalau diteruskan lagi mengkaji isi KUH Perdata dengan kitab fiqih, maka tentang penitipan barang dalam pasal 1729 KUHPerdata merupakan terjemahan bebas dalam kitab fikih tentang wadiah (penitipan barang) berdasarkan Firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat (58) (Hasbullah bakry, 1985:9).Hibah dan Wiasiat dalam Islam Ketentuan tentang hokum hibah dan wasiat adalah berdasarkan dalil dalam Al-Qur’an dan hadits, sehingga semua Ulama fiqih sepakat (Ijma) tentang ditetakannya wasiat dan hibah. Ketentuan wasian dalam Al-Qur’an disebutkan antara lain dalam Surat Al-Baqoro ayat 180, An-Nisa ayat 12 dan ayat 58, sedangkan dalam Hadits adalah hadits Bukhiri Muslim.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Ketentuan hibah disebutkan surat Al-Baqoroh ayat 177 dan surat Al-Maidah ayat 2, sedangkan hadits adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim. Hibah dan wasiat sendiri pada dasarnya untuk tujuan yang baik, karena pada asasnya adalah pemberian dari seseorang kepada orang lain tanpa mengharapkan pahala dari Allah SWT. Faktor yang paling dalam disyariatkan hibah dan wasiat ini adalah faktor kemanusiaan, keikhlasan dan ketulusan dari penghibah yang berwasiat. Kalapun akan di bedakannya hanya waktu pelaknasaannya, yaitu hibah dilaksanakan semasa penghibah masih hidup, sedang wasiat dilaksanakan setelah pewasiat wafat. Dikatakan hibah dan wasiat pada asanya adalah pemberian seseorang kepada orang lain tanpa mengharapkan pahala dari Allah SWT karena arti harfiah dari 2 (dua) kata ini mendekati arti yang sama. wasiat artinya menjadikan, menaruh belas kasihan, berpesan menyambung, memerintah, mewajibkan. Sedangkan hibah diartikan pemberian tanpa syarat tanpa mengharapkan pahala dari Allah SWT. Oleh karena itu oleh mazhab Maliki hibah sama dengan hadiah, hibah menurut mazhab Syafi’i adalah pemberian untuk menghormati atau memuliakan seseorang tanpa bermaksud mengharapkan pahala dari Allah SWT. Menurut mazhab Syafi’i hibah mengandung dua pengertian, yaitu pengertian umum dan khusus, pengertian umum mencakup hadiah dan sedekah dan pengertian khusus yang disebut hibah apabila pemberian tersebut tidak bermaksud menghormati atau memuliakan dan mengharapkan ridho Allah SWT. Jika pemberian(hadiah) tersebut bermaksud menghormati atau memuliakan yang diberi disebut hadiah, jika pemberian mengharapkan ridho Allah SWT atau menolong untuk menutupi kesusahannya disebut sedekah. Hibah dan wasiat dilihat dari Hikmatu Al-Tasyri (Filsafat Hukum Islam) adalah untuk memenuhi hasrat berbuat bagi umat islam yang beriman kepada Allah SWT (Al-Baqoroh ayat 177). Hibah dan wasiat adalah hak mutlak pemilik harta yang akan dihibahkan atau yang akan diwasiatkan karena hukum Islam mengakui hak bebas pilih (Free Choise) dan menjamin bagi setiap muslim dalam melakukan perbuatan hukum terhadap haknya (Khiyar Fil-kasab). Oleh karena itu apabila (misalnya) ayah atau ibu dari anak akan menghibahkan atau mewasiatkan hartanya, maka tidak seorangpun dapat menghalanginya, karena sedekat-dekatnya hubungan anak dengan ayanya masih lebih dekat ayahnya itu dengan dirinya sendiri, Syari’at Islam hanya menolong hak anak dengan menentukan jangan sampai hibah dan wasiat melebihi 1/3 (sepertiga) dari harta atau jangan sampai kurang 2/3 (dua pertiga) dari warisan ayah yang menjadi hak anak. Oleh karena itu pula wasiat selalu didahulukan dari pembagian waris, tingkat fasilitasnya sama dengan membayar zakat atau hutang (jika ada) berkenaan dengan perbuatan hukum dan peristiwa hukum elaksanaan hibah dan wasiat yang tampak sepele sehingga karena dianggap sepele cenderung dilakukan tanpa perlu dibuatkan akta sebagai alat bukti. Memang hukum hibah ansich tidak menimbulkan masalah hukum, karena hibah ansich adalah pemberian yang bersifat final yang tidak ada seorangpun yang ikut campur, namun apabila hibah dikaitkan dengan wasiat apabila wasiat behubungan dengan kewarisan, maka akan menimbulkan masalah hukum.Walaupun hibah dan wasiat berdasarkan hukum Islam merupakan salah satu tugas pokok atau wewenang Peradilan Agama(pasal 49 Undang-undang Nomor 3 tahun 2006), namun diantara perkara yang diajukan ke Pengadilan Agama jarang sekali, bahkan hampir tidak ada yang diselesaikan melalui Pengadilan Agama dibandingkan dengan perkara perceraian dan yang assesoir dengan perkara perceraian, seperti pemeliharaan anak, nafkah anak, harta bersama dan lain-lain serta perkara kewarisan. hal ini mungkin karena hibah dan wasiat dianggap perbuatan baik, maka tidak diperlukan akta sebagai alat buktiatau nilai objek hibah dan wasiat tidak bernilai ekonomi tinggi, atau mungkin sudah dilakukan menurut ketentuan hukum yang berlaku, dan kemungkinan lain karena tidak memiliki bukti (walaupun terjadi sengketa), maka tidak diselesaikan melalui Pengadilan Agama. Dengan demikian sulit mendapatkan putusan yang bernilai yurisprudensi (stare decicis) tentang penemuan hukum oleh hakim dibidang wasiat dan hibah ini untuk dianalisis dan kajian ilmia serta diuji dari metode dan teori hukum Islam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Hibah dan wasiat yang diatur dalam KHI dimuat dalam Bab V (wasiat pasal 194-209) dan Bab VI (hibah pasal 210-214). Ketentuan wasiat yang diatur didalamnya menyangkut mereka yang berhak untuk berwasiat, jenis-jenis wasiat, hal-hal lain yang boleh dan tidakboleh dalam wasiat. Sedangkan ketentuan hibah diatur secara singkat yang terdiri dari 4 pasal. Meskipun ketentuan wasiat dan hibah telah diatur dalam KHI yang notabene merupakan transformasi dari ketentua syari’ah dan fiqih, namun karena jarang terjadi sengketa yang sampai diselesaikan di Pengadilan Agama, maka dengan sendirinya belum ada permasalahan hukum yang timbul diluar yang ditentukan dalam KHI. lain halnya kalau dilihat dari pembahasan dalam kitab-kitab fiqih yang begitu detail dan antipatifnya pendapat Ulama Fiqih tentang kemungkinan-kemungkinan masalah yang timbul, sehingga lazim terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama fiqih dalam mengkaji setiap permasalahan yang terjadi. Hibah yang diatur dalam pasal 210 KHI dan fiqih dibatasi sebanyak-banyaknya 1/3 harta benda dari harta benda yang merupakan hak penghibah, malah Ibu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim menganjurkan sebanyak-banyaknya 1/4 dari seluruh harta. yaitu pemberian benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki. Pengertian hibah dalam kajian fiqih adalah pemberian sesuatu untuk menjadi milik orang lain dengan maksud untuk berbuat baik yang dilaksanakan semasa hidupnya tanpa imbalan dan tanpa illat (karena sesuatu). Definisi yang diatur dalam KHI dan yang terdapat dalam kitab fiqih pada dasarnya tidak ada perbedaan, namun dalam kajian fiqih dijelaskan pengertian shadaqah dan illat untuk mengharapkan pahala dari Allah SWT, sedangkan hadiah semata-mata untuk memuliakan orang yang diberi hadiah yang dampaknya akan melahirkan saling mengasihi(tahaaduu tahaabuu). dalam KHI disyaratkan penghibah sudah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun, berakal sehat tanpa paksaan yang sama maknanya dengan kajian fiqih, bahwa anak kecil dan wali tidak sah menghibahkan, karena belum cukup umur (ahliyatul ada’al-kamilah) dan bagi wali karena benda yang dihibahkan bukan miliknya.Pelaksanaan hibahdisyaratkan ijab kabul, sedangkan dalam shadaqah dan hadiah tidak disyaratkan ijab kabul.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam pasal 211 KHI disebutkan hibah orang tua kepada anaknya dapat diperhitungkan sebagai warisan. Maksud dapat diperhitungkan berarti harta yang dihibahkan dapat dijadikan bagian waris yang bagian waris sendiri dapat lebih kecil karena karena sudah mendapatkan hibah. Dalam fiqih hak anak terhadap orang tuannya dapat diperoleh dari 2 jalan, yaitu hibah atau hibah wasiat dan waris. Pasal 212 KHI disebutkan hibah kepada anak dapat ditarik kembali. Ketentuan ini merupakan garis hukum islam berdasarkan hadits Rasulullah yang diwriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Ibnu Abbas yang pada intinya dapat dicabut secara sepihak, tetapi ketentuan ini tidak mudah dilaksanakan apabila harta hibah sudah berganti tangan dalam bentuk benda lain. Oleh karena itu Ulama fiqih berpendapat apabila benda hibah masih dimiliki anak atau masih bergabung dengan milik orang tuanya dapat dicabut, tetapi apabila sudah bercampur dengan harta miliknya, istrinya atau dengan harta orang lain tidak dapat dicabut kembali. pasal 213 KHI hibah yang diberikan pada pemberi hibah dalam keadaan sakit yang dekat dengan kematiannya harus mendapat persetujuan ahli warisnya. Ketentuan ini menurut kajian fiqih orang yang sakit dapat menghibahkan 1/3 hartanya dengan dianalogkan dengan wasiat dengan dasar istishhabul-hal menganggap tetap berlakunya sesuatu yang sama karena ijma, menetapkan orang yang sakit boleh menghibahkan hartanya.Hukum Hibah dan wasiatWasiat yang diatur dalam 194 pasal 209 KHI yang disebutkan diatas memuat mereka yang berhak untuk berwasiat, bentuk wasiat, jenis-jenis wasiat, hal-hal lain yang boleh dan tidak boleh dalam wasiat. Perbedaan hibah dan wasiat dilaksanakan setelah kematian pemberi wasiat (pasal 194 ayat (3) KHI). Ketentuan ini disepakati oleh Imam 4 mazdhab (Maliki,Hanafi,Hambali, dan Al-Syafi’i). melaksanakan hibah hukumna sunnah dan hukum berwasiat menurut Imam emapt mazdhab pada asanya sunah berdasarkan kata yuridu (arab) dala hadits yang diriwayatkan Imam Maliki dari An-Nafi sebagai berikut :”Tidak ada hak bagi seorang Muslim yang mempunyai sesuatu yang (yuridis) ingin diwasiatkannya yang sampai bermalam dua malam, maka wasiat itu wajib tertulis baginya”. Para Imam empat mazdhab berpendapat bahwa berwasiat hendaknya sunah dengan alasan, karena tidak ada dalil yang menyatakan Rasulullah SAW dan para sahabatnya melaksanakanya. Namun demikian wasiat dapat beralih hukumnya wajib, mubah, dan makruh bahkan haram tergantung pada maksud dan tujuannya.1.Wajib apabila selama hidupnya belum melunasi kewajibannya terhadap Allah SWT, misalnya membayar kifarat, zakat atau haji maupun kewajiban terhadap manusia, misalnya hutang dan lainnya.2.Sunah adalah berwasiat kepada kerabat yang tidak mendapat warisan.3.Haram apabila berwasiat untuk hal-hal yang dilarang oleh agama.4.Makruh apabaila yang berwasiat mengenai hal-hal yang dibenci agama.5.Mubah apabila berwasiat untuk kaum kerabat atau orang lain yang berkecukupan Sehubungan wasiat wajib atau wasiat wajibah adala wasiat yang dianggap ada walaupun yang sesungguhnya tidak ada karena demi kemaslahatan. Wasiat wajibah ini bersifat Ijtihadiyyah, karena tidak ada nash yang shorih, sehingga yang berkenaan dengan rukun dan syarat sah dan batalnya wasiat wajibah merupakan lapangan kajian hukum. dasar hukum wasiat wjibah adala firman Allah SWT dalam surat Al-Baqoroh ayat 180, sehingga para ulama setelah masa tabi’in seperti Sa’idbin Musayyab, hasan bashri, Thawus, Imam Ahmad bin Hamabal, daud Az-Zhahiri,Ibu jarir Al-Tobari Ishaq bin Rahawaih, Ibnu hazm dan lain-lain berdasarkan hal ayat tersebut berpendapat wajib untuk berwasiat kepada kerabat yang tidak berhak mendapat waris karena terhijab oleh ahli waris yang lainnya. Tersebut bersifat muhkam, yang tetap berlaku bagi kerabat yang tidak mendapat bagian waris.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Apabila seorang meninggal tanpa meninggalkan wasiat wajibah, Ibnu Hazm Cs membatasi hanya pada cucu sebanyak bagian ayah atau ibunya apabila keduanya masih hidupdan tidak boleh lebih dari 1/3 harta (Ibrahim Husen, 1985:24). Sebagaimana yang diketahui dalam hukum waris bahwa menurut pendapat jumhur posisi cucu di hijab oleh anak pewaris sehingga cucu yang orang tuanya (ayah atau ibu) meninggal dunia dihijab oleh pamannya (saudara ayah atau ibu) sedangkan pendapat lain yang tidak mu’tamad, tetapi mencerminkan rasa keadilan berpendapat seseorang yang meninggalkan anak tidak putus hak kewarisan anak atas hak orang tuanya yang meninggal dunia lebih dahulu dari orang tuannya, tetapi tetap tersambung meneruskan juarinnya (keturunannya). Tetapi berbeda ketentuannya antara wasiat wajibat dengan ahli waris pengganti (plaatsvervangend erfgenaam). Wasiat wajibah maksimal mendapat 1/3 bagian berdasarkan hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh, bahkan menurut Ash-Shon’ani pengarang kitab Subulussalam para ulama sepakat membatasi wasiat 1/3. Kalaupun akan mewasiatkan hartanya lebih dari 1/3 harus seizin ahli waris. Tanpa seizin ahli waris wasiat lebih dari 1/3 batal demi hukum. Sedangkan porsi atau hak yang diperolehpada ahli waris pengganti tergantu pada posisi ahli waris yang diganti, mungkin pada posisi mendapat bagian lebih banyak atau pada posisi mendapat bagian lebih sedikit. Tetapi apabila memperhatikan ketentuan ahli waris pengganti dengan wasiat wajibah diukur dari rasa keadilan, maka menggunakan dasar ahli waris pengganti lebih adil dari pada berdasarkan berdasarkan wasiat wajibah. Tidak adil dirasakan dalam ketentuan fiqih, bahwa paman menghijab anak saudaranya yang mininggal lebih dahulu, padahal andaikan dia masih hidup tentu posisinya sama dengan saudaranya itu (paman dari anak-anaknya). Dengan dasar rasa keadilan sebagai jalan mewujudkan keadilan inilah ketentuan ahli waris pengganti yang bersifat ijtihadiyah menjadi ketentuan kewarisan yang diatur dalam pasal 185 KHI. Pelaksanaan Putusan Peradilan Agama Pemberian harta melalui hibah dan wasiat, baik kepada ahli waris maupun kerabat dan orang lain dapat melindungi hak yang bersangkutan dari ahli waris yang lain. Misalnya seorang suami yang telah bercerai dengan istrinya dan mempunyai anak keturunan. Kemudian suami kawin lagi dengan perempuan lain (istri yang kedua) dan mempunyai anak. Dalam kasus ini apabila suaminya meninggal tentu ada hak waris anak dari istri yang telah bercerai dengannya,sedangkan anaknya tersebut sebelumnya telah diberi harta ketika bercerai dari ibunya. Agar anak dari istri yang keduanya terlindungi dari pembagian waris yang akan mengurangi jumlah bagiannya (karena anak dari istri yang diceraikan masih berhak atas harta peninggalan ayahnya), maka melaui hibah ini suami dapat menghibahkan hartanya kepada anak dari istri yang keduanya tersebut, sehingga dengan demikian anak tersebut mendapat perlehan memadai. Selain dari itu sering terjadi dalam perkara perceraian, suami istri menghibahkan harta bersama misalna tanah berikut bangunan rumah diatasnya kepada salah satu pihak dari suami atau istri atau kepada anak-anaknya. Putusan Pengadilan Agama tentang hibah tersebut tentu perlu ditindaklanjuti oleh para pejabat yang diberi wewenang atau instansiterkait dengan persoalan benda tidak bergerak. Tetapi putusan ini sayangnya tidak serta merta dapat dilaksanakan, mengapa? Karena apabila akan dilakukan balik nama terhadap benda yang dihibahkan berdasarkan putusan Pengadilan Agama tersebut masih harus mensyaratkan menyertakan pihak penerima hibah dan pemberi hibah serta syarat-syarat administratif lainnya, misalnya KTP atau surat kuasa, karena pejabat atau instansi yang berangkutan terikat pada Peraturan Perundang-undangan tentang pertanahan atau hukum perjanjian. Kalau dikaji lebih lanjut penyelesaian perkara di Peradilan Agama dengan menggunakan hukum acara yang berlaku berdasarkan Pasal 54 UUPA sesungguhnya banyak tidak relevan dengan kaakteristik perkara yang menjadi wewenang Peradilan Agama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Salah satu contoh yang tidak relevan adalah ketentuan eksekusi yang diatur dalam HIR atau Rbg, karena ketentuan eksekusi yang diatur dalam HIR atau Rgb adalah menyangkut perkara sengketa milik, hutang piutang dan ganti rugi adalah dengan lelang, sdangkan perkara yang diselesaikan oleh Peradilan Agama sama sekali tidak menyentuh perkara sengketa milik, hutang piutang dan ganti rugi. Pelaksanaan putusan Pengadilan Agama dengan memperhatikan ciri-ciri eksekusi lelang, sesungguhnya tidak perlu dengan lelang dan memang tidak melalui lelang, tetapi putusan Pengadilan Agama ditindaklanjuti oleh instansi yang terkait dengan pokok perkara yang diputuskan oleh Pengadilan Agama. Masalahnya belum ada peraturan perundang-undangan atau setidak-tidaknya perlu SKB antara Mahkamah Agung RI sebagai penyelenggaraan kekuasaan kehakiman dan merupakan Pengadilan Negara tertinggi dari keempat lingkungan peradilan (UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman) dengan lembaga atau instansi pemerintah untuk menindaklanjuti putusan-putusan Pengadilan Agama. Putusan pengadilan deklarator, konstitutif maupun kondemnator pada asasnya melahirkan hukum baru terhadap peristiwa hukuhm yang diputuskan. Oleh karena itu mestinya dengan putusan Pengadilan Agama dalam perkara yang terkait dengan hibah atau harta kekayaan lainnya, instansi yang bersangkutan atau pejabat yang menangani harta kekayaan, misalnya Notaris, PPAT atau BPN terikat isi putusan pengadilan in casu Pengadilan Agama yang mempunyai kekuatan mengikat kepada para pihak dan pihak lain. Apabila putusan Pengadilan Agama dalam perkara hibah ini tidak mempunyai kekuatan mengikat kepada para pihak dan pihak lain, maka dapat saja yang bersangkutan mempersulit atau mengingkari putusan tersebut, bahkan mengesampingkan putusan. Wallahu A’lamu-showab.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-4892885517669368268?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/4892885517669368268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/hibah-dan-wasiat-kajian-kompilasi-hukum.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/4892885517669368268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/4892885517669368268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/hibah-dan-wasiat-kajian-kompilasi-hukum.html' title='Hibah Dan Wasiat (Kajian Kompilasi Hukum Islam, Fiqih Dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata)'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-3926508947360348530</id><published>2011-12-10T07:04:00.001-08:00</published><updated>2011-12-10T07:06:22.641-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih Munakahat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Waris'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Pengadilan Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Problematika Pembagian Harta Warisan Suami Menikah Lebih Dari Satu Kali (Studi Perbandingan Antara Hukum Islam Dengan Hukum Perdata BW)</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Bahwa dalam pembagian harta warisan baik itu menurut hukum Islam maupun hukum perdata BW, yang lebih diutamakan adalah orang yang mempunyai hubungan darah (nasab) dengan pewaris, sesuai dalam pasal 832 KUH perdata dan pasal 174 KHI serta dalam surat An-Nisa ayat 7. Maka isteri dan anak-anaknya sangatlah berperan dalam pembagian warisan. Dan pembagian warisan antara kedua hukum yaitu hukum waris Islam dan hukum waris perdata BW berbeda karena adanya perbedaan asas yang dipakai.Pembagian warisan untuk suami menikah lebih dari satu kali sering menimbulkan masalah yaitu apa yang menjadi problematika kewarisan suami menikah lebih dari satu kali, bagaimana pembagian harta warisan suami menikah lebih dari satu kali menurut hukum Islam dan hukum perdata BW.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Sedangkan tujuan yang ingin dicapai dari penulisan ini adalah :&lt;br /&gt;Untuk mengetahui problematika kewarisan suami menikah lebih dari satu kali.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui pembagian harta warisan suami menikah lebih dari satu kali menurut hukum Islam dan Hukum perdata BW.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Adapun metodelogi penulisan yang penulis gunakan ada tiga macam yaitu pertama pendekatan masalah yang berbentuk yuridis normatif, metodelogi yang kedua yaitu sumber data dan analisa data meliputi data sekunder penulis menggunakan study pustaka (library research) dan data hukum primer diantaranya dari bahan-bahan hukum yang mengikat yaitu al-quran dan hadist, KUHPerdata, KHI dan peraturan hukum lainnya. Dan yang terakhir teknik analisa data yang menggunakan analisa data deskriptif kualitatif.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Problematika kewarisan yang timbul dengan adanya praktek poligami yang tidak dicatat menurut peraturan perundang-undangan, karena bertentangan dengan ketentuan hukum Islam dan UU No. 1 Tahun 1974 pasal 2 ayat 2 mengatakan, yaitu apabila suami meninggal dunia, maka hak kewarisan isteri dan anak-anak yang ditinggalkan sebagai ahli waris menjadi hilang. Dan perkawinan tersebut secara hukum dianggap tidak pernah ada dan terjadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Menurut Hukum Islam bahwa akibat hukum kewarisan suami menikah lebih dari satu kali (poligami) secara legal, jika suami yang berpoligami tersebut meninggal dunia, maka pembagian harta bersama dalam perkawinannya adalah separuh harta bersama yang diperoleh dengan isteri pertama dan separuh harta bersama yang diperoleh dengan isteri kedua dan masing-masing terpisah dan tidak ada percampuran harta. Kecuali jika diadakan perjanjian khusus mengenai harta bersama tersebut, sebelum atau sesudah aqad perkawinan dilangsungkan, sebagaimana dinyatakan dalam pasal 45 Kompilasi Hukum Islam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Sedangkan pembagian harta warisan suami menikah lebih dari satu kali (poligami) menurut hukum Islam, sama besarnya antara isteri pertama dengan isteri kedua, ketiga dan keempat terhadap bagian masing-masing, asal mereka mempunyai anak, maka bagian isteri yang seharusnya 1/8, berhubung isterinya ada dua maka 1/8 dibagi 2 menjadi 1/16, sebaliknya berbeda jika salah satu isteri tidak mempunyai anak maka bagian isteri adalah 1/4, sedangkan bagian anak-anaknya baik dari isteri pertama, kedua, ketiga dan keempat, jika anak perempuan hanya seorang maka mendapat bagian 1/2 tetapi jika ada dua atau lebih maka mendapat bagian 2/3 tetapi jika anak perempuan bersama dengan anak laki-laki maka bagian anak laki-laki tersebut adalah dua banding satu (2:1).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Menurut hukum perdata BW bahwa dalam perkawinan untuk kedua kali atau selanjutnya, berlakulah demi hukum persatuan harta kekayaan secara bulat antara suami dan isteri kedua atau selanjutnya, selama dalam perjanjian perkawinan tidak diadakan ketentuan lain sesuai dalam pasal 180 KUHPerdata.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Sedangkan pembagian harta warisan suami menikah lebih dari satu kali menurut hukum perdata BW yaitu bagian untuk isteri dalam perkawinan yang kedua kali atau selanjutnya ialah tidak boleh lebih besar dari bagian anak-anaknya pada perkawinan pertama atau tidak boleh lebih besar dari ¼ yakni dibatasi dengan ¼ bagian saja. Sedangkan bagian anak-anaknya baik anak dari perkawinan pertama, kedua, atau selanjutnya yaitu sama dengan bagian isteri kedua yaitu dibatasi dengan ¼ bagian , dengan tidak membedakan jenis kelamin antara anak laki-laki maupun anak perempuan dan urutan kelahiran dari anak tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pada akhir penulisan ini ada beberapa saran yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan, dalam pembagian harta warisan khususnya harta bersama dalam perkawinan poligami terhadap para ahli warisnya, hendaknya dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku hal ini untuk mencegah adanya perselisihan antara para ahli waris yang ada&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Setahu saya, istri mendapat 1/4 atau 1/8 yang menjadi patokan adalah suami yang meninggal bukan istri. istri ada anak atau tidak baik istri pertama, kedua atau seterusnya tidak ada masalah, kalau suami yang meninggal ada anak maka istri semuanya sepakat mendapat 1/8 tidak akan berbeda mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-3926508947360348530?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/3926508947360348530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/problematika-pembagian-harta-warisan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/3926508947360348530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/3926508947360348530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/problematika-pembagian-harta-warisan.html' title='Problematika Pembagian Harta Warisan Suami Menikah Lebih Dari Satu Kali (Studi Perbandingan Antara Hukum Islam Dengan Hukum Perdata BW)'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-8962565306689610990</id><published>2011-12-10T05:06:00.000-08:00</published><updated>2011-12-10T05:09:13.885-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih Munakahat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Pengadilan Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Status Hukum Anak Hasil Perkawinan Campuran Berdasarkan Hukum Indonesia</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;BAB I&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;A. Latar belakang&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Perkawinan campuran telah merambah seluruh pelosok Tanah Air dan kelas masyarakat. Globalisasi informasi, ekonomi, pendidikan, dan transportasi telah menggugurkan stigma bahwa kawin campur adalah perkawinan antara ekspatriat kaya dan orang Indonesia.[2] Menurut survey yang dilakukan oleh Mixed Couple Club, jalur perkenalan yang membawa pasangan berbeda kewarganegaraan menikah antara lain adalah perkenalan melalui internet, kemudian bekas teman kerja/bisnis, berkenalan saat berlibur, bekas teman sekolah/kuliah, dan sahabat pena. Perkawinan campur juga terjadi pada tenaga kerja Indonesia dengan tenaga kerja dari negara lain.[3] Dengan banyak terjadinya perkawinan campur di Indonesia sudah seharusnya perlindungan hukum dalam perkawinan campuran ini diakomodir dengan baik dalam perundang-undangan di indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dalam perundang-undangan di Indonesia, perkawinan campuran didefinisikan dalam Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pasal 57 :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;”Yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Selama hampir setengah abad pengaturan kewarganegaraan dalam perkawinan campuran antara warga negara indonesia dengan warga negara asing, mengacu pada UU Kewarganegaraan No.62 Tahun 1958. Seiring berjalannya waktu UU ini dinilai tidak sanggup lagi mengakomodir kepentingan para pihak dalam perkawinan campuran, terutama perlindungan untuk istri dan anak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Barulah pada 11 Juli 2006, DPR mengesahkan Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru. Lahirnya undang-undang ini disambut gembira oleh sekelompok kaum ibu yang menikah dengan warga negara asing, walaupun pro dan kontra masih saja timbul, namun secara garis besar Undang-undang baru yang memperbolehkan dwi kewarganegaraan terbatas ini sudah memberikan pencerahan baru dalam mengatasi persoalan-persoalan yang lahir dari perkawinan campuran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Persoalan yang rentan dan sering timbul dalam perkawinan campuran adalah masalah kewarganegaraan anak. UU kewarganegaraan yang lama menganut prinsip kewarganegaraan tunggal, sehingga anak yang lahir dari perkawinan campuran hanya bisa memiliki satu kewarganegaraan, yang dalam UU tersebut ditentukan bahwa yang harus diikuti adalah kewarganegaraan ayahnya. Pengaturan ini menimbulkan persoalan apabila di kemudian hari perkawinan orang tua pecah, tentu ibu akan kesulitan mendapat pengasuhan anaknya yang warga negara asing.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;B. Identifikasi Masalah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dengan lahirnya UU Kewarganegaraan yang baru, sangat menarik untuk dikaji bagaimana pengaruh lahirnya UU ini terhadap status hukum anak dari perkawinan campuran, berikut komparasinya terhadap UU Kewarganegaraan yang lama. Secara garis besar perumusan masalah adalah sebagai berikut :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana pengaturan status hukum anak yang lahir dari perkawinan campuran sebelum dan sesudah lahirnya UU Kewarganegaraan yang baru?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah kewarganegaraan ganda ini akan menimbulkan masalah bagi anak?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;PEMBAHASAN&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;ANAK SEBAGAI SUBJEK HUKUM&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Definisi anak dalam pasal 1 angka 1 UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak adalah :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dalam hukum perdata, diketahui bahwa manusia memiliki status sebagai subjek hukum sejak ia dilahirkan. Pasal 2 KUHP memberi pengecualian bahwa anak yang masih dalam kandungan dapat menjadi subjek hukum apabila ada kepentingan yang menghendaki dan dilahirkan dalam keadaan hidup.[4] Manusia sebagai subjek hukum berarti manusia memiliki hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum. Namun tidak berarti semua manusia cakap bertindak dalam lalu lintas hukum. Orang-orang yang tidak memiliki kewenangan atau kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum diwakili oleh orang lain. Berdasarkan pasal 1330 KUHP, mereka yang digolongkan tidak cakap adalah mereka yang belum dewasa, wanita bersuami, dan mereka yang dibawah pengampuan. Dengan demikian anak dapat dikategorikan sebagai subjek hukum yang tidak cakap melakukan perbuatan hukum. Seseorang yang tidak cakap karena belum dewasa diwakili oleh orang tua atau walinya dalam melakukan perbuatan hukum. Anak yang lahir dari perkawinan campuran memiliki kemungkinan bahwa ayah ibunya memiliki kewarganegaraan yang berbeda sehingga tunduk pada dua yurisdiksi hukum yang berbeda. Berdasarkan UU Kewarganegaraan yang lama, anak hanya mengikuti kewarganegaraan ayahnya, namun berdasarkan UU Kewarganegaraan yang baru anak akan memiliki dua kewarganegaraan. Menarik untuk dikaji karena dengan kewarganegaraan ganda tersebut, maka anak akan tunduk pada dua yurisdiksi hukum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;PENGATURAN MENGENAI ANAK DALAM PERKAWINAN CAMPURAN &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menurut Teori Hukum Perdata Internasional&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Menurut teori hukum perdata internasional, untuk menentukan status anak dan hubungan antara anak dan orang tua, perlu dilihat dahulu perkawinan orang tuanya sebagai persoalan pendahuluan[5], apakah perkawinan orang tuanya sah sehingga anak memiliki hubungan hukum dengan ayahnya, atau perkawinan tersebut tidak sah, sehingga anak dianggap sebagai anak luar nikah yang hanya memiliki hubungan hukum dengan ibunya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sejak dahulu diakui bahwa soal keturunan termasuk status personal[6]. Negara-negara common law berpegang pada prinsip domisili (ius soli) sedangkan negara-negara civil law berpegang pada prinsip nasionalitas (ius sanguinis).[7] Umumnya yang dipakai ialah hukum personal dari sang ayah sebagai kepala keluarga (pater familias) pada masalah-masalah keturunan secara sah. Hal ini adalah demi kesatuan hukum dalam keluarga dan demi kepentingan kekeluargaan, demi stabilitas dan kehormatan dari seorang istri dan hak-hak maritalnya.[8] Sistem kewarganegaraan dari ayah adalah yang terbanyak dipergunakan di negara-negara lain, seperti misalnya Jerman, Yunani, Italia, Swiss dan kelompok negara-negara sosialis.[9]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dalam sistem hukum Indonesia, Prof.Sudargo Gautama menyatakan kecondongannya pada sistem hukum dari ayah demi kesatuan hukum dalam keluarga, bahwa semua anak–anak dalam keluarga itu sepanjang mengenai kekuasaan tertentu orang tua terhadap anak mereka (ouderlijke macht) tunduk pada hukum yang sama. Kecondongan ini sesuai dengan prinsip dalam UU Kewarganegaraan No.62 tahun 1958.[10]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kecondongan pada sistem hukum ayah demi kesatuan hukum, memiliki tujuan yang baik yaitu kesatuan dalam keluarga, namun dalam hal kewarganegaraan ibu berbeda dari ayah, lalu terjadi perpecahan dalam perkawinan tersebut maka akan sulit bagi ibu untuk mengasuh dan membesarkan anak-anaknya yang berbeda kewarganegaraan, terutama bila anak-anak tersebut masih dibawah umur&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Menurut UU Kewarganegaraan No.62 Tahun 1958&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;1. Permasalahan dalam perkawinan campuran&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ada dua bentuk perkawinan campuran dan permasalahannya:&lt;br /&gt;Pria Warga Negara Asing (WNA) menikah dengan Wanita Warga Negara Indonesia (WNI)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Berdasarkan pasal 8 UU No.62 tahun 1958, seorang perempuan warga negara Indonesia yang kawin dengan seorang asing bisa kehilangan kewarganegaraannya, apabila selama waktu satu tahun ia menyatakan keterangan untuk itu, kecuali apabila dengan kehilangan kewarganegaraan tersebut, ia menjadi tanpa kewarganegaraan. Apabila suami WNA bila ingin memperoleh kewarganegaraan Indonesia maka harus memenuhi persyaratan yang ditentukan bagi WNA biasa.[11] Karena sulitnya mendapat ijin tinggal di Indonesia bagi laki laki WNA sementara istri WNI tidak bisa meninggalkan Indonesia karena satu dan lain hal( faktor bahasa, budaya, keluarga besar, pekerjaan pendidikan,dll) maka banyak pasangan seperti terpaksa hidup dalam keterpisahan.[12]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Wanita Warga Negara Asing (WNA) yang menikah dengan Pria Warga Negara Indonesia (WNI)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Indonesia menganut azas kewarganegaraan tunggal sehingga berdasarkan pasal 7 UU No.62 Tahun 1958 apabila seorang perempuan WNA menikah dengan pria WNI, ia dapat memperoleh kewarganegaraan Indonesia tapi pada saat yang sama ia juga harus kehilangan kewarganegaraan asalnya. Permohonan untuk menjadi WNI pun harus dilakukan maksimal dalam waktu satu tahun setelah pernikahan, bila masa itu terlewati , maka pemohonan untuk menjadi WNI harus mengikuti persyaratan yang berlaku bagi WNA biasa.[13] Untuk dapat tinggal di Indonesia perempuan WNA ini mendapat sponsor suami dan dapat memperoleh izin tinggal yang harus diperpanjang setiap tahun dan memerlukan biaya serta waktu untuk pengurusannya. Bila suami meninggal maka ia akan kehilangan sponsor dan otomatis keberadaannya di Indonesia menjadi tidak jelas Setiap kali melakukan perjalanan keluar negri memerlukan reentry permit yang permohonannya harus disetujui suami sebagai sponsor.[14] Bila suami meninggal tanah hak milik yang diwariskan suami harus segera dialihkan dalam waktu satu tahun.[15] Seorang wanita WNA tidak dapat bekerja kecuali dengan sponsor perusahaan. Bila dengan sponsor suami hanya dapat bekerja sebagai tenaga sukarela. Artinya sebagai istri/ibu dari WNI, perempuan ini kehilangan hak berkontribusi pada pendapatan rumah tangga.&lt;br /&gt;2. Anak hasil perkawinan campuran&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Indonesia menganut asas kewarganegaraan tunggal, dimana kewarganegaraan anak mengikuti ayah, sesuai pasal 13 ayat (1) UU No.62 Tahun 1958 :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Anak yang belum berumur 18 tahun dan belum kawin yang mempunyai hubungan hukum kekeluargaan dengan ayahnya sebelum ayah itu memperoleh kewarga-negaraan Republik Indonesia, turut memperoleh kewarga-negaraan Republik Indonesia setelah ia bertempat tinggal dan berada di Indonesia. Keterangan tentang bertempat tinggal dan berada di Indonesia itu tidak berlaku terhadap anak-anak yang karena ayahnya memperoleh kewarga-negaraan Republik Indonesia menjadi tanpa kewarga-negaraan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dalam ketentuan UU kewarganegaraan ini, anak yang lahir dari perkawinan campuran bisa menjadi warganegara Indonesia dan bisa menjadi warganegara asing :&lt;br /&gt;Menjadi warganegara Indonesia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Apabila anak tersebut lahir dari perkawinan antara seorang wanita warga negara asing dengan pria warganegara Indonesia (pasal 1 huruf b UU No.62 Tahun 1958), maka kewarganegaraan anak mengikuti ayahnya, kalaupun Ibu dapat memberikan kewarganegaraannya, si anak terpaksa harus kehilangan kewarganegaraan Indonesianya.[16] Bila suami meninggal dunia dan anak anak masih dibawah umur tidak jelas apakah istri dapat menjadi wali bagi anak anak nya yang menjadi WNI di Indonesia. Bila suami (yang berstatus pegawai negeri)meningggal tidak jelas apakah istri (WNA) dapat memperoleh pensiun suami.[17]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menjadi warganegara asing.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Apabila anak tersebut lahir dari perkawinan antara seorang wanita warganegara Indonesia dengan warganegara asing.[18] Anak tersebut sejak lahirnya dianggap sebagai warga negara asing sehingga harus dibuatkan Paspor di Kedutaan Besar Ayahnya, dan dibuatkan kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) yang harus terus diperpanjang dan biaya pengurusannya tidak murah. Dalam hal terjadi perceraian, akan sulit bagi ibu untuk mengasuh anaknya, walaupun pada pasal 3 UU No.62 tahun 1958 dimungkinkan bagi seorang ibu WNI yang bercerai untuk memohon kewarganegaraan Indonesia bagi anaknya yang masih di bawah umur dan berada dibawah pengasuhannya, namun dalam praktek hal ini sulit dilakukan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Masih terkait dengan kewarganegaraan anak, dalam UU No.62 Tahun 1958, hilangnya kewarganegaraan ayah juga mengakibatkan hilangnya kewarganegaraan anak-anaknya yang memiliki hubungan hukum dengannya dan belum dewasa (belum berusia 18 tahun atau belum menikah). Hilangnya kewarganegaraan ibu, juga mengakibatkan kewarganegaraan anak yang belum dewasa (belum berusia 18 tahun/ belum menikah) menjadi hilang (apabila anak tersebut tidak memiliki hubungan hukum dengan ayahnya).[19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut UU Kewarganegaraan Baru Pengaturan Mengenai Anak Hasil Perkawinan Campuran&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Undang-Undang kewarganegaraan yang baru memuat asas-asas kewarganegaraan umum atau universal. Adapun asas-asas yang dianut dalam Undang-Undang ini sebagai berikut:[20]&lt;br /&gt;- Asas ius sanguinis (law of the blood) adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan, bukan berdasarkan negara tempat kelahiran.&lt;br /&gt;- Asas ius soli (law of the soil) secara terbatas adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan negara tempat kelahiran, yang diberlakukan terbatas bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;- Asas kewarganegaraan tunggal adalah asas yang menentukan satu kewarganegaraan bagi setiap orang&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;- Asas kewarganegaraan ganda terbatas adalah asas yang menentukan kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Undang-Undang ini pada dasarnya tidak mengenal kewarganegaraan ganda (bipatride) ataupun tanpa kewarganegaraan (apatride). Kewarganegaraan ganda yang diberikan kepada anak dalam Undang-Undang ini merupakan suatu pengecualian.[21]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Mengenai hilangnya kewarganegaraan anak, maka hilangnya kewarganegaraan ayah atau ibu (apabila anak tersebut tidak punya hubungan hukum dengan ayahnya) tidak secara otomatis menyebabkan kewarganegaraan anak menjadi hilang.[22]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kewarganegaraan Ganda Pada Anak Hasil Perkawinan Campuran&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Berdasarkan UU ini anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNI dengan pria WNA, maupun anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNA dengan pria WNI, sama-sama diakui sebagai warga negara Indonesia.[23]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Anak tersebut akan berkewarganegaraan ganda , dan setelah anak berusia 18 tahun atau sudah kawin maka ia harus menentukan pilihannya.[24] Pernyataan untuk memilih tersebut harus disampaikan paling lambat 3 (tiga) tahun setelah anak berusia 18 tahun atau setelah kawin.[25]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Pemberian kewarganegaraan ganda ini merupakan terobosan baru yang positif bagi anak-anak hasil dari perkawinan campuran. Namun perlu ditelaah, apakah pemberian kewaranegaraan ini akan menimbulkan permasalahan baru di kemudian hari atau tidak. Memiliki kewarganegaraan ganda berarti tunduk pada dua yurisdiksi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Indonesia memiliki sistem hukum perdata internasional peninggalan Hindia Belanda. Dalam hal status personal indonesia menganut asas konkordasi, yang antaranya tercantum dalam Pasal 16 A.B. (mengikuti pasal 6 AB Belanda, yang disalin lagi dari pasal 3 Code Civil Perancis). Berdasarkan pasal 16 AB tersebut dianut prinsip nasionalitas untuk status personal. Hal ini berati warga negara indonesia yang berada di luar negeri, sepanjang mengenai hal-hal yang terkait dengan status personalnya , tetap berada di bawah lingkungan kekuasaan hukum nasional indonesia, sebaliknya, menurut jurisprudensi, maka orang-orang asing yang berada dalam wilayah Republik indonesia dipergunakan juga hukum nasional mereka sepanjang hal tersebut masuk dalam bidang status personal mereka.[26] Dalam jurisprudensi indonesia yang termasuk status personal antara lain perceraian, pembatalan perkawinan, perwalian anak-anak, wewenang hukum, dan kewenangan melakukan perbuatan hukum, soal nama, soal status anak-anak yang dibawah umur.[27]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Bila dikaji dari segi hukum perdata internasional, kewarganegaraan ganda juga memiliki potensi masalah, misalnya dalam hal penentuan status personal yang didasarkan pada asas nasionalitas, maka seorang anak berarti akan tunduk pada ketentuan negara nasionalnya. Bila ketentuan antara hukum negara yang satu dengan yang lain tidak bertentangan maka tidak ada masalah, namun bagaimana bila ada pertentangan antara hukum negara yang satu dengan yang lain, lalu pengaturan status personal anak itu akan mengikuti kaidah negara yang mana. Lalu bagaimana bila ketentuan yang satu melanggar asas ketertiban umum[28] pada ketentuan negara yang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sebagai contoh adalah dalam hal perkawinan, menurut hukum Indonesia, terdapat syarat materil dan formil yang perlu dipenuhi. Ketika seorang anak yang belum berusia 18 tahun hendak menikah[29] maka harus memuhi kedua syarat tersebut. Syarat materil[30] harus mengikuti hukum Indonesia sedangkan syarat formil[31] mengikuti hukum tempat perkawinan dilangsungkan. Misalkan anak tersebut hendak menikahi pamannya sendiri (hubungan darah garis lurus ke atas), berdasarkan syarat materiil hukum Indonesia hal tersebut dilarang (pasal 8 UU No.1 tahun 1974), namun berdasarkan hukum dari negara pemberi kewarganegaraan yang lain, hal tersebut diizinkan, lalu ketentuan mana yang harus diikutinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Hal tersebut yang tampaknya perlu dipikirkan dan dikaji oleh para ahli hukum perdata internasional sehubungan dengan kewarganegaraan ganda ini. Penulis berpendapat karena undang-undang kewarganegaraan ini masih baru maka potensi masalah yang bisa timbul dari masalah kewarganegaraan ganda ini belum menjadi kajian para ahli hukum perdata internasional.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kritisi terhadap UU Kewarganegaraan yang baru&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Walaupun banyak menuai pujian, lahirnya UU baru ini juga masih menuai kritik dari berbagai pihak. Salah satu pujian sekaligus kritik yang terkait dengan status kewarganegaraan anak perkawinan campuran datang dari KPC Melati (organisasi para istri warga negara asing).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Ketua KPC Melati Enggi Holt mengatakan, Undang-Undang Kewarganegaraan menjamin kewarganegaraan anak hasil perkawinan antar bangsa. Enggi memuji kerja DPR yang mengakomodasi prinsip dwi kewarganegaraan, seperti mereka usulkan, dan menilai masuknya prinsip ini ke UU yang baru merupakan langkah maju. Sebab selama ini, anak hasil perkawinan campur selalu mengikuti kewarganegaraan bapak mereka. Hanya saja KPC Melati menyayangkan aturan warga negara ganda bagi anak hasil perkawinan campur hanya terbatas hingga si anak berusia 18 tahun. Padahal KPC Melati berharap aturan tersebut bisa berlaku sepanjang hayat si anak.[32]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Penulis kurang setuju dengan kritik yang disampaikan oleh KPC Melati tersebut. Menurut hemat penulis, kewarganegaraan ganda sepanjang hayat akan menimbulkan kerancuan dalam menentukan hukum yang mengatur status personal seseorang. Karena begitu seseorang mencapat taraf dewasa, ia akan banyak melakukan perbuatan hukum, dimana dalam setiap perbuatan hukum tersebut, untuk hal-hal yang terkait dengan status personalnya akan diatur dengan hukum nasionalnya, maka akan membingungkan bila hukum nasional nya ada dua, apalagi bila hukum yang satu bertentangan dengan hukum yang lain. Sebagai contoh dapat dianalogikan sebagai berikut :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;“Joko, pemegang kewarganegaraan ganda, Indonesia dan Belanda, ia hendak melakukan pernikahan sesama jenis. Menurut hukum Indonesia hal tersebut dilarang dan melanggar ketertiban hukum, sedangkan menurut hukum Belanda hal tersebut diperbolehkan. Maka akan timbul kerancuan hukum mana yang harus diikutinya dalam hal pemenuhan syarat materiil perkawinan khususnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Terkait dengan persoalan status anak, penulis cenderung mengkritisi pasal 6 UU Kewarganegaraan yang baru, dimana anak diizinkan memilih kewarganegaraan setelah berusia 18 tahun atau sudah menikah. Bagaimana bila anak tersebut perlu sekali melakukan pemilihan kewarganegaraan sebelum menikah, karena sangat terkait dengan penentuan hukum untuk status personalnya, karena pengaturan perkawinan menurut ketentuan negara yang satu ternyata bertentangan dengan ketentuan negara yang lain. Seharusnya bila memang pernikahan itu membutuhkan suatu penentuan status personal yang jelas, maka anak diperbolehkan untuk memilih kewarganegaraannya sebelum pernikahan itu dilangsungkan. Hal ini penting untuk mengindari penyelundupan hukum, dan menghindari terjadinya pelanggaran ketertiban umum yang berlaku di suatu negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;BABIII&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;KESIMPULAN&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Anak adalah subjek hukum yang belum cakap melakukan perbuatan hukum sendiri sehingga harus dibantu oleh orang tua atau walinya yang memiliki kecakapan. Pengaturan status hukum anak hasil perkawinan campuran dalam UU Kewarganegaraan yang baru, memberi pencerahan yang positif, terutama dalam hubungan anak dengan ibunya, karena UU baru ini mengizinkan kewarganegaraan ganda terbatas untuk anak hasil perkawinan campuran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;UU Kewarganegaraan yang baru ini menuai pujian dan juga kritik, termasuk terkait dengan status anak. Penulis juga menganalogikan sejumlah potensi masalah yang bisa timbul dari kewarganegaraan ganda pada anak. Seiring berkembangnya zaman dan sistem hukum, UU Kewarganegaraan yang baru ini penerapannya semoga dapat terus dikritisi oleh para ahli hukum perdata internasional, terutama untuk mengantisipasi potensi masalah.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-8962565306689610990?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/8962565306689610990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/status-hukum-anak-hasil-perkawinan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/8962565306689610990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/8962565306689610990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/status-hukum-anak-hasil-perkawinan.html' title='Status Hukum Anak Hasil Perkawinan Campuran Berdasarkan Hukum Indonesia'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-4385412681276223507</id><published>2011-12-10T01:18:00.000-08:00</published><updated>2011-12-10T01:22:41.980-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Waris'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Pengadilan Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Perdebatan Pengertian Walad Dalam Kewarisan Islam</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Perdebatan menghijab atau tidak keberadaan anak perempuan terhadap saudara kandung pewaris untuk memperoleh bahagian harta warisan adalah berangkat dari substansi pengertian kata walad sebagaimana yang disebutkan oleh Qur’an Surat an- Nisa ayat 176.Dalam bidang kewarisan pendapat yang popular di kalangan para ahli hukum Islam adalah anak perempuan tidak menghijab atau menghalangi saudara kandung dari pewaris untuk memperoleh harta warisan.Al-Qurtubi dalam tafsirnya al-Jami’ li Ahkam al-Quran menjelaskan Jumhur Ulama berpendapat bahwa anak perempuan tidak menjadi penghalang bagi saudara laki-laki si pewaris untuk mendapat harta warisan, sedangkan anak laki-laki pewaris dianggap menjadi penghalang bagi saudara laki-laki si pewaris untuk mendapat harta waris, alasannya adalah &lt;strong&gt;ayat 176 an-Nisa &lt;/strong&gt;yang artinya “ Mereka akan minta fatwa kepadamu. Katakanlah : Allah member fatwa kepadamu&lt;strong&gt; tentang kalalah, yaitu laki-laki mati (padahal) tidak ada baginya walad (anak) tetapi ada baginya seorang saudara perempuan, maka saudara perempuan ini dapat separoh dari apa yang ia tinggalkan dan saudara laki-laki itu jadi warisnya pula jika tidak ada baginya walad (anak).&lt;/strong&gt;Jika saudara perempuan dua orang maka mereka berdua dapat dua pertiga dari apa yang ia tinggalkan dan jika mereka itu adalah laki-laki dan perempuan, maka yang laki –laki dapat bagian dua bahagian perempuan”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa jika seseorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak, maka baik saudara laki-laki maupun sudara perempuan dari yang meninggal itu mendapat bahagian dari harta peninggalan si mayit.&lt;span style="color: black; background: none repeat scroll 0% 0% white;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Berdasarkan argumentum a contrario atau&lt;/em&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black; background: none repeat scroll 0% 0% white;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mafhum mukhalafah dari ayat tersebut menunjukan “bahwa jika seseorang meninggal dunia dan mempunyai anak (walad) maka saudara kandung dari si mayit terhijab untuk mendapatkan bagian harta peninggalan si mayit.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sekarang persoalannya adalah apa yang dimaksud dengan kata walad (anak) dalam ayat tersebut yang menghijab bagi saudara kandung si pewaris untuk memperoleh harta waris ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menurut Jumhur Ulama&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; bahwa yang dimaksud dengan &lt;strong&gt;walad (anak) dalam ayat tersebut adalah khusus anak laki-laki, dalam arti tidak mencakup anak perempuan&lt;/strong&gt;.Dengan demikian keberadaan anak perempuan tidak menghijab saudara kandung si pewaris, sehingga masing-masing dari mereka mendapat bahagian dari harta peninggalan si mayit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berbeda dengan pendapat Jumhur tersebut diatas,&lt;strong&gt; Ibnu Abbas menafsirkan bahwa kata walad dalam ayat 176 surat an-Nisa adalah mencakup anak laki-laki dan anak perempuan&lt;/strong&gt; alasanya antara lain adalah &lt;strong&gt;kata walad dan yang seakar dengannya dipakai dalam al-Qur’an bukan saja untuk anak laki-laki saja tetapi juga untuk anak perempuan&lt;/strong&gt;.Misalnya dalam &lt;strong&gt;ayat 11 surat an-Nisa Allah berfirman dengan memakai kata awlad ( jama’ dari walad) yang &lt;/strong&gt;artinya “ Allah wajibkan kamu tentang awlad (anak-anak kamu) buat seorang anak laki-laki adalah seperti bahagian dua anak perempuan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kata awlad dalam ayat tersebut mencakup anak laki-laki dan anak perempuan.Sejalan dengan pengertian tersebut, maka kata walad dalam ayat 176 surat an-Nisa tersebut diatas juga mencakup anak laki-laki dan anak perempuan.Menurut pendapat ini, baik anak laki-laki maupun anak perempuan masing-masing menghijab atau menghalangi saudara kandung si pewaris untuk mendapatkan bahagian harta peninggalan.Dan pendapat inilah yang sekarang dipegangi oleh Mahkamah Agung dengan putusan-putusanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-4385412681276223507?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/4385412681276223507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/perdebatan-pengertian-walad-dalam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/4385412681276223507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/4385412681276223507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/perdebatan-pengertian-walad-dalam.html' title='Perdebatan Pengertian Walad Dalam Kewarisan Islam'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-2051202476960845263</id><published>2011-12-10T01:10:00.000-08:00</published><updated>2011-12-10T01:15:25.975-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Pengadilan Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Pengesahan (Itsbat) Pengangkatan Anak</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sejak diundangkan UU No. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama pada tanggal 20 Maret 2006, Pengadilan Agama secara yuridis formal baru memiliki kewenangan untuk memeriksa dan mengadili permohonan pengangkatan anak sesuai dengan hukum Islam (Penjelasan UU No. 3 Tahun 2006 angka 37 Pasal 49 huruf a nomor 20). Sementara sebelum lahirnya UU Nomor 3 Tahun 2006, perkara permohonan pengangkatan anak hanya menjadi kewenangan Pengadilan Negeri. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebelum lahirnya UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang mengatur tentang pengangkatan anak, yaitu Pasal 39, 40, dan 41, hukum pengangkatan anak yang digunakan oleh Pengadilan Negeri bersumber dari hukum perdata barat yang akibat hukumnya bertentangan dengan hukum Islam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pengangkatan anak dalam istilah hukum perdata barat disebut adopsi. Sumber hukum adopsi adalah Staatsblad Tahun 1917 Nomor 129 tanggal 29 Maret 1917, yang merupakan satu-satunya pelengkap bagi BW yang memang tidak mengenal masalah adopsi. BW hanya mengatur masalah adopsi atau pengangkatan anak luar kawin. Yang perlu dicatat adalah bahwa adopsi yang diatur dalam ketentuan Staatsblad tersebut adalah hanya berlaku bagi masyarakat Tionghoa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketentuan tentang pengangkatan anak sebagaimana diatur dalam Staatsblad Nomor 129 Tahun 1917 Pasal 5 s.d 15 antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;a. Suami istri atau duda yang tidak mempunyai anak laki-laki yang sah dalam garis laki-laki baik keturunan dari kelahiran atau keturunan karena pengangkatan. Orang demikian diperbolehkan mengangkat anak laki-laki sebagai anaknya;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;b. Seorang janda (cerai mati) yang tidak mempunyai anak laki-laki dan tidak dilarang oleh bekas suaminya dengan suatu wasiyat; (Pasal 5 )&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;c. Yang boleh diangkat adalah anak Tionghoa laki-laki yang tidak beristri dan tidak beranak dan tidak sedang dalam status diangkat oleh orang lain. (Pasal 6)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;d. Usia yang diangkat harus 18 tahun lebih muda dari suami dan 15 tahun lebih muda dari istri; (Pasal 7 ayat 1)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;e. Adopsi harus dilakukan atas kata sepakat;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;f. Pengangkatan anak harus dilakukan dengan akta notaris; (Pasal 10)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;g. Pengangkatan terhadap anak perempuan dan pengangkatan dengan cara tidak membuat akta otentik batal demi hukum ( Pasal 15 ayat 2 ). Di samping itu, adopsi atas tuntutan oleh pihak yang berkepentingan juga dapat dinyatakan batal;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;h. Suatu adopsi tidak dapat dibatalkan dengan kesepakatan para pihak ( Pasal 15 ayat 1 ). Pasal tersebut merupakan penyimpangan dari ketentuan Pasal 1338 ayat (2) KUH Perdata ( BW ) yang menyatakan bahwa suatu perjanjian yang dibuat secara sah dapat dibatalkan dengan sepakat para pihak yang membuat perjanjian yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;i. Secara yuridis formal, motif tidak ada ketentuannya. Akan tetapi, secara kultural motif pengangkatan anak dalam sistem adat Tionghoa agar dapat meneruskan keturunan, agar dapat menerima abu leluhur, dan sebagai pancingan agar dapat memperoleh keturunan laki-laki.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;j. Akibat hukum pengangkatan anak tersebut, antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;1) Pasal 12 memberikan ketentuan, bahwa adopsi menyebabkan anak angkat tersebut berkedudukan sama dengan anak sah dari perkawinan orang tua yang mengangkatnya. Termasuk, jika yang mengangkat anak tersebut seorang janda, anak angkat (adoptandus) tersebut harus dianggap dari hasil perkawinan dengan almarhum suaminya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;2) Adopsi menghapus semua hubungan kekeluargaan dengan keluarga asal, kecuali dalam hal:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;a) Penderajatan kekeluargaan sedarah dan semenda dalam bidang perkawinan;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;b) Ketentuan pidana yang didasarkan atas keturunan;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;c) Mengenai perhitungan biaya perkaradan penyanderaan;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;d) Mengenai pembuktian dengan saksi;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;e) Mengenai saksi dalam pembuatan akta autentik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;3) Oleh karena akibat hukum adopsi menyebabkan hubungan kekeluargaan dengan keluarga asalnya menjadi hapus, maka hal ini berakibat juga pada hukum waris, yaitu: anak angkat tidak lagi mewaris dari keluarga sedarah asalnya, sebaliknya sekarang mewaris dari keluarga ayah dan ibu yang mengadopsi dirinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketentuan-ketentuan asal mengenai adopsi tersebut kini memang tidak berlaku secara konsisten. Seiring dengan perkembanagan zaman pelaksanaannya pun mengalami perubahan. Menurut J. Satrio setidaknya ada dua perubahan mendasar dari penerapan ketentuan adopsi tersebut, yaitu: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;a. Keberlakuan Staatsblad nomor 129 tahun 1917 kini tidak lagi berlaku bagi golongan Tionghoa;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;b. Anak yang diangkat tidak hanya anak laki-laki saja tetapi juga anak perempuan. (Satrio, 2000: 245)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sementara menurut hukum Islam, pengangkatan anak tidak dapat menyebabkan hubungan nasab antara anak angkat dengan orang tua angkat, dan tidak memutuskan hubungan nasab antara anak angkat dengan orang tua kandungnya. Dalam sejarah, &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rasulullah saw pernah mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai anak angkat beliau. Sesuai dengan tradisi yang berlaku di masyarakat Arab pada saat itu, maka beliau menganggap Zaid sebagai anak kandung dan memanggilnya dengan nama Zaid bin Muhammad. Kemudian Al-Qur’an menanamkan nilai-nilai, bahwa pengangkatan anak tidak dapat menyebabkan hubungan nasab anak angkat dengan orangtua angkat, sehingga tidak ada larangan untuk menikahi bekas istri anak angkat (Q.S. Al-Ahzab (33): 4-5; 37). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kondisi yang demikian ini mengakibatkan orang-orang Islam tidak terjamin hak-hak sipilnya dalam melakukan pengangkatan anak sesuai dengan hukum Islam sebelum lahirnya UU Nomor 3 Tahun 2006. Akibatnya, banyak di antara orang-orang Islam yang melakukan pengangkatan anak di luar pengadilan sesuai dengan hukum Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebelum lahirnya UU Nomor 3 Tahun 2006, sebenarnya telah lahir UU Nomor 23 Tahun 2002, dalam mana terdapat pasal-pasal yang mengatur tentang pengangkatan anak, yang sesuai dengan hukum Islam. Dalam Pasal 39 ayat (2) diatur bahwa pengangkatan anak tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dan orang tua kandungnya. Kemudian dalam ayat (3) diatur bahwa calon orang tua angkat harus seagama dengan agama yang dianut oleh calon anak angkat. Namun demikian, Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak baru diundangkan pada 3 Oktober 2007, yaitu melalui PP Nomor 54 Tahun 2007. Sebelum lahirnya UU Nomor 23 Tahun 2002, Mahkamah Agung telah mengeluarkan beberapa aturan terkait pengangkatan anak, di antaranya SEMA No. 2 Tahun 1979 dan SEMA No. 6 Tahun 1983. Sedangkan setelah lahirnya UU No. 23 Tahun 2002, Mahkamah Agung mengeluarkan SEMA No. 3 Tahun 2005 dan SEMA No. 2 Tahun 2009. Namun demikian, SEMA yang dikeluarkan sebelum lahirnya UU No. 23 Tahun 2002 juga tidak mengatur tentang akibat hukum pengangkatan anak yang sesuai dengan hukum Islam. Akibatnya, banyak di kalangan orang-orang Islam yang melakukan pengangkatan anak di luar pengadilan sesuai dengan hukum Islam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Praktek-praktek pengangkatan anak yang dilakukan oleh orang-orang Islam di luar pengadilan tersebut dalam perkembangannya memerlukan perlindungan hukum dan kepastian hukum untuk menjamin hak-hak yang timbul akibat pengangkatan anak. Oleh karena itu, perkara itsbat (pengesahan) pengangkatan anak yang dilakukan oleh orang-orang Islam sebelum lahirnya UU Nomor 3 Tahun 2006, perlu diakomodir oleh Pengadilan Agama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Persoalannya kemudian adalah ke mana permohonan pengesahan (&lt;em&gt;itsbat&lt;/em&gt;) pengangkatan anak diajukan dan hal-hal apa saja yang perlu diperiksa dalam perkara permohonan itsbat pengangkatan anak?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Terkait dengan masalah pengangkatan anak, terdapat beberapa aturan hukum yang perlu diperhatikan, di antaranya adalah SEMA No. 2 Tahun 1979, &lt;/span&gt;UU Nomor 4 tahun 1979, &lt;span style="" lang="IN"&gt;SEMA No. 6 Tahun 1983, &lt;/span&gt;Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 41/HUK/KEP/VII/1984, &lt;span style="" lang="IN"&gt;UU No. 23 Tahun 2002, SEMA No. 3 Tahun 2005, UU No. 12 Tahun 2006, PP No. 54 tahun 2007, dan SEMA No. 2 Tahun 2009. Dari berbagai aturan tersebut harus dipilah mana yang masih berlaku setelah lahirnya PP Nomor 54 Tahun 2007, dan mana yang tidak bertentangan dengan prinsip hukum Islam dalam pengangkatan anak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Permohonan pengesahan (&lt;em&gt;itsbat&lt;/em&gt;) pengangkatan anak ini diajukan ke Pengadilan Agama yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal/domisili anak yang diangkat. Domisili anak tersebut dijelaskan dalam lampiran SEMA Nomor 6 Tahun 1983 angka IV sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Domisili anak mengikuti domisili orang tuanya&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Anak yang orang tuanya bercerai mengikuti kediaman walinya.      Karena perceraian dalam Islam tidak menyebabkan hilangnya kekuasaan orang      tua atas anak, maka bagi anak yang orang tuanya bercerai mengikuti orang      tua yang memiliki hak asuh anak, atau orang tua yang mengasuh anak      tersebut.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Anak di luar nikah mengikuti tempat tinggal/tempat kediaman      ibunya.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;Anak yang dibesarkan oleh selain orang tuanya mengikuti      domisili yang sehari-hari merawat anak tersebut.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pemeriksaan terhadap perkara permohonan itsbat pengangkatan anak lebih menekankan pada terjadinya peristiwa pengangkatan anak, baik kapan peristiwa itu terjadi, apa status anak angkat pada saat itu, berapa umur dan apa agama anak angkat pada saat itu, berapa umur dan apa agama orang tua angkat pada saat itu, bagaimana kondisi orang tua kandung pada saat itu, bagaimana kondisi orang tua angkat pada saat itu, apakah ada persetujuan dari orang tua kandung, apa motif orang tua kandung memberikan persetujuan pengangkatan anak pada saat itu, apa motif orang tua angkat melakukan pengangkatan anak pada saat itu, di mana peristiwa pengangkatan anak itu terjadi, bagaimana kondisi anak angkat selama ini, dan bagaimana hubungan antara anak angkat dengan orang tua angkat selama ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perlu dicatat bahwa dengan penetapan pengadilan tentang itsbat pengangkatan anak, maka hak-hak yang timbul akibat pengangkatan anak menjadi memiliki kekuatan hukum, seperti hak untuk mendapatkan bagian harta peninggalan maksimal 1/3 dari jumlah harta peninggalan melalui wasiat wajibah, baik bagi anak angkat maupun bapak angkat. Oleh karena itu, hakim harus lebih berhati-hati dalam memeriksa perkara ini untuk menghindari adanya upaya penyelundupan hukum yang hanya berorientasi untuk memperoleh bagian harta peninggalan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Adapun amar penetapan istbat pengangkatan anak dapat dirumuskan sebagai berikut “Menyatakan sah pengangkatan anak yang dilakukan oleh Pemohon bernama……bin/binti…....., alamat…………terhadap anak laki-laki/perempuan bernama…………bin/binti..........., umur…………di................. pada..........................”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-2051202476960845263?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/2051202476960845263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/pengesahan-itsbat-pengangkatan-anak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/2051202476960845263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/2051202476960845263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/pengesahan-itsbat-pengangkatan-anak.html' title='Pengesahan (Itsbat) Pengangkatan Anak'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-2247495720364123017</id><published>2011-12-10T01:01:00.000-08:00</published><updated>2011-12-10T01:06:02.630-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih Munakahat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Pengadilan Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Problematika Nikah Sirri Dalam Perspektif Hukum Positif Di Indonesia</title><content type='html'>&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Oleh : Jasmani Muzajin*&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;A. PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pada suatu sore hari Jumat tanggal 30 Oktober 2009, pimpinan memberi tugas kepada penulis untuk membuat sebuah tulisan tentang problematika nikah sirri. Tulisan tersebut harus sudah selesai hari Senin pagi tanggal 2 Nopember 2009 karena akan dibawa oleh pimpinan ke dalam forum rapat kerja Pengadilan Agama se Sumut tahun 2009. Atas perintah tersebut penulis merasa mendapat kehormatan sekaligus tantangan, sehingga dengan segala keterbatasan dan minimnya waktu, penulis berusaha sedemikian rupa sehingga tersusunlah makalah yang sangat sederhana ini. Namun demikian penulis berharap bahwa sumbangan pemikiran yang sedikit dan sederhana ini dapat memberi kontribusi sebagai makalah pembanding dari sekian banyak aneka ragam makalah atau pemikiran yang telah ada tentang problematika nikah sirri, yang dalam hal ini penulis beri judul: &lt;em&gt;Problematika Nikah Sirri Dalam Perspektif Hukum Positif Di Indonesia&lt;/em&gt;”.&lt;a name="_ftnref1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn1"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pernikahan bagi umat Islam merupakan ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami isteri berdasar akad nikah yang diatur dalam undang-undang dengan tujuan membentuk keluarga sakinah atau rumah tangga yang bahagia sesuai hukum Islam. Pernikahan adalah ikatan yang sangat kuat atau &lt;em&gt;mitsaqon&lt;/em&gt; &lt;em&gt;ghalidhan&lt;/em&gt; untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Oleh karena itu, untuk menjaga kesucian lembaga perkawinan itu, maka perkawinan atau pernikahan bagi umat Islam hanya sah apabila dilakukan menurut hukum Islam dan keberadaannya perlu dilindungi oleh hukum negara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam perspektif hukum positif di Indonesia, perkawinan atau pernikahan bagi umat Islam, di samping harus dilakukan menurut hukum Islam, juga setiap perkawinan wajib dilangsungkan di hadapan dan dicatat oleh Pejabat Pencatat Nikah menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perkawinan yang tidak dilakukan sesuai dengan ketentuan tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum (vide Ps. 2 UU No.1/1974 jo. Ps.2 (1) PP. No.9/1975).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pada kenyataannya tidak semua umat Islam Indonesia mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut, sehingga masih ada di antara masyarakat muslim dengan berbagai alasan melakukan pernikahan di bawah tangan, dalam arti pernikahan tersebut tidak dicatat oleh pejabat yang berwenang untuk itu. Fenomena semacam ini dalam masyarakat kita lebih dikenal dengan istilah &lt;em&gt;&lt;b&gt;nikah sirri.&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;B. PENGERTIAN NIKAH SIRRI&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam bahasa Indonesia istilah pernikahan sering disebut juga perkawinan. Perkawinan berasal dari kata “kawin” yang menurut bahasa artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis; melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh.&lt;a name="_ftnref2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn2"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Secara literal Nikah Sirri berasal dari bahasa Arab “&lt;em&gt;nikah” &lt;/em&gt;yang menurut bahasa artinya mengumpulkan, saling memasukkan, dan digunakan untuk arti bersetubuh (wathi)&lt;a name="_ftnref3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn3"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;. Kata “nikah” sering dipergunakan untuk arti persetubuhan (&lt;em&gt;coitus&lt;/em&gt;), juga untuk arti akad nikah.&lt;a name="_ftnref4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn4"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; Sedangkan kata Sirri berasal dari bahasa Arab “&lt;em&gt;Sirr”&lt;/em&gt; yang berarti rahasia.&lt;a name="_ftnref5"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn5"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; Dengan demikian beranjak dari arti etimologis, nikah sirri dapat diartikan sebagai pernikahan yang rahasia atau dirahasiakan. Dikatakan sebagai pernikahan yang dirahasiakan karena prosesi pernikahan semacam ini sengaja disembunyikan dari public dengan berbagai alasan, dan biasanya dihadiri hanya oleh kalangan terbatas keluarga dekat, tidak dipestakan dalam bentuk resepsi &lt;em&gt;walimatul ursy&lt;/em&gt; secara terbuka untuk umum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Apabila kita berpedoman dari pengertian etimologis nikah sirri sebagaimana tersebut di atas, maka setidaknya ada 3 (tiga) bentuk atau model nikah sirri yang dilakukan dalam masyakat, yaitu: &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;: pernikahan antara seorang pria dengan seorang wanita yang sudah cukup umur yang dilangsungkan di hadapan dan dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah namun hanya dihadiri oleh kalangan terbatas keluarga dekat, tidak diumumkan dalam suatu resepsi &lt;em&gt;walimatul ursy&lt;/em&gt;. Pernikahan model ini sengaja dilakukan secara diam-diam (sirri) dengan alasan misalnya calon suami isteri tersebut dua-duanya mendapat tugas belajar S2 ke luar negeri secara mendadak, sehingga untuk menjaga kehalalan hubungan mereka selama menjalani studi mereka segera dinikahkan secara sederhana di hadapan PPN. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, pernikahan antara seroang pria dan seorang wanita yang masih di bawah umur menurut undang-undang, kedua-duanya masih bersekolah. Pernikahan ini atas inisiatif dari orang tua kedua belah pihak yang sepakat menjodohkan anak-anak mereka dengan tujuan untuk lebih memastikan perjodohan dan menjalin persaudaraan yang lebih akrab. Biasanya setelah akad nikah mereka belum kumpul serumah dulu. Setelah mereka tamat sekolah dan telah mencapai umur perkawinan, lalu mereka dinikahkan lagi secara resmi di hadapan PPN yang menurut istilah jawa disebut “&lt;em&gt;munggah”&lt;/em&gt;. Pernikahan semacam ini pernah terjadi di sebagian daerah di Jawa Tengah pada tahun 1970an ke bawah. &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, model pernikahan antara seroang pria dan seroang wanita yang sudah cukup umur menurut undang-undang akan tetapi mereka sengaja melaksanakan perkawinan ini di bawah tangan, tidak dicatatkan di KUA dengan berbagai alasan. Pernikahan ini mungkin terjadi dengan alasan menghemat biaya, yang penting sudah dilakukan menurut tatacara agama sehingga tidak perlu dicatatkan di KUA. Atau mungkin, walaupun orang kaya akan tetapi tidak mau repot dengan berbagai macam urusan aministrasi dan birokrasi sehingga lebih memilih nikah sirri saja. Pernikahan semacam ini juga mungkin terjadi, misalnya dalam beberapa kasus kawin poligami liar, pernikahan dilaksanakan tidak di hadapan dan dicatat oleh PPN karena tanpa sepengetahuan isteri pertama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dari tiga model pernikahan sirri tersebut di atas, pernikahan sirri model terakhir adalah yang paling relevan dengan topic bahasan dalam tulisan ini. Dengan demikian, yang dimaksud dengan &lt;em&gt;Nikah Sirri&lt;/em&gt; dalam tulisan ini ialah suatu pernikahan yang tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama atau dengan kata lain disebut dengan Nikah di bawah tangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;C. HUKUM MELAKUKAN PERKAWINAN &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ibnu Rusyd menjelaskan bahwa segolongan fuqaha’, yakni jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa nikah itu hukukmnya sunnah. Golongan zhahiriyah berpendapat bahwa nikah itu wajib. Para ulama Malikiyah mutaakhirrin berpendapat bahwa nikah itu wajib untuk sebagian orang, sunnah untuk sebagian lainnya dan mubah untuk segolongan yang lain.&lt;a name="_ftnref6"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn6"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; Al-Jaziry mengatakan bahwa sesuai dengan keadaan orang yang melakukan perkawinan, hukum nikah berlaku untuk hukum-hukum syara’ yang lima, adakalanya wajib, haram, makruh, sunnah (mandub) dan adakalanya mubah. Ulama Syafiiyah mengatakan bahwa hukum asal nikah adalah mubah, di sampkng ada yang sunnat, wajib, haram dan makruh.&lt;a name="_ftnref7"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn7"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; Di Indonesia umumnya memandang hukum asal melakukan perkawinan ialah mubah. Hal ini banyak dipengaruhi oleh pendapat ulama Syafi’iyah. Untuk mengetahui lebih jelas status masing-masing hukum nikah sesuai dengan kondisi &lt;em&gt;al ahkam al khamsah&lt;/em&gt;, berikut ini akan ditelaah secara sekilas:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;1. Melakukan Perkawinan Yang Hukumnya Wajib&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bagi orang yang telah mempunyai kemauan dan kemampuan untuk kawin dan dikhawatirkan akan tergelincir pada perbuatan zina seandainya tidak kawin maka hukum melakukan perkawinan bagi orang tersebut adalah wajib. Hal ini didasarkan pada rasionalitas hukum bahwa setiap muslim wajib menjaga diri untuk tidak berbuat yang terlarang. Jikan penjagaan diri itu harus dengan melakukan pernikahan, sedangkan menjaga diri itu wajib, maka hukum melakukan pernikahan itu wajib sesuai dengan kaidah: &lt;em&gt;Sesuatu yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu hukum wajib juga.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;2. Melakukan Perkawinan Yang Hukumnya Sunnah &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bagi orang yang telah mempunyai kemauan dan kemampuan untuk melangsungkan perkawinan tetapi kalau tidak kawin tidak dikhawatirkan berbuat zina, maka hukum melakukan perkawinan bagi orang tersebut adalah sunnah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;3. Melakukan Perkawinan yang Hukumnya Haram &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Bagi orang yang tidak mempunyai keinginan dan tidak mempunyai kemampuan serta tanggungjawab untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam rumah tangga sehigga bila melangsungkan perkawinan akan terlantarlah dirinya dan isterinya, maka hukum melakukan perkawinan bagi orang tersebut adalah haram.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;4. Melakukan Perkawinan yang Hukumnya Makruh&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan perkawinan juga cukup mempunyai kemampuan untuk menahan diri sehingga tidak memungkinkan dirinya terfgelincir berbuat zina sekiranya tidak kawin. Hanya saja orang ini tidak mempunyai keinginan yang kuat untuk dapat memenuhi kewajiban suami isteri dengan baik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;5. Melakukan Perkawinan Yang Hukumnya Mubah &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukannya, tetapi apabila tidak melakukannya tidak dikhawatirkan akan berbuat zina dan bila melakukannya juga tidak akan menterlantarkan isteri. Perkawinan orang tersebut hanya didasarkan untuk memenuhi kesenangan bukan dengan tujuan menjaga kehormatan agamanya dan membina keluarga sejahtera.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;D. PERMASALAHAN PERKAWINAN SIRRI&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Kalau kita perhatikan uraian tentang hukum keadaan orang menikah yang terdiri dari lima kategori hukum tersebut di atas, tidak ditemukan bahasan larangan hukum nikah sirri atau nikah di bawah tangan. Dengan demikian, hukum pernikahan sirri pada dasarnya juga tidak terlepas dari kategori hukum perkawinan tersebut, yaitu adakalanya wajib, sunnah, makruh dan sunnah. Sedangkan keadaan “sirri” dalam arti tidak dilangsungkan dan dicatatkan di hadapan PPN bukan menjadi factor penyebab sah atau tidaknya suatu perkawinan tersrebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Apabila kondisi seperti ini dihubungkan dengan ketentuan hukum perkawinan di Indonesia, tentu tidak sejalan dengan semangat ketentuan hukum positif Indonesia yang menentukan bahwa perkawinan di samping harus dilakukan secara sah menurut tatacara agamanya juga harus dicatat oleh pejabat yang berwenang (vide Ps. 2 ayat (1) dan (2) UU No.1 Th.1974, jo. Ps. 4 dan Ps.5 ayat (1) dan (2) KHI. Permasalahannya adalah, bagaimanakah penerapan hukum perkawinan terhadap masayarakat muslim Indonesia, dan bagaimana kedudukan nikah sirri dalam perspektif hukum positif Indonesia?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;D. PEMBAHASAN MASALAH&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Untuk membahas permasalahan atau problematika nikah sirri dalam perspektif hukum positif di Indonesia, perlu kita telaah dua hal pokok yakni factor penyebab nikah sirri dan kedudukan hukum nikah sirri dalam perspektif hukum positif.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;1. Faktor Penyebab Nikah Sirri&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Fenomena pernikahan di bawah tangan atau nikah sirri bagi umat Islam di Indonesia masih terbilang banyak. Bukan saja dilakukan oleh kalangan masyarakat bawah, tapi juga oleh lapisan masyarakat menengah keatas. Kondisi demikian terjadi karena beberapa factor yang melatarbelakanginya. Tentu saja untuk mengetahui berapa besar persentase pelaku nikah sirri dan factor apa saja yang menjadi pemicu terjadinya pernikahan sirri tersebut masih memerlukan penelitian yang seksama. Akan tetapi secara umum nikah sirri dapat disebabkan oleh beberapa factor, yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;a.&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Kurangnya&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Kesadaran&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Hukum&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Masyarakat&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Masih banyak di antara masyarakat kita yang belum memahami sepenuhnya betapa pentingnya pencatatan perkawinan. Kalaupun dalam kenyataannya perkawinan itu dicatatkan di KUA sebagian dari mereka boleh jadi hanya sekedar ikut-ikutan belaka; menganggapnya sebagai tradisi yang lazim dilakukan oleh masyarakat setempat; atau pencatatan perkawinan itu hanya dipandang sekedar soal administrasi; belum dibarengi dengan kesadaran sepenuhnya akan segi-segi manfaat dari pencatatan perkawinan tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Permasalahannya ialah, mengapa begitu rendah kesadaran hukum sebagian masyarakat kita, dan bagaimana upaya kita untuk meningkatkan kesadaran hukum bagi mereka, semua itu tentu merupakan tanggung jawab kita bersama. Kalau suatu kelompok masyarakat dalam suatu wilayah hukum di Indonesia belum mempunyai kesadaran hukum yang tinggi, hal ini tentu bukan semata-mata kesalahan masyarakat itu sendiri melainkan juga disebabkan kurang maksimalnya peran dan upaya lembaga pemerintahan yang ada, dalam hal ini Departeman Agama dan Pemerintah Daerah setempat kurang intensif memberikan edukasi terhadap masyarakat tentang betapa pentingnya mencatatkan perkawinan mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara, rendahnya kesadaran hukum masyarakat akan pentingnya mencatatkan perkawinan dapat kita lihat di beberapa desa yang mayoritas penduduknya muslim di Kecamatan Pahae Jae, ternyata ada banyak masyarakat yang perkawinannya tidak dicatat oleh KUA setempat. Hal ini dapat diketahui dengan jelas, dengan banyaknya masyarakat yang mengajukan permohonan &lt;em&gt;itsbat nikah&lt;/em&gt; ke Pengadilan Agama setempat untuk mendapatkan pengesahan perkawinan mereka secara hukum Negara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Banyaknya perkara permohonan isbat nikah tersebut tidak terlepas dari usaha pimpinan Pengadilan Agama Tarutung yang telah berupaya mengadakan penyuluhan hukum terutama di daerah kecamatan tertentu yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam yaitu di Kecamatan Pahae Jae. Melihat antusiasme masyarakat untuk mendapatkan pegnesahan nikah mereka di Pengadilan Agama setelah memperoleh pemahaman hukum tersebut, menunjukkan bahwa kesadaran hukum masyarakat justeru mulai bangkit. Diharapkan dimulai dari meningkatnya kesadaran tersebut merupakan awal yang baik bagi terciptanya kesadaran masyarakat secara keseluruhan di kawasan daerah tersebut. Karena dengan kesadaran ini setidaknya kalau mereka menikahkan anak-anaknya nanti tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama yang pernah mereka lakukan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dengan demikian, rendahnya tingkat kesadaran hukum masyarakat seperti itu perlu ditingkatkan melalui kegiatan penyuluhan hukum baik secara formal yang dilakukan oleh lembaga instansi terkait maupun secara informal melalui para penceramah di forum pengajian majelis ta’lim dan lain sebagainya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;b.&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Sikap&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Apatis&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Sebagian&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Masyarakat&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Terhadap&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Hukum&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebagian masyarakat ada yang bersikap masa bodoh terhadap ketentuan peraturan yang menyangkut perkawinan. Kasus pernikahan Syekh Puji dengan perempuan di bawah umur bernama Ulfah sebagaimana terkuak di media massa merupakan contoh nyata sikap apatis terhadap keberlakuan hukum Negara. Dari pemberitaan yang ada, dapat kita pahami terdapat dua hal yang diabaikan oleh Syekh Puji yaitu, &lt;em&gt;pertama, &lt;/em&gt;pernikahan tersebut merupakan poligami yang tidak melalui izin di pengadilan, dan &lt;em&gt;kedua, &lt;/em&gt;beliau tidak mau mengajukan permohonan dispensasi kawin meskipun sudah jelas calon isteri tersebut masih di bawah umur.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sikap apatisme semacam itu, terutama yang dilakukan oleh seorang &lt;em&gt;public figure&lt;/em&gt;, sungguh merupakan hambatan besar bagi terlaksananya keberlakuan hukum. Karena apa yang dilakukan oleh seorang tokoh biasanya akan dicontoh oleh mereka yang mengidolakannya. Oleh karena itu penanganan secara hukum atas kasus yang menimpa Syekh Puji adalah tepat agar tidak menjadi preseden yang buruk bagi bangsa Indonesia yang saat ini sedang berusaha memposisikan supremasi hukum.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;c.&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Ketentuan&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Pencatatn&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Perkawinan&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Yang&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Tidak&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Tegas&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sebagaimana kita ketahui, ketentuan pasal 2 UU No.1 / 1974 merupakan azas pokok dari sahnya perkawinan. Ketentuan ayat (1) dan (2) dalam pasal tersebut harus dipahami sebagai syarat kumulatif, bukan syarat alternative sahnya suatu perkawinan. Dari fakta hukum dan/atau norma hukum tersebut sebenarnya sudah cukup menjadi dasar bagi umat Islam terhadap wajibnya mencatatkan perkawinan mereka. Akan tetapi ketentuan tersebut mengandung kelemahan karena pasal tersebut multi tafsir dan juga tidak disertai sanksi bagi mereka yang melanggarnya. Dengan kata lain ketentuan pencatatan perkawinan dalam undang-undang tersebut bersifat tidak tegas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Itulah sebabnya beberapa tahun terakhir pemerintah telah membuat RUU Hukum Terapan Pengadilan Agama Bidang Perkawinan yang sampai saat ini belum disahkan di parlemen. Dalam RUU tersebut kewajiban pencatatan perkawinan dirumuskan secara tegas dan disertai sanksi yang jelas bagi yang melanggarnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pasal 4 RUU menegaskan: setiap perkawinan wajib di catat oleh PPN berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kemudian pasal 5 ayat (1) menyatakan: untuk memenuhi ketentuan pasal 4, setiap perkawinan wajib dilangsungkan di hadapan PPN. Kewajiban pencatatan sebagaimana ketentuan pasal 4 dan pasal 5 ayat (1) tersebut disertai ancaman pidana bagi yang melanggarnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Ketentuan pidana yang menyangkut pelanggaran pencatatn perkawinan tersebut dinyatakan dalam Pasal 141 RUU tersebut menyebutkan: setiap orang yang dengan sengaja melangsungkan perkawinan tidak di hadapan PPN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 (1) dipidana dengan pidana denda paling banyak 6.000.000,- (enam juta rupiah) atau hukumuan kurungan paling lama 6 (enam) bulan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pasal 145 RUU menyatakan: PPN yang melanggar kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 dikenai hukuman kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp 12.000.000,- (dua belas juta rupiah).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pasal 146 RUU menyatakan: setiap orang yang melakukan kegiatan perkawinan dan bertindak seolah-olah sebagai PPN dan/atau wali hakim sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 dan pasal 21 dipidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dengan demikian, ketidak-tegasan ketentuan pencatatan dalam undang-undang yang berlaku selama ini masih memberi ruang gerak yang cukup luas bagi pelaksanaan nikah sirri bagi sebagian masyarakat yang melakukannya dan menjadi salah satu factor penyebab terjadinya pernikahan sirri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;em&gt;d.&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Ketatnya&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Izin&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Poligami&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;UU No.1/1974 menganut azas monogami, akan tetapi masih memberikan kelonggaran bagi mereka yang agamanya mengizinkan untuk melakukan poligami (salah satunya agama Islam) dengan persyaratan yang sangat ketat. Seseorang yang hendak melakukan poligami hanrus memenuhi sekurang-kurangnya salah satu syarat alternative yang ditentukan secara limitative dalam undang-undang., yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;ol start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat      disembuhkan;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;isteri tidak dapat melahirkan keturunan (ps.4 ayat (2) UU      1/1974)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Sebaliknya pengadilan akan mempertimbangkan dan akan memberi izin poligami bagi seseorang yang memohonnya apabila terpenuhi syarat kumulatif sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;ol start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;adanya persetujuan dari isteri/isteri-siterinya;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin      keperluan-keperluan hidup isteri-siteri dan anak-anak mereka;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri      dan anak-anak mereka;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Yang dimaksud mampu menjamin keperluan hidup bagi isteri-isteri dan anak-anaknya adalah sangat relative sifatnya. Demikian pula suami akan berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-anaknya adalah sangat subjektif sifatnya, sehingga penilaian terhadap dua persyaratan tersebut terakhir akan bergantung pada rasa keadilan hakim sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Bila kita telaah sulitnya untuk dipenuhinya syarat-syarat tersebut di atas oleh seorang suami, maka hal tersebut dapat menimbulkan: perkawinan “&lt;em&gt;clandestine&lt;/em&gt;” dan hidup bersama (&lt;em&gt;samenleven&lt;/em&gt;). Perkawinan “&lt;em&gt;clandestine&lt;/em&gt;” adalah perkawinan yang pelangsungannya secara sah memenuhi syarat, akan tetapi terdapat cacat yuridis di dalamnya.&lt;a name="_ftnref8"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn8"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; Misalnya seorang calon suami dalam pemberitahuan kehendak kawin mengaku jejaka atau menggunakan izin palsu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Ketatnya izin poligami juga menyebabkan yang bersangkutan lebih memilih nikah di bawah tangan atau nikah sirri karena pelangsungan (tata cara) pernikahan di bawah tangan lebih sederhana dan lebih cepat mencapai tujuan yaitu kawin itu sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Khusus bagi pegawai negeri baik sipil maupun militer, untuk dapat poligami kecuali harus memenuhi syarat tersebut di atas juga harus memperoleh izin atasan yang berwenang, sesuai dengan PP No.10/1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi PNS jo. PP 45/1990.. Demikian pula bagi TNI harus memperoleh izin dari atasannya sesuai dengan peraturan yang berlaku, sehingga bagi yang bersangkutan wajib menempuh proses panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Sulit dan lamanya proses serta hambatan berupa birokrasi dalam pemberian izin memang bertujuan untuk memperkuat secara selektif akan perkenan poligami bagi PNS serta menghindari kesewenang-wenangan dalam hal kawin lebih dari satu, sehingga PNS diharapkan jadi contoh dan teladan yang baik sesuai dengan fungsinya sebagai abdi Negara dan abdi masyarrakat. Akibat larangan berpoligami atau sulitnya memperoleh izin poligami justru membuka pintu pelacuran, pergundikan, hidup bersama dan poligami illegal.&lt;a name="_ftnref9"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn9"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Menurut Soetojo, dengan berlakunya UU 1/1974 angka kawin lebih dari satu (poligami: Pen) menunjukkan menurun drastis&lt;a name="_ftnref10"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn10"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; namun poligami illegal dengan segala bentuknya semakin banyak, yang disebabkan oleh:&lt;a name="_ftnref11"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn11"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;1. tidak adanya kesadaran hukum yang tinggi dari masyarakat;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;2. bagi mereka yang terikat oleh pengetatan tertentu karena kedinasannya dibayangi oleh rasa takut kepada atasan di samnping prosedurnya yang terlalu lama dan sulit;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;3. tidak adanya tindakan yang tegas terhadap poligami illegal;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bentuk poligami illegal yang banyak dijumpai dalam masyarakat ialah:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;1. hidup bersama tanpa ikatan perkawinan yang sah dan sering dikenal dengan sebutan: hidup bersama, pergundikan, wanita simpanan;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;2. bagi mereka yang beragama Islam, melakukan poligami tanpa pencatatan nikah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Hasil penelitian Soetojo tersebut terakhir menunjukkan bahwa ketatnya izin poligami merupakan salah satu factor timbulnya pernikahan di bawah tangan, atau pernikahan yang tidak dicatat, alias nikah sirri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;2. Kedudukan Hukum Nikah Sirri Dalam Pespektif Hukum Positif&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dari sudut pandang hukum yang berlaku di Indonesia, nikah sirri merupakan perkawinan yang dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sebagaimana kita pahami bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (1) dan (2) UU No.1/1974 Jo. Pasal 4 dan Pasal 5 ayat (1) dan (2) KHI, suatu perkawinan di samping harus dilakukan secara sah menurut hukum agama, juga harus dicatat oleh pejabat yang berwenang. Dengan demikian, dalam perspektif peraturan perundang-undangan, nikah sirri adalah pernikahan &lt;em&gt;illegal&lt;/em&gt; dan tidak sah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Bagi kalangan umat Islam Indonesia, ada dua persyaratan pokok yang harus dikondisikan sebagai syarat kumulatif yang menjadikan perkawinan mereka sah menurut hukum positif, yaitu: &lt;em&gt;&lt;b&gt;pertama,&lt;/b&gt;&lt;/em&gt; perkawinan harus dilakukan menurut hukum Islam, dan &lt;em&gt;&lt;b&gt;kedua&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;, setiap perkawinan harus dicatat. Pencatatan perkawinan tersebut dilakukan oleh PPN sesuai UU No.22/1946 jo. UU No.32/1954. Dengan demikian, tidak terpenuhinya salah satu dari ketentuan dalam pasal 2 tersebut menyebabkan perkawinan batal atau setidaknya cacat hukum dan dapat dibatalkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Akan tetapi kalau ketentuan pasal tersebut masih dipahami sebagai syarat alternative, maka perkawinan dianggap sah meskipun hanya dilakukan menurut hukum agama dan tidak dicatatkan di KUA. Permasalahan hukum mengenai sah atau tidaknya suatu perkawinan yang tidak dicatatkan akan selalu menjadi polemic berkepanjangan bila ketentuan undang-undangnya sendiri tidak mengaturnya secara tegas. Dalam arti kewajiban pencatatan tersebut harus dinyatakan secara tegas dan disertai sanksi bagi yang melanggarnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Bagi umat Islam, kepentingan pencatatan itu sendiri sebenarnya mempunyai dasar hukum Islam yang kuat mengingat perkawinan adalah suatu ikatan perjanjian luhur dan merupakan perbuatan hukum tingkat tinggi. Artinya, Islam memandang perkawinan itu lebih dari sekedar ikatan perjanjian biasa. Dalam Islam, perkawinan itu merupakan perjanjian yang sangat kuat (&lt;em&gt;mitsaqan ghalidhan&lt;/em&gt;). Bagaimana mungkin sebuah ikatan yang sangat kuat dipandang enteng? Mengapa logika sebagian umat Islam terhadap wajibnya pencatatan perkawinan seperti mengalami distorsi? Perlu kita yakinkan kepada umat Islam bahwa pencatatan perkawinan hukumnya wajib syar’i. Sungguh sangat keliru apabila perkawinan bagi umat Islam tidak dicatatkan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Sedangkan ikatan perjanjian biasa, misalnya semacam utang piutang di lembaga perbankan atau jual beli tanah misalnya saja perlu dicatat, mengapa ikatan perkawinan yang merupakan perjanjian luhur dibiarkan berlangsung begitu saja tanpa adanya pencatatan oleh pejabat yang berwenang. Adalah ironi bagi umat Islam yang ajaran agamanya mengedepankan ketertiban dan keteraturan tapi mereka mengebaikannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Allah SWT berfirman dalam QS. An Nisa’ Ayat: 59 yang berbunyi sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;" lang="AR-SA"&gt;يا ايها الذين امنوا اطيعواالله و اطيعوا الرسو ل و اولى الأ مر منكم &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 12pt 45.1pt; text-align: justify; text-indent: -45.1pt;"&gt;Artinya : &lt;em&gt;Wahai orang yang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan Ulil Amri diantara kalian. &lt;/em&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Berdasarkan dalil Firman Allah SWT tersebut di atas, dapat ditarik garis tegas tentang adanya beban hukum &lt;strong&gt;“wajib”&lt;/strong&gt; bagi orang-orang yang beriman untuk taat kepada &lt;em&gt;Allah&lt;/em&gt; dan taat kepada &lt;em&gt;Rasul SAW&lt;/em&gt; dan juga taat kepada &lt;em&gt;Ulil Amri.&lt;/em&gt; Sampai pada tahapan ini kita semua sepakat bahwa sebagai umat yang beriman memikul tanggung jawab secara imperative (wajib) sesuai perintah Allah SWT tersebut. Akan tetapi ketika perintah taat kepada &lt;em&gt;Ulil Amri&lt;/em&gt; diposisikan sebagai wajib taat kepada pemerintah, otomatis termasuk di dalamnya perintah untuk mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai pencatatan pernikahan, maka oleh sebagian umat Islam sendiri terjadi penolakan terhadap pemahaman tersebut sehingga kasus pernikahan di bawah tangan masih banyak terjadi dan dianggap sebagai hal yang tidak melanggar ketentuan hukum syara’. Permasalahan masih banyaknya &lt;em&gt;nikah sirri&lt;/em&gt; di kalangan umat Islam adalah terletak pada pemahaman makna siapakah yang dimaksud &lt;em&gt;Ulil Amri &lt;/em&gt;dalam ayat tersebut di atas. Ada banyak pendapat mengenai siapakah &lt;em&gt;ulil amri&lt;/em&gt; itu, antara lain ada yang mengatakan bahwa &lt;em&gt;ulil amri&lt;/em&gt; adalah kelompok &lt;em&gt;Ahlul Halli Wa Aqdi &lt;/em&gt;dan ada pula pendapat yang mengatakan bahwa &lt;em&gt;ulil amri&lt;/em&gt; adalah &lt;em&gt;pemerintah&lt;/em&gt;. Dalam tulisan ini, penulis tidak ingin memperdebatkan tentang siapakah &lt;em&gt;Ulil Amri &lt;/em&gt;itu. Yang perlu dikedepankan adalah bahwa pemahaman terhadap hukum Islam itu harus komprehensif sesuai dengan katakteristik hukum Islam itu sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Komprehensifitas (dari hukum Islam) itu dapat dilihat dari keberlakuan hukum dalam Islam di mayarakat, sebagaimana yang dikemukakan oleh Yusuf Qardhawi, yaitu bahwa: Hukum tidak ditetapkan hanya untuk seseorang individu tanpa keluarga, dan bukan ditetapkan hanya untuk satu keluarga tanpa masyarakat, bukan pula untuk satu masyarakat secara terpisah dari masyarakat lainnya dalam lingkup umat Islam, dan ia tidak pula ditetapkan hanya untuk satu bangsa secara terpisah dari bangsa-bangsa di dunia yang lainnya, baik bangsa penganut agama ahlulkitab maupun kaum penyembah berhala (paganis).&lt;a name="_ftnref12"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn12"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam konteks ini perlu kiranya memahami penalaran hukum pada ayat tersebut di atas secara komprehensif. Oleh sebab itu, pendekatan terhadap penalaran makna &lt;em&gt;Ulil Amri&lt;/em&gt; dalam hubungannya dengan kewajiban pencatatan perkawinan bagi umat Islam, dapat kita pahami bahwa Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan peraturan perundangan lainnya yang berkaitan dengan itu adalah merupakan produk legislasi nasional yang proses pembuatannya melibatkan berbagai unsur mulai dari Pemerintah, DPR, Ulama dan kaum cerdik pandai serta para ahli lainnya yang keseluruhannya merupakan &lt;em&gt;Ahlul Halli wal Aqdi. &lt;/em&gt;Dengan demikian, apabila Undang-undang memerintahkan perkawinan harus dicatat, maka wajib syar’i hukumnya bagi umat Islam di Indonesia untuk mengikuti ketentuan undang-undang tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pernikahan bagi umat Islam adalah sebuah keniscayaan dan ia merupakan sesuatu yang &lt;em&gt;&lt;b&gt;haq&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;. Oleh karena pernikahan adalah suatu kebenaran (&lt;em&gt;haq&lt;/em&gt;) dalam Islam, maka perlu ada &lt;em&gt;&lt;b&gt;nizham&lt;/b&gt;&lt;/em&gt; atau system hukum yang mengaturnya. Sungguh sangat relevan penulis nukilkan Atsar dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, r.a.:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;" lang="AR-SA"&gt;الحق بلا نظام سيغلبه الباطل باالنظام&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 18pt 63.8pt; text-align: justify; text-indent: -63.8pt;"&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA"&gt;ِ&lt;/span&gt;Artinya : &lt;em&gt;Sesuatu yang hak tanpa nizham (system aturah hukum yang baik) akan dikalahkan oleh kebatilan dengan nizham.&lt;/em&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;E. PENUTUP&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dari uraian di atas dapat diturunkan beberapa kesimpulan bahwa pernikahan sirri atau pernikahan tanpa pencatatan baik nikah tunggal maupun karena poligami, adalah pernikahan yang illegal, Ini terjadi disebabkan kurangnya pemahaman hukum dan minimnya kesadaran hukum dari sebagian masyarakat akan pentingnya pencatatan perkawinan mereka. Pernikahan di bawah tangan tidak mempunyai kekuatan hukum. Jadi, pernikahan sirri merupakan perbuatan hukum yang tidak mempunyai kekuatan hukum dalam sebuah Negara hukum bernama Indonesia. Oleh sebab itu masyarakat Islam Indonesia harus menghindari praktek perkawinan di bawah tangan atau nikah sirri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Masyarakat Islam Indonesia perlu diyakinkan bahwa pencatatan perkawinan adalah wajib hukumnya, bukan saja dipandang dari perspektif hukum positif melainkan juga dalam perspektif hukum Islam itu sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Perkawinan adalah awal terbentuknya rumah tangga yang merupakan unit masyarakat terkecil dari sebuah bangsa besar Indonesia. Oleh karena itu penguatan aturan hukum perkawinan merupakan keniscayaan bagi bangsa Indonesia. Pandangan masyarakat terhadap “nikah sirri adalah perbuatan yang sah-sah saja” perlu diluruskan agar tidak menjadi preseden bagi generasi masa depan. Wallahu a’lam bis shawab.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Penulis&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Jasmani Muzajin, SH&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;  &lt;hr align="center" width="33%" size="1"&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 9pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a name="_ftn1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;*&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt; &lt;/span&gt;Penulis adalah Hakim Pengadilan Agama Kotabumi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Judul makalah tersebut merupakan pengembangan dari sebuah tema tentang PROBLEMATIKA NIKAH SIRRI yang diberikan oleh PTA Medan ketika penulis masih bertugas di Pengadilan Agama Tapanuli Utara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a name="_ftn2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftnref2"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; Abd.Rahman Gazaly, &lt;em&gt;Fiqh Munakahat, &lt;/em&gt;Jakarta, Kencana, 2006, hlm 7&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a name="_ftn3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftnref3"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; Lihat Muhammad bin Ismail Al-Kahlany, &lt;em&gt;Subul Al Salam, &lt;/em&gt;Bandung; Dahlan, tt, Jilid 3 hlm 109&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a name="_ftn4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftnref4"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; &lt;em&gt;Op Cit&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a name="_ftn5"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftnref5"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; Abddullah bin Nuh dan Umar Bakri, &lt;em&gt;Kamus&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Arab&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Indonesia&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Inggris&lt;/em&gt;, Jakarta, Penerbit Mutiara, MCMLXXIV, hlm132&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a name="_ftn6"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftnref6"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt; Abd.Rahman Gazaly, &lt;em&gt;Op Cit, &lt;/em&gt;hlm 16&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a name="_ftn7"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftnref7"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; &lt;em&gt;Ibid, &lt;/em&gt;hlm 18&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a name="_ftn8"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftnref8"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; Prof.DR.R.Soetojo Prawirohamidjojo, &lt;em&gt;Pluralisme Dalam Perundang-undangan Perkawinan di Indonesia,&lt;/em&gt; Airlangga University Press, Surabaya, 1994, hlm 51&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 9pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a name="_ftn9"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftnref9"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; &lt;em&gt;Ibid, &lt;/em&gt;hlm 53&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;a name="_ftn10"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftnref10"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; Hasil penelitian Soetojo dapat dilihat pada tabel I dan II, dalam tabel penelitian tersebut mengambil sample kodya Surabaya antara tahun 1976 s.d. 1985. Terlihat penurunan cukup drastis yaitu pada tahun 1976 nikah sebanyak 9345 poligami 50 dan pada tahun 1985 nikah sebanyak 10604 poligami 3, sebagaimana dimuat dalam buku: &lt;em&gt;Pluralisme Dalam Peraturan Perundang-undangan Perkawinan di Indonesia&lt;/em&gt;, hlm 169&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a name="_ftn11"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftnref11"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; &lt;em&gt;Ibid&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;a name="_ftn12"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=207:jasmani&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftnref12"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Yusuf Qardhawi, &lt;em&gt;Pengantar Kajian Islam: Studi Analistik Komprehensif Tentang Pilar-pilar Substansial, Karakteristik, Tujuan dan Sumber Acuan Islam, &lt;/em&gt;diterjemahkan oleh Setiawan Budi Utomo, Cet.4, Jakarta, Pustaka Alkautsar, 2000, hal 156&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-2247495720364123017?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/2247495720364123017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/problematika-nikah-sirri-dalam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/2247495720364123017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/2247495720364123017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/problematika-nikah-sirri-dalam.html' title='Problematika Nikah Sirri Dalam Perspektif Hukum Positif Di Indonesia'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-5310252624134160993</id><published>2011-12-10T01:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-10T01:01:13.108-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih Munakahat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Pengadilan Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Problematika Mediasi Dalam Penyelesaian Perkara Perceraian</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Umumnya masyarakat berpandangan, sengketa hanya bisa diselesai­kan melalui jalur peradilan. Pendapat tersebut tidak seluruhnya benar. Perlu diketahui, jalur peradilan bukanlah satu-satunya cara untuk menyc­lesaikan sengketa. Banyak cara yang bisa ditempuh dalam menyelesaikan sengketa tanpa harus melalui proses persidangan di pengadilan, di antara­nya adalah mediasi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;         Mediasi adalah salah satu alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan dengan menggunakan jasa seorang mediator atau penengah, sama seperti konsiliasi (tim penyusun Kamus Hukum Ekonomi FLIPS, 1997, Kamus Ekonomi FLIPS, Jakarta: Flips Project, hlm. 111). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Menurut Gary Goodpaster, "Mediasi adalah proses negosiasi peme­cahan masalah di mana pihak luar yang tidak memihak (impartial) dan netral bekcrja dengan pihak yang bersengketa untuk membantu mereka memperoleh kesepakatan perjanjian dengan memuaskan". (Rachmadi Usman, SH., Pilihan Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003, hlm. 79).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;          Jadi, mediasi adalah suatu proses di mana kedua belah pihak yang bersengketa atau lebih menunjuk pihak ketiga yang netral dan impartial untuk membantu mereka dalam mendiskusikan penyelesaian sengketa dan mencoba menggugah para pihak untuk menegosiasikan suatu penyelesaian dari sengketa. Selain itu, mediasi bersifat pribadi, rahasia, dan kooperatif dan tidak terikat dengan aturan-aturan formal sebagaimana proses penyele­saian sengketa melalui pengadilan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;         Mediasi yang dilakukan oleh para pihak dengan bantuan mediator bertujuan untuk mencapai kesepakatan kedua belah pihak yang saling menguntungkan (win-win solution) dan memuaskan bagi pihak-pihak yang bersengketa serta bersifat problem solving, bukan untuk mencari kalah menang (win or loss). Karena itu, dalam suatu mediasi, mediator hanya menjadi fasilitator yang membantu para pihak dalam mengklarifikasi kebutuhan dan keinginan-keinginan mereka, menyiapkan panduan membantu para pihak dalam meluruskan perbedaan-perbedaan pandangan dan bekerja untuk suatu yang dapat diterima para pihak dalam penyelesaian yang mengikat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Mediator berbeda dengan hakim atau arbiter dalam kewenangannya menyelesaikan sengketa. Menurut Gary Goodpaster, mediator tidak ber­wenang memutuskan sengketa para pihak, melainkan hanya membantu para pihak dalam menyelesaikan persoalan-persoalan, dan itu pun jika para pihak menguasakan kepadanya untuk membantu penyelesaian sengketa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Mediasi sebagai salah satu alternative dispute resolution (ADR) sudah lama dikenal dalam Islam, khususnya dalam bidang perkawinan. Mediasi tersebut dilakukan dengan bantuan hakamain yang ditunjuk dari kerabat kedua belah pihak sebagaimana Surah an-Nina' ayat 35. Pengangkatan hakamain dalam penyelesaian sengketa perkawinan khususnya syiqaq juga telah diintegrasikan dalam proses beracara di Pengadilan Agama. Hal itu dibuktikan dengan diaturnya masalah pengangkatan hakamain dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 76 Ayat (2). Namun, pada kenyataannya jarang sekali atau hampir tidak ada hakim mengangkat hakamain sebagai­mana maksud pasal tersebut di atas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Mahkamah Agung RI melalui Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 01 Tahun 2008 telah mengintegrasikan mediasi ke dalam proses beracara di pengadilan sebagai salah satu instrumen untuk mengatasi penumpukan perkara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Pasal 4 peraturan ini, mengisyaratkan bahwa seluruh sengketa perdata yang diajukan ke pengadilan tingkat pertama wajib terlebih dahulu di­upayakan penyelesaian damai dengan bantuan mediator kecuali sengketa yang diselesaikan melalui proses pengadilan niaga, pengadilan hubungan industrial, keberatan atas putusan badan penyelesaian sengketa konsumen dan keberatan atas putusan komisi persaingan usaha. Sengketa perdata yang dimaksud dalam pasal ini termasuklah sengketa perkawinan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Penerapan Peraturan Mahkamah Agung RI ini dalam proses penyele­saian sengketa perkawinan sejalan dengan Hukum Islam, di mana percerai­an adalah suatu perbuatan yang paling dibenci sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra.:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Artinya: Dari Ibnu Umar ra. Bersabda Rasulullah SAW. "Perbuatan yang halal yang paling dibenci Allah adalah thalaq (cerai). (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah dan disahkan oleh Hakim) [Imam Muhammad bin Isma'il al-Kahlaany, Sublu al-Salam, Dahlam, Bandung, tth., hlm. 168]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Bahkan Pasal 7 Ayat (1) perma ini telah mewajibkan hakim untuk memerintahkan kepada para pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan sengketa tersebut melalui mekanisme mediasi. Selain itu, Pasal 2 Ayat (4) mengharuskan hakim memasukkan hasil mediasi ke dalam pertimbangan hukumnya dan jika tidak menempuh prosedur mediasi dianggap sebagai pelanggaran terhadap Pasal 130 HIR/154 RBg yang berakibat putusan batal demi hukum sebagaimana Pasal 2 Ayat (3) Perma ini. Dengan demikian, mediasi sebagai alternatif penyelesaian sengketa di luar persidangan menjadi suatu keharusan dalam penyelesaian sengketa perdata.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Diwajibkannya mediasi khususnya dalam sengketa perkawinan seperti perceraian membawa manfaat yang besar bagi para pihak, karena melalui mediasi akan dicapai kesepakatan dan solusi yang memuaskan dan tersele­saikannya problem yang menjadi penyebab keretakan rumah tangga se­hingga keutuhan rumah tangga tetap terjaga. Namun perlu diingat, bahwa sengketa perkawinan (perceraian) yang diajukan ke Pengadilan tidak jarang saat hari persidangan yang telah ditentukan hanya dihadiri oleh satu pihak saja yaitu pihak Penggugat/Pemohon atau Tergugat/Termohon tidak dike­tahui alamat pastinya. Di sinilah akan muncul permasalahan, apakah persi­dangan ditunda untuk memanggil Tergugat/Termohon atau pihak yang tidak hadir sebagaimana Pasal 127 HIR/151 RBg, atau ditunda untuk mediasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pada kenyataannya, ada dua pandangan yang sementara ini muncul terhadap perkara ghoib atau perkara yang salah satu pihaknya tidak hadir saat sidang pertama; pertama: ditunda untuk memanggil ulang pihak yang tidak hadir, dan; dan untuk perkara ghoib tidak ada mediasi kedua: ditunda untuk mediasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Kelompok pertama berpendapat, jika salah satu pihak tidak hadir pada saat sidang pertama, maka persidangan ditunda untuk memanggil ulang pihak yang tidak hadir sebagaimana ketentuan Pasal 127 HIR/151 RBg dan jika tetap tidak hadir, maka proses mediasi tidak dilakukan, begitu pula dalam hal perkara ghoib.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Kelompok kedua berpendapat, sidang ditunda untuk mediasi, terlepas apakah kedua belah pihak hadir saat sidang pertama atau hanya salah satu pihak saja yang hadir. Pandangan kelompok kedua ini didasari pada Pasal 2 Ayat (3) dan (4) Peraturan Mahkamah Agung RI No. 01 Tahun 2008.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam hal ini, penulis lebih cenderung kepada pendapat kelompok pertama. Kecenderungan itu didasari pada beberapa alasan:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Pertama: Mediasi dilakukan jika ada dua belah pihak atau lebih yang bersengketa atau beda pendapat dan keduanya bersepakat untuk menyelesaikan sengketa atau beda pendapat tersebut di luar pengadilan melalui bantuan mediator yang ditunjuk oleh kedua belah pihak. Artinya, kedua belah pihak harus sepakat untuk mediasi, dan mediasi tidak akan terjadi jika hanya ada satu pihak saja. Bagaimana akan dilakukan mediasi jika salah satu pihak tidak pernah hadir/datang. Dan bagaimana pula seorang mediator bisa membantu para pihak menyelesaikan sengketanya, jika mediator hanya bisa mendengarkan satu pihak saja karena ketidakhadiran pihak lainnya. Dengan demikian, sangat mustahil bisa tercapai kesepakatan-kescpakatan yang merupakan win win solution.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kedua: Pasal 7 Ayat (1) dan (2) Peraturan Mahkamah Agung RI No. 01 Tahun 2008 menyebutkan: "(1) Pada hari sidang yang telah ditentukan yang dihadiri kedua belah pihak, hakim mewajibkan kedua para pihak menempuh mediasi, (2) Ketidakhadiran pihak turut tergugat tidak menghalangi pelaksanaan mediasi". Pada Pasal 7 Ayat (1) sudah sangat jelas disebutkan "yang dihadiri kedua belah pihak", artinya, hakim baru dapat mewajibkan mediasi kepada para pihak jika kedua belah pihak hadir saat persidangan Mafhum al-mukhalafah dari Ayat (1) adalah jika salah satu pihak tidak hadir, maka hakim tidak dapat mewajibkan mediasi. Sementara Ayat (2) merupakan pengecualian bagi Turut Tergugat bukan Tergugat, karena pihak yang sebenarnya bersengketa adalah Penggugat dan Tergugat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ketiga: Tidak menempuhnya mediasi oleh hakim karena alasan salah satu pihak tidak pernah hadir pada hari-hari sidang yang telah ditentukan bukanlah merupakan pelanggaran terhadap Pasal 130 HIR/154 RBg sebagaimana Pasal 2 Ayat (3). Sebab tidak ditempuhnya mediasi dalam kasus ini bukanlah atas kehendak dan kemauan hakim yang memeriksa dan menyelesaikan perkara tersebut, akan tetapi lebih dikarenakan ketidakinginan salah satu pihak (pihak Tergugat) untuk mempertahankan hak-haknya. Walaupun demikian, hakim tetap berusaha mendamaikan dan menasihati pihak yang hadir. Jadi di dalam pertimbangannya hakim cukup menyebutkan bahwa mediasi tidak dapat dilaksanakan karena Tergugat tidak pernah hadir pada hari-hari sidang yang telah ditentukan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Keempat: Pasal 19 mengisyaratkan keterpisahan mediasi dengan litigasi. Jika sidang ditunda untuk mediasi sementara pada sidang tersebut salah satu pihak tidak hadir, maka secara tidak langsung telah menjadikan mediasi sebagai bagian dari hukum acara. Padahal kita tahu bahwa mediasi adalah alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan dan mekanisme-nya sudah pasti berbeda dan terpisah dari mekanisme dan proses litigasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kelima: Jika tetap dipaksakan mediasi sementara salah satu pihak tidak pernah hadir, maka akan timbul kesan bahwa berlarut-larutnya pe­nyelesaian perkara. Coba bayangkan, berapa lama waktu yang diperlukan oleh para pencari keadilan yang pihak tergugatnya tidak diketahui alamat­nya yang jelas dan pasti (ghoib) jika tetap harus menempuh mediasi.&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;Untuk selanjutnya, alangkah baiknya jika ada petunjuk pelaksanaan terhadap mediasi dalam perkara perceraian, sehingga tidak ada lagi per­bedaan dalam penerapan mediasi di Pengadilan Agama.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-5310252624134160993?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/5310252624134160993/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/problematika-mediasi-dalam-penyelesaian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/5310252624134160993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/5310252624134160993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/problematika-mediasi-dalam-penyelesaian.html' title='Problematika Mediasi Dalam Penyelesaian Perkara Perceraian'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-4271642241629693229</id><published>2011-12-10T00:27:00.000-08:00</published><updated>2011-12-10T01:08:28.232-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Waris'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Ahli Waris Pengganti Dalam Kewarisan Islam Perspektif Madzhab Nasional</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;A. PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 29.4pt; line-height: 150%;"&gt;Masalah yang terus muncul dalam kehidupan sosial adalah jika terjadi suatu penyelarasan relasi antara teori hukum dan perubahan sosial (modernisasi-pembangunan). Hukum yang diasumsikan tidak akan mengalami perubahan ternyata juga menuntut adanya adaptabilitas hukum ketika ia menghadapi perubahan sosial. Bahkan, karena dampak yang ditimbulkan oleh perubahan sosial begitu hebat, hal itu menyebabkan hukum menjadi teralienasi. Akibatnya, muncul kebutuhan baru akan suatu filsafat hukum yang mampu merespon perubahan sosial.&lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 29.4pt; line-height: 150%;"&gt;Ya, perubahan sosial tidak bisa dihindarkan dari kehidupan yang nyata, seperti asumsi dan pandangan sebagian muslim bahwa hukum Islam adalah sesuatu yang &lt;em&gt;sakral&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;eternal&lt;/em&gt;. Sehingga muncul asumsi bahwa perubahan sosial harus menyesuaikan dengan hukum Islam, bukan sebaliknya, perubahan sosial mempengaruhi penetapan hukum. Sebuah fenomena yang menjadikan munculnya penilaian bahwa hukum Islam adalah hukum yang memiliki validitas abadi.&lt;a name="_ftnref1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn1"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 29.4pt; line-height: 150%;"&gt;Untuk menyikapi sakralitas dan keabadian hukum Islam, maka dilakukan penangguhan terlebih dahulu sifat hubungan yang seolah-olah &lt;em&gt;transendent&lt;/em&gt;, antara Islam (sebagai agama) dengan formalisasi hukum Islam, yang selama ini dikenal sebagai syari’ah. Oleh &lt;em&gt;Abdullah Ahmed an-Na’im&lt;/em&gt;, syari’ah bukanlah Islam itu sendiri, melainkan ia hanyalah interpretasi terhadap &lt;em&gt;nash&lt;/em&gt; yang pada dasarnya dipahami dalam konteks historis tertentu,&lt;a name="_ftnref2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn2"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; atau istilah Sahal Mahfud, merupakan sebuah refleksi dari hukum Islam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 29.4pt; line-height: 150%;"&gt;Fenomena tersebut terjadi pada hukum kewarisan Islam di Indonesia yang mengalami perdebatan diantara “Madzhab Nasional”, sebutan istilah dari Hasbi ash-Shiddieqy yang kemudian dilakukan perubahan oleh Hazairin menjadi “Madzhab Indonesia”, suatu konsep yang jelas mengantisipasi ide Fiqh Indonesia sebagaimana yang pernah ditawarkan oleh Hasbi ash-Shidieqy.&lt;a name="_ftnref3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn3"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; Dengan meminjam dari hasil penelitian &lt;em&gt;Drs. H. Firdaus Muhammad Arwan, SH. MH,&lt;a name="_ftnref4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn4"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;Hakim PTA Pontianak&lt;em&gt;, &lt;/em&gt;ada beberapa hal dalam penyusunan Kompilasi Hukum Islam (KHI) khususnya tentang ahli waris pengganti yang kurang jelas pengaturannya dan dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda. Di antara sumber perdebatan yang terjadi antara lain tentang : &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -14.15pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;· &lt;/span&gt;Apakah penggantian ahli waris bersifat tentatif atau imperatif. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -14.15pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;· &lt;/span&gt;Apakah ahli waris pengganti hanya berlaku bagi ahli waris garis ke bawah atau juga berlaku bagi ahli waris garis menyamping. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -14.15pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;· &lt;/span&gt;Apakah ahli waris pengganti menduduki kedudukan orang tuanya secara mutlak, atau secara relatif. &lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 28.85pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam makalah ini, penulis lebih menarik pembahasan yang ditawarkan oleh Firdaus Muhammad A. tersebut yang sebelumnya pernah dilakukan sebuah penelitian pada Hakim Kalimantan Barat. Dengan alasan, wacana tentang ahli waris pengganti sejak diundangkannya KHI pada tanggal 22 Juli 1991 hingga sekarang selalu berkutat pada perbedaan sebagaimana tersebut di atas. Tidak hanya itu, bahkan beliau memberikan solusi pemecahannya untuk meminimalisir terjadinya multi-interpretasi jika nantinya KHI diperlukan harus dirubah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;B. PENGERTIAN AHLI WARIS PENGGANTI &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;Istilah ahli waris pengganti dalam bahasa Belanda disebut dengan &lt;em&gt;plaatsvervulling&lt;/em&gt;. Penggantian tempat dalam hukum waris disebut dengan penggantian ahli waris, yaitu meninggal dunianya seseorang dengan meninggalkan cucu yang orangtuanya telah meninggal terlebih dahulu. Cucu ini menggantikan posisi orangtuanya yang telah meninggal untuk mendapatkan warisan dari kakek atau neneknya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;Besarnya bagian yang seharusnya diterima oleh cucu adalah sejumlah bagian yang seharusnya diterima orangtuanya jika mereka masih hidup. Istilah penggantian tempat ini hanya dikenal dalam hukum barat (BW) dan hukum adat namun tidak dikenal dalam hukum Islam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;Menurut &lt;em&gt;Raihan A. Rasyid&lt;/em&gt;&lt;a name="_ftnref5"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn5"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;, istilah ahli waris pengganti dibedakan antara orang yang disebut “ahli waris pengganti” dan “pengganti ahli waris”. Menurutnya, &lt;em&gt;ahli waris pengganti&lt;/em&gt; adalah orang yang sejak semula bukan ahli waris tetapi karena keadaan tertentu ia menjadi ahli waris dan menerima warisan dalam status sebagai ahli waris. Misalnya, pewaris tidak meninggalkan anak tetapi meninggalkan cucu laki-laki atau perempuan dari anak laki-laki. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;Sedangkan &lt;em&gt;pengganti ahli waris&lt;/em&gt; adalah orang yang sejak semula bukan ahli waris tetapi karena keadaan tertentu dan pertimbangan tertentu mungkin menerima warisan namun tetap dalam status bukan sebagai ahli waris. Misalnya, pewaris meninggalkan anak bersama cucu baik laki-laki maupun perempuan yang orang tuanya meninggal lebih dahulu daripada pewaris. Keberadaan cucu disini sebagai pengganti ahli waris. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;Apa yang disebut dengan &lt;em&gt;plaatsvervulling &lt;/em&gt;dalam KUHPerdata, wasiat wajibah dalam undang-undang Mesir dan pasal 185 KHI oleh Raihan A.Rasyid dinamakan pengganti ahli waris, bukan ahli waris pengganti. Namun demikian, apapun sebutannya, yang pasti dalam KHI digunakan sebutan ahli waris pengganti. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 1cm; line-height: 150%;"&gt;Dalam kitab &lt;em&gt;Faraid&lt;/em&gt; klasik yang termuat dalam kitab fiqih, telah mengenal ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pewaris yang di gantikan kedudukannya oleh anak keturunannya. Namun istilah yang digunakan bukan ahli waris pengganti, Apapun istilahnya pada hakekatnya sama, namun tidak mutlak. Menurutnya, yang mempunyai kedudukan sebagai ahli waris Pengganti hanya keturunan dari anak laki-laki yang meninggal lebih dahulu dari Pewaris, yakni hanya cucu laki-laki dan cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki (Ibnul-Ibni dan Bintul-Ibni) yang dapat menerima warisan dari kakeknya, itu pun bagiannya telah ditentukan secara pasti baik sebagai &lt;em&gt;ashobah&lt;/em&gt; maupun &lt;em&gt;dzawil-furudl&lt;/em&gt;. Contoh, bintu ibnin jika menerima bersama seorang anak perempuan maka mendapat bagian 1/6. sedangkan cucu laki-laki maupun cucu perempuan dari keturunan anak perempuan (Ibnul-Binti dan Bintul-Binti) tidak dapat menerima bagian warisan dari kakek/neneknya karena termasuk &lt;em&gt;dzawul Arham&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;C. KONSEP AHLI WARIS PENGGANTI DALAM SISTEM HUKUM&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 35.95pt; line-height: 150%;"&gt;Konsep ini mengetengahkan beberapa pandangan yang berbeda dari berbagai kalangan baik akademisi, praktisi dan ulama yang pro dan kontra tentang ahli waris pengganti sebagai bagian kewarisan yang sah menurut hukum. Misalnya perdebatan dikalangan peserta Rakernas tahun 2009 di Palembang, diawali dengan presentasi &lt;em&gt;Habiburrahman&lt;/em&gt; (Hakim Agung MA) yang mengritik pemikiran Hazairin bahwa Hazairin sebagai anak hukum adat yang menginduk kepada &lt;em&gt;Van Vollenhoven&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Snouck Hourgronje&lt;/em&gt;. Di bukunya, Hazairin mengaku sebagai mujtahid tetapi tulisan-tulisannya tidak mencerminkan layaknya mujtahid.&lt;a name="_ftnref6"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn6"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; Oleh karenanya, Hazairin dianggap tidak layak untuk menafsirkan ketentuan ahli waris pengganti berdasarkan hukum adat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 35.95pt; line-height: 150%;"&gt;Kemudian menuai respon beragam oleh peserta salah satunya seperti &lt;em&gt;Mukhsin Asyrof&lt;/em&gt;, KPTA Palembang mengungkapkan ketentuan ahli waris pengganti meskipun tidak disebutkan dalam fiqih sebagaimana wasiat wajibah namun ini dimaksudkan untuk memberikan keadilan kepada para ahli waris. Sementara K.H. Azhar Basyir yang memimpin rapat penyusunan KHI menyebutkan bahwa pasal ahli waris pengganti ini disahkan melalui kesepakatan para ulama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;Ahli Waris Pengganti Perspektif Hazairin.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 42.5pt; line-height: 150%;"&gt;Konsep ahli waris pengganti menurut Hazairin&lt;a name="_ftnref7"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn7"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; merupakan hasil pemikirannya dalam menafsirkan kata &lt;em&gt;mawali &lt;/em&gt;yang ada dalam al-Qur’an surah an-Nisa’ ayat 33 : &lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" dir="RTL" style="margin: 0cm 14.2pt 0.0001pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:15pt;" lang="AR-SA" &gt;وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأقْرَبُونَ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Terjemahannya, “&lt;em&gt;Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu&lt;/em&gt;&lt;span class="gen"&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 42.5pt; line-height: 150%;"&gt;Secara bebas Hazairin menerangkan bahwa teks Ayat 33 Surah an-Nisa mengandung makna bahwa Allah mengadakan &lt;em&gt;mawali&lt;a name="_ftnref8"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn8"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;strong&gt;[8]&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; untuk si fulan dari harta peninggalan orangtua dan keluarga dekat (serta &lt;em&gt;allazina ‘aqadat aymanukum&lt;/em&gt;) dan bahwa untuk itu berikanlah kepada &lt;em&gt;mawali&lt;/em&gt; itu (hak yang menjadi) bagiannya. Fulan dianggap sebagai ahli waris, karena diiringkan dengan kata &lt;em&gt;walidan&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;aqrabun&lt;/em&gt; yang menjadi pewaris. Apabila yang menjadi pewaris adalah orangtua (ayah atau ibu), ahli waris adalah anak dan atau mawali anak, demikian menurut Hazairin. Jika anak-anak itu masih hidup, tentu merekalah yang secara serta merta mengambil warisan berdasarkan Ayat 11 Surah an-Nisa.&lt;a name="_ftnref9"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn9"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 42.5pt; line-height: 150%;"&gt;Ketentuan ini oleh Hazairin sesuai dengan sistem kewarisan yang dikehendaki dalam Islam yang menganut azas bilateral.&lt;a name="_ftnref10"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn10"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; Berbeda dengan Bangsa Arab yang menganut azas patrilineal&lt;a name="_ftnref11"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn11"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; akibat interaksi budaya yang mempengaruhinya. Dengan demikian, konteks Indonesia lebih tepat dengan sistem kewarisan Islam berdasarkan asas bilateral, seperti umumnya yang telah berjalan di masyarakat Jawa dan sekitarnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 42.5pt; line-height: 150%;"&gt;Ada dua syarat yang harus dipenuhi mawali tampil sebagai ahli waris, yaitu: 1) orang yang menghubungkan antara mawali dengan pewaris harus telah meninggal lebih dahulu, dan 2) antara mawali dengan pewaris terdapat hubungan darah. Dengan adanya syarat hubungan darah ini, maka bagi janda dan duda tidak mempunyai mawali. Mawali-mawali tersebut meliputi : &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 14.2pt; line-height: 150%;"&gt;a. Mawali untuk anak, baik laki-laki maupun perempuan &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 14.2pt; line-height: 150%;"&gt;b. Mawali untuk saudara, baik laki-laki maupun perempuan &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 14.2pt; line-height: 150%;"&gt;c. Mawali untuk ibu, dan &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 14.2pt; line-height: 150%;"&gt;d. Mawali untuk ayah &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;Ahli Waris Pengganti Perspektif KUHPerdata&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;. Mewaris secara tidak langsung atau mewaris karena penggantian (&lt;em&gt;plaatsvervulling&lt;/em&gt;) pada dasarnya menggantikan kedudukan ahli waris yang telah lebih dulu meninggal dari pewaris diatur dalam Pasal 841 s/d 848 KUH Perdata. Ahli waris pengganti dalam KUHPerdata menduduki kedudukan orang tuanya secara mutlak, artinya, segala hak dan kewajiban orang tuanya yang berkenaan dengan warisan beralih kepadanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 32.2pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam KUHPerdata dikenal tiga macam penggantian (&lt;em&gt;representatie&lt;/em&gt;) yaitu&lt;a name="_ftnref12"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn12"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; : &lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt; line-height: 150%;"&gt;a) Penggantian dalam garis lurus ke bawah tiada batas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt; line-height: 150%;"&gt;b) Penggantian dalam garis ke samping.&lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt; line-height: 150%;"&gt;c) Penggantian dalam garis ke samping menyimpang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;Ahli Waris Pengganti Perspektif UU Mesir&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dalam Undang-undang Mesir&lt;a name="_ftnref13"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn13"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; dikatakan, bahwa jika mayat tidak memberikan suatu wasiat kepada keturunan dari anak laki-lakinya yang telah mati pada saat masih hidup atau mati bersamanya meskipun secara hukum, warisan dari peninggalannya seperti bagian yang berhak diterima oleh si anak laki-laki ini, maka diwajibkanlah &lt;em&gt;wasiat wajibah&lt;/em&gt; untuk keturunan dari anak laki-laki ini pada harta peninggalan ayahnya sesuai ketentuan anak laki-laki ini dalam batas-batas sepertiga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Wasiat wajibah diberikan terbatas kepada cucu pewaris yang orang tuanya telah meninggal dunia lebih dahulu dan mereka tidak mendapatkan bagian harta warisan disebabkan kedudukannya sebagai zawil arham atau terhijab oleh ahli waris lain.&lt;a name="_ftnref14"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn14"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Calibri;font-size:11pt;"  &gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Menurut pandangan ini, cucu pewaris yang mendapatkan bagian warisan dari ayahnya yang meninggal lebih dahulu dari kakeknya berdasarkan ketentuan &lt;em&gt;wasiat wajibah&lt;/em&gt; bukan ahli waris pengganti yang menduduki posisi ayahnya sebagai ahli waris sebagaimana tersebut di atas. Oleh karenanya bagiannya tidak lebih dari sepertiga dari harta peninggalan. Ketentuan &lt;em&gt;wasiat wajibah&lt;/em&gt; ini dengan mempertimbangkan mengingat cucu pewaris adalah termasuk kerabat dekat (&lt;em&gt;aqrabuun&lt;/em&gt;) dan tidak terjadi gesekan yang mengakibatkan putusnya tali silaturrahim antar keluarga. Pendapat ini memahami sebagaimana dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 180.&lt;a name="_ftnref15"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn15"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Prinsip ini sebagaimana yang dipahami dalam konsep kewarisan Islam di Indonesia selama ini yang cenderung mengikuti madzhab jumhur ulama fiqh seperti as-Syafi’i dan al-Maliki. Menurutnya, bagian waris hanya dapat dibagikan kepada &lt;em&gt;dzawil furudh&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;ashobah&lt;/em&gt;, selain itu, jika keduanya tidak ada, maka diserahkan harta peninggalan tersebut kepada baitul mal. Dengan asumsi bahwa, harta yang diserahkan ke baitul mal lebih manfaat karena untuk kepentingan umum dan oranng banyak dari pada diserahkan kepada kerabat (&lt;em&gt;dzawul arham&lt;/em&gt;) keluarga pewaris yang bersifat individu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;Ahli Waris Pengganti Perspektif KHI&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) adalah diberikannya hak seorang ahli waris yang telah meninggal dunia kepada keturunannya yang masih hidup. Aturan ini tercantum dalam Pasal 185 KHI yang bunyi lengkapnya adalah sebagai berikut : &lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;a) Ahli waris yang meninggal dunia lebih dahulu dari pada si pewaris, maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam Pasal 173. &lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;b) Bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dilihat dari tujuannya, pembaharuan hukum kewarisan tersebut dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah dan menghindari sengketa. Dalam kaitannya dengan hal ini, &lt;em&gt;Soepomo&lt;/em&gt; dalam bukunya bahkan mengatakan bahwa munculnya institusi pergantian tempat didasarkan pada aliran pemikiran bahwa harta benda dalam keluarga sejak semula memang disediakan sebagai dasar material keluarga dan turunannya. Jika seorang anak meninggal sedang orangtuanya masih hidup, anak-anak dari orang yang meninggal dunia tersebut akan menggantikan kedudukan bapaknya sebagai ahli waris harta benda kakeknya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%;"&gt;Namun demikian, KHI juga memberi batasan bahwa harta yang didapat oleh sang cucu bukanlah keseluruhan dari harta yang seharusnya didapat sang ayah, melainkan hanya 1/3 bagiannya saja. Hal ini dapat dipahami dari pasal 185 ayat (2) dengan mengungkapkan ‘tidak boleh melebihi’. Yang secara tidak langsung telah memberi batasan bagian yang diterima. Walaupun demikian, dalam pembaharuan yang terjadi di beberapa Negara muslim lainnya seperti Mesir, Tunisia dan Pakistan, dalam konteks ini sang cucu bisa berlaku menghabiskan seluruh warisan ayahnya yang beralih kepadanya karena sang ayah sudah meninggal dunia terlebih dahulu.&lt;a name="_ftnref16"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn16"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%;"&gt;Secara tegas dalam Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Peradilan Agama&lt;a name="_ftnref17"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn17"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; tentang azas ahli waris langsung dan azas ahli waris Pengganti. &lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;1) Ahli waris langsung (&lt;em&gt;eigen hoofed&lt;/em&gt;) adalah ahli waris yang disebut dalam Pasal 174 KHI.&lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;2) Ahli waris Pengganti (&lt;em&gt;plaatvervulling&lt;/em&gt;) adalah ahli waris yang diatur berdasarkan pasal 185 KHI, yaitu ahli waris pengganti/keturunan dari ahli waris yang disebutkan pada pasal 174 KHI. Diantara ahli waris pengganti yang disebutkan dalam Buku II adalah : &lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;a) Keturunan dari anak mewarisi bagian yang digantikannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;b) Keturunan dari saudara laki-laki/perempuan (sekandung, seayah dan seibu) mewarisi bagian yang digantikannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;c) Kakek dan nenek dari pihak ayah mewarisi bagian dari ayah, masing-masing berbagi sama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;d) Kakek dan nenek dari pihak ibu mewarisi bagian dari ibu, masing-masing berbagi sama. &lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;e) Paman dan bibi dari pihak ayah beserta keturunannya mewarisi bagian dari ayah apabila tidak ada kakek dan nenek pihak ayah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="listparagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt; line-height: 150%;"&gt;f) Paman dan bibi dari pihak ibu beserta keturunannya mewarisi bagian dari ibu apabila tidak ada kakek dan nenek pihak ibu. Selain yang tersebut di atas tidak termasuk ahli waris pengganti.&lt;a name="_ftnref18"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn18"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 35.45pt; line-height: 150%;"&gt;Seiring dengan perkembangannya azas persamaan hak dan kedudukan (&lt;em&gt;equal rightand equal status&lt;/em&gt;) maka ketentuan pasal 185 KHI. yang menegaskan: “Ahli Waris yang meninggal lebih dahulu dari pada si pewaris maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya”, kalimat ‘anaknya’ tersebut dapat dipahami bahwa baik keturunan dari anak laki-laki maupun anak perempuan yang telah meninggal lebih dahulu dari orang tuanya mempunyai kedudukan yang sama. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dari rumusan bunyi pasal 185 yang mengatur tentang ahli waris pengganti timbul beberapa permasalahan yang mengundang silang pendapat, antara lain mengenai: &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt; line-height: 150%;"&gt;a. Apakah penggantian ahli waris bersifat tentatif atau imperatif. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 1cm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt; line-height: 150%;"&gt;b. Apakah jangkaun garis hukum penggantian ahli waris hanya berlaku untuk ahli waris garis lurus ke bawah atau juga berlaku untuk ahli waris garis menyamping. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin: 0cm 0cm 7.8pt 1cm; text-align: justify; text-indent: -14.15pt; line-height: 150%;"&gt;c. Apakah ahli waris pengganti menduduki kedudukan orang tuanya secara mutlak atau secara relatif. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;D. ANALISIS DAN PEMECAHANNYA&lt;/strong&gt;&lt;a name="_ftnref19"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn19"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;a. Sifat Penggantian Ahli Waris. &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Rumusan pasal 185 ayat (1) yang menggunakan kalimat &lt;em&gt;“&lt;/em&gt;dapat digantikan” memunculkan ketidakpastian tampilnya ahli waris pengganti. Kata “dapat” mengandung pengertian yang bersifat &lt;em&gt;fakultatif &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;tentatif &lt;/em&gt;sehingga bisa ditafsirkan ada ahli waris yang mungkin dapat digantikan dan ada yang mungkin tidak dapat digantikan.&lt;a name="_ftnref20"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn20"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Terhadap sifat &lt;em&gt;tentatif-&lt;/em&gt;nya pasal 185 ini menurut &lt;em&gt;Raihan A.Rasyid&lt;/em&gt;&lt;a name="_ftnref21"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn21"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; justeru merupakan pengaturan yang tepat sekali, sebab tujuan dimasukkannya penggatian ahli waris dalam KHI karena melihat kenyataan dalam beberapa kasus, adanya rasa kasihan terhadap cucu pewaris. Artinya penerapan ketentuan penggantian ahli waris ini bersifat kasuistis, sehingga fungsi hakim sangat menentukan dalam menetapkan dapat digantikan atau tidak dapat digantikannya ahli waris. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Pendapat Raihan ini menunjukkan masih kuatnya pengaruh sistem kewarisan Jumhur yang cenderung berbentuk patrilineal sehingga penggantian waris ini semata-mata dipandang sebagai jalan keluar atas rasa belas kasihan kepada cucu yang ditinggal mati orang tuanya lebih dahulu dari pewaris, bukan didasarkan atas statusnya sebagai anggota kerabat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Pendapat Raihan ini mendapat kritik dari &lt;em&gt;Ahmad Zahari&lt;/em&gt;&lt;a name="_ftnref22"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn22"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; yang mengatakan bahwa pendapat seperti itu sebagai bentuk diskriminatif dan tidak adil. Selain itu jika penentuan penggantian ahli waris digantungkan kepada pertimbangan hakim, maka akan menimbulkan ketidakpastian hukum. Sifat tentatifnya pasal 185 menurut Ahmad Zahari, harus dimaknai bukan digantungkan kepada pertimbangan hakim, melainkan digantungkan kepada kehendak ahli waris pengganti, apakah ia akan menempatkan posisi yang telah disediakan atau tidak. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Lanjut Raihan, Pemberian hak kepada ahli waris pengganti merupakan kebijakan yang sangat baik dan sejalan dengan misi Islam sebagai &lt;em&gt;rahmatan lil ‘alamin&lt;/em&gt;. Menurutnya, pemberian hak kepada ahli waris pengganti ini merupakan penggambaran atas fenomena ketidakadilan yang terjadi di masyarakat, sehingga sepantasnya apabila cucu diberikan bagian dari harta warisan kakek atau neneknya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Pandangan Raihan di atas ada benarnya, namun kiranya tidak tepat jika pemberian hak kewarisan kepada ahli waris pegganti semata-mata didasarkan atas rasa belas kasihan karena faktor ekonomi. Jika pemberian hak mewaris itu didasarkan oleh faktor ekonomi tentu al-Qur’an membatasi pemberian hak kewarisan hanya kepada ahli waris yang ekonominya lemah, sedangkan ahli waris yang ekonominya kuat tidak perlu diberikan hak, namaun pada kenyataannya al-Qur’an menetapkan tidak demikian. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Al-Qur’an dalam menetapkan hak kewarisan tidak hanya terbatas kepada ahli waris yang miskin saja, melainkan juga kepada ahli waris yang kaya. Meskipun orang tua pewaris kaya raya, sementara anak-anak pewaris sangat miskin, al-Qur’an telah menetapkan hak bagi orang tua pewaris. Demikian juga sebaliknya, meskipun anak-anak pewaris kaya raya sedangkan orang tuanya sangat miskin, Al-Quran tetap memberikan hak kepada anak-anak pewaris. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Ini membuktikan bahwa Al-Qur’an dalam menetapkan pemberian hak kewarisan kepada seseorang bukan digantungkan kepada kondisi ekonomi, melainkan didasarkan kepada kedudukannya sebagai anggota kerabat. Adapun faktor ekonomi sebagaimana dikemukakan oleh Raihan, hal itu hanyalah menjadi penguat perlunya memberikan hak kepada ahli waris pengganti. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Persoalan lain akibat sifat tentaifnya aturan ahli waris pengganti adalah dapat menimbulkan ketidakkonstannya kedudukan ahli waris pengganti ketika mempunyai dua kedudukan. Cucu laki-laki dari anak laki-laki yang ditinggal mati ayahnya bisa mempunyai dua kedudukan sekaligus yaitu sebagai ahli waris ashabah dan sebagai ahli waris pengganti. Apabila cucu tersebut diberikan kebebasan untuk memilih, sudah tentu akan memilih kedudukan yang lebih menguntungkan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Sebagai contoh misalnya, seorang cucu laki-laki dari anak laki-laki mewarisi bersama delapan orang anak perempuan. Jika cucu menempati kedudukan ahli waris pengganti dan diberikan kedudukan sama seperti anak laki-laki, maka bagian yang diterima 2/10 (asal masalah 2+8=10), sedangkan jika diberi bagian tidak boleh melebihi bagian bibinya, maka bagian yang diterima akan lebih kecil yakni paling banyak 1/9 (asal masalah 1+8=9).&lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Bagian cucu akan menjadi lebih besar apabila cucu menempati kedudukaannya selaku ashabah yaitu mendapat bagian 1/3, sedang yang 2/3 untuk delapan anak perempuan selaku &lt;em&gt;zawil furudl&lt;/em&gt;. Apabila cucu diberikan kebebasan untuk memilih sudah barang tentu cucu akan memilih menempati kedudukannya sebagai ashabah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Kebolehan untuk memilih seperti ini tentu dirasa tidak adil oleh anak perempuan, sebab kalau saja saudaranya (anak laki-laki pewaris) tidak meninggal lebih dahulu, maka mereka bersama-sama menduduki kedudukan &lt;em&gt;ashabah bil ghair &lt;/em&gt;sehingga bagian anak laki-laki hanya 2/10 dan anak perempuan 1/10. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Menempatkan cucu sebagai ashabah dengan menerima bagian 1/3 tentu dirasa tidak adil, sebab bagian yang diterima jauh lebih besar dari bagian ayahnya jika masih hidup yakni 2/10. Oleh karena itu hak opsi yang dikemukakan oleh Ahmad Zahari bahwa ahli waris pengganti boleh memilih antara menempatkan atau tidak menempatkan dirinya sebagai ahli waris pengganti dapat menimbulkan ketidakadilan di samping mengakibatkan adanya ketidakpastian hukum. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Adanya opsi dalam satu tatanan hukum akan menghilangkan sifat keuniversalan sebuah aturan dan menimbulkan ketidakpastian hukum. Dalam membuat suatu aturan harus selalu diupayakan dapat diberlakukan secara konstan dalam kondisi dan situasi papun untuk mewujudkan kepastian hukum. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Satu-satunya cara untuk mengatasi problem tentang kedudukan ahli waris pengganti ini adalah dengan memberlakukan penggantian ahli waris secara &lt;em&gt;imperatif &lt;/em&gt;yakni setiap ahli waris yang meninggal lebih dahulu daripada pewaris harus digantikan oleh anak-anaknya. Mereka tidak diberi peluang untuk memilih kedudukan mana yang menguntungkan, sebab jika diberikan peluang untuk itu, maka pasti akan ada ahli waris lain yang dirugikan. Adapun cara yang ditempuh untuk merubah sifat tentatifnya pasal 185 ayat (1) adalah dengan menghilangkan kata “&lt;em&gt;dapat&lt;/em&gt;“ sehingga berbunyi: “&lt;em&gt;Ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pada si pewaris kedudukannya digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam pasal 173&lt;/em&gt;”. Dengan merubah bunyi pasal tersebut, maka tidak ada lagi opsi untuk memilih bagian yang menguntungkan dan tidak ada lagi penentuan ahli waris pengganti digantungkan kepada pertimbangan hakim. Dengan demikian, maka sifat diskrimainatif, ketidakadilan dan ketidakpastian hukum dapat teratasi. Sebelum dilakukannya perubahan atas bunyi pasal 185 KHI, kiranya Mahkamah Agung dapat mengeluarkan peraturan mengenai petunjuk penerapan pasal 185 ayat (1) dengan memberlakukannya secara &lt;em&gt;imperatif&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;b. Jangkauan Garis Hukum Penggantian Ahli Waris. &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 13.65pt; line-height: 150%;"&gt;Permasalahan lain berkaitan dengan ahli waris pengganti adalah apakah penggantian ahli waris hanya berlaku bagi ahli waris garis lurus ke bawah atau juga berlaku untuk ahli waris garis menyamping. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 13.65pt; line-height: 150%;"&gt;Terhadap masalah ini, Raihan&lt;a name="_ftnref23"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn23"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; berpendapat bahwa penggantian ahli waris hanya diberlakukan dalam garis lurus ke bawah, itupun jika ahli warisnya hanya antara anak dan cucu. Raihan menambahkan, pemberlakuan yang lebih luas ke garis menyamping dapat diberlakukan dengan syarat mendapat persetujuan dari ahli waris lain yang akan berkurang bagiannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 13.65pt; line-height: 150%;"&gt;Pendapat berbeda dikemukakan oleh Idris Djakfar dan Taufiq Yahya.&lt;a name="_ftnref24"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn24"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; Menurut mereka, jangkauan penggantian ahli waris meliputi seluruh garis hukum, baik garis ke bawah maupun menyamping. Sebagaimana telah dimaklumi bahwa sistem kewarisan KHI berbetuk bilateral, maka sebagai konsekuensinya tidak ada pembedaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan sampai garis hukum manapun. Oleh karena itu jika KHI konsisten menghapuskan diskriminasi tersebut, maka mau tidak mau jangkauan penggantian ahli waris ini harus meliputi seluruh garis hukum. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 13.65pt; line-height: 150%;"&gt;Apabila KHI memandang adanya ketidak-adilan yang dirasakan oleh cucu dari anak perempuan yang menurut &lt;em&gt;Jumhur &lt;/em&gt;tidak mendapat bagian karena berstatus &lt;em&gt;zawil arham&lt;/em&gt;, atau oleh cucu perempuan dari anak laki-laki karena terhijab oleh anak laki-laki, tentunya KHI juga harus memandang adanya ketidakadilan terhadap sepupu (anak perempuan paman) yang tidak dapat menerima bagian akibat adanya anak laki-laki paman. Mereka merupakan orang-orang yang sama-sama tidak bernasib baik dilahirkan sebagai perempuan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 13.65pt; line-height: 150%;"&gt;Mengenai jangkauan keberlakuan penggantian ahli waris ini, sebenarnya telah terakomodir dalam bunyi pasal 185 ayat (1) yang menyatakan: “&lt;em&gt;&lt;u&gt;Ahli waris&lt;/u&gt; yang meninggal lebih dahulu dari pada si pewaris, maka kedudukannya dapat digantikan oleh &lt;u&gt;anaknya&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;”. Apabila dicermati bunyi pasal tersebut, polemik tentang hal ini tidak perlu terjadi karena secara harfiah sudah memberikan makna bahwa jangkauan penggantian ahli waris itu meliputi seluruh garis hukum baik ke bawah maupun menyamping. Pemahaman demikian, dapat diperoleh dengan menyimak dua kata kunci yang ada pada pasal tersebut yaitu kata “ahli waris” dan kata “anaknya”. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 13.65pt; line-height: 150%;"&gt;Dari segi bahasa kata ahli waris merupakan lafal “&lt;em&gt;nakirah&lt;/em&gt;“ yang mencakup seluruh ahli waris tidak terbatas kepada ahli waris tertentu. Dengan demikian, maka kata anaknya memberi pengerian anak dari semua ahli waris baik dari garis ke bawah maupun menyamping. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 13.65pt; line-height: 150%;"&gt;Apabila dalam suatu ketentuan hukum tidak ditemukan adanya pembatasan atas keumumannya, maka keumuman itu yang diberlakukan. Dengan berpedoman kepada keumuman lafal tersebut, maka cucu, maupun sepupu meskipun sampai jauh mereka dapat menjadi ahli waris pengganti. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 13.65pt; line-height: 150%;"&gt;Kesimpulan ini didukung oleh tidak dikenalnya &lt;em&gt;zawil arham &lt;/em&gt;dalam KHI. Dengan tidak dikenalnya &lt;em&gt;zawil arham &lt;/em&gt;memberi petunjuk bahwa semua kerabat pewaris dapat tampil sebagai ahli waris melalui penggantian ahli waris sepanjang tidak terhijab oleh ahli waris yang lebih utama. Oleh karena itu anak-anak saudara laki-laki maupun anak-anak saudara perempuan baik laki-laki atau perempuan serta anak-anak paman baik laki-laki maupun perempuan dapat menjadi ahli waris pengganti. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;c. Kedudukan Ahli waris Pengganti dan Bagiannya. &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 20.7pt; line-height: 150%;"&gt;Permasalahan kedudukan ahli waris pengganti timbul akibat adanya pembatasan bagian sebagaimana diatur dalam pasal 185 ayat (2) yang menyatakan: “&lt;em&gt;Bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti&lt;/em&gt;”. Yang menjadi permasalahan, mengapa dalam pasal ini menggunakan kalimat “yang sederajat”, tidak mencukupkan dengan kalimat “&lt;em&gt;Bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi bagian ahli waris yang diganti&lt;/em&gt;” dengan menghilangkan kalimat ‘&lt;em&gt;yang sederajat’&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 20.7pt; line-height: 150%;"&gt;Terjadi perbedaan pendapat dalam memaknai maksud pasal 185 ayat (2). Ahmad Zahari&lt;a name="_ftnref25"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn25"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; berpendapat makna sederajat itu meliputi tempat, kedudukan dan hak-hak tanpa batas dan tanpa diskriminasi antara laki-laki dan perempuan, sehingga ahli waris pengganti menempati kedudukan orang tuanya secara mutlak. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 20.7pt; line-height: 150%;"&gt;Penggantian tempat artinya menggantikan tempat orang tuanya, dan penggantian derajat artinya menggantikan derajat laki-laki dengan laki dan derajat perempuan dengan perempuan, sedangkan penggantian hak artinya menggantikan hak sesuai dengan hak yang dimiliki orang tuanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 20.7pt; line-height: 150%;"&gt;Jika orang tua yang digantikan itu laki-laki, maka ahli waris pengganti menduduki kedudukan dan menerima hak sebagai laki-laki meskipun ahli waris pengganti itu sendiri perempuan. Sebaliknya jika orang tua yang digantikan itu perempuan, maka ahli waris pengganti menduduki kedudukan dan menerima hak sebagai perempuan meskipun ahliwaris pengganti itu sendiri laki-laki. Pendapat Ahmad Zahari ini sama dengan konsep mawalinya Hazairin. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 20.7pt; line-height: 150%;"&gt;Sedangkan pendapat lain, di antaranya Syaifuddin (Hakim PA Binjai) menyatakan, yang dimaksud sederajat adalah jihat kekerabatannya sama dan dihubungkan oleh orang yang sama tanpa membedakan laki-laki dan perempuan&lt;a name="_ftnref26"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn26"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;, misalnya anak sederajat dengan anak, saudara sederajat dengan saudara dan sebagainya. Dengan penafsiran ini maka bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian anggota kerabat yang sederajat jihatnya, seperti cucu laki-laki dari anak laki yang menggantikan kedudukan ayahnya tidak boleh melebihi bagian bibinya (anak perempuan pewaris) karena kedudukan bibi sederajat dengan ayahnya. Pendapat demikian sama dengan pendapat beberapa hakim agama di lingkungan PTA Kalimantan Barat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 20.7pt; line-height: 150%;"&gt;Pendapat Syafuddin dan para hakim agama Kalimantan Barat ini dikritik oleh Ahmad Zahari&lt;a name="_ftnref27"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn27"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt; dengan menyatakan bahwa cara seperti itu tidak sesuai dengan arti penggantian yang seharusnya, bersifat diskriminatif dan menimbulkan ketidakpastian hukum. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 20.7pt; line-height: 150%;"&gt;Perbedaan pendapat di atas disebabkan perbedaan penggunaan metode penemuan hukum. Ahmad Zahari cenderung menggunakan metode &lt;em&gt;penafsiran komparasi &lt;/em&gt;(&lt;em&gt;comparatief&lt;/em&gt;) dengan membandingkan kepada pendapat Hazairin, sedangkan Syaifuddin dan para hakim agama Kalimantan Barat menggunakan metode &lt;em&gt;penafsiran gramatikal&lt;/em&gt; dengan melihat susunan kalimatnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 20.7pt; line-height: 150%;"&gt;Kedua penafsiran ini secara ilmiah dapat diterima, tetapi tidak mungkin keduanya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh KHI. Jika tidak ada penafsiran lain, pastilah hanya satu di antara keduanya yang sesuai. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 20.7pt; line-height: 150%;"&gt;Apabila mendasarkan kepada kaidah umum bahwa setiap penggantian mempunyai konsekuensi menggantikan segala sesuatu yang ada pada orang yang digantikan baik kedudukan, hak maupun kewajibannya, maka pendapat Ahmad Zahari dipandang lebih logis. Namun apakah demikian yang dikehendaki oleh KHI, atau barangkali pendapat Syaifuddin dan para hakim agama Kalimantan Barat yang lebih sesuai. Untuk mengetahui hal tersebut perlu memperhatikan latar belakang dibuatnya aturan itu, atau dengan kata lain perlu dilakukan penafsiran historis. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 20.7pt; line-height: 150%;"&gt;Menurut Yahya Harahap salah seorang yang terlibat langsung dalam mempersiapkan sekaligus merumuskan KHI menyatakan, bahwa diadakannya aturan ahli waris pengganti adalah untuk memenuhi rasa keadilan dan perikemanusiaan di mana seorang tidak wajar dihukum untuk tidak mendapatkan warisan dari kakeknya hanya karena orang tuanya telah meninggal lebih dahulu&lt;a name="_ftnref28"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://pa-kotabumi.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=178:ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan-islam-perspektif-madzhab-nasional&amp;amp;catid=10:artikel&amp;amp;Itemid=110#_ftn28"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;. Pendapat tersebut hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Raihan A.Rasyid sebagaimana telah dikemukakan di atas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 20.7pt; line-height: 150%;"&gt;Drs. H. Taufiq, SH. M.Hum mantan Wakil Ketua Mahkamah Agung R.I yang juga terlibat dalam penyusunan KHI memberikan penjelasan bahwa pada saat disusunnya KHI terjadi perdebatan yang hangat antara pihak yang kental memegangi pendapat Jumhur dengan pihak yang menghendaki perubahan dengan mengadopsi sebagian pendapat Hazairin. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 20.7pt; line-height: 150%;"&gt;Dengan adanya perbedaan pendapat itu, maka hasil maksimal yang diperoleh sebagaimana tertuang dalam KHI. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 20.7pt; line-height: 150%;"&gt;Memperhatikan latar belakang pengaturan ahli waris pengganti di atas, maka pendapat Syaifuddin dan para hakim agama Kalimantan Barat lebih sesuai dengan maksud bunyi pasal 185 ayat (2) KHI. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 20.7pt; line-height: 150%;"&gt;Terlepas dari penafsiran di atas, yang pasti pemberian bagian kepada ahli waris pengganti dalam KHI merupakan solusi atas ketidakadilan yang selama ini terjadi akibat pemberlakuan hukum kewarisan yang cenderung patrininealistik. Sebagai jalan tengah antara pihak yang menghendaki perubahan dengan pihak yang mempertahankan kemapanan, kiranya wajar jika bagian ahli waris pengganti (untuk sementara) dibatasi sebesar bagian saudara yang digantikan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 20.7pt; line-height: 150%;"&gt;Dengan memperhatikan beberapa segi negatif atas pembatasan seperti itu, maka seyogyanya penggantian ahli waris itu bersifat mutlak. Artinya ahli waris pengganti selalu menduduki kedudukan orang yang digantikan dan mendapat bagian sebesar bagian yang seharusnya diterima apabila ia hidup. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;E. PENUTUP &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Perbedaan tentang eksistensi ahli waris pengganti selalu muncul dalam setiap diskusi mengenai hukum kewarisan di Indonesia, sumber permasalahan terletak pada sifat tentatifnya penggantian ahli waris, kedudukan ahli waris pengganti, dan jangkauan keberlakuan penggantian ahli waris. Akibat dari perbedaan sudut pandang tersebut mengakibatkan tidak adanya kepastian hukum serta dapat menimbulkan ketidakadilan akibat digunakannya opsi yang menguntungkan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Sebuah aturan yang ideal adalah apabila ketentuan yang ada tidak mengundang multi tafsir sehingga kepastian hukum dapat diperoleh dan keadilan dapat terwujud. Untuk mengatasi permasalahan ini, seyogyanya kententuan tentang ahli waris pengganti dalam KHI ditinjau kembali dengan merubah beberapa prinsip yang menjadi sumber perdebatan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt; line-height: 150%;"&gt;Perubahan dimaksud adalah merubah sifat tentatifnya penggantian ahli waris menjadi sifat imperatif. Ahli waris pengganti harus didudukan dalam kedudukan orang tuanya tanpa adanya hak opsi dan diberikan bagian sama dengan yang digantikan. Selain itu jangkaun penggantian ahli waris harus meliputi garis hukum ke bawah dan menyamping. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin: 0cm 0cm 13.05pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;F. DAFTAR PUSTAKA &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;1. Al-Quran al-karim&lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;2. Abdullah Ahmed an-Na’im, &lt;em&gt;Dekonstruksi Syari’ah: Wacana Kebebasan Sipil, Hak Asasi Manusia dan Hubungan Internasional dalam Islam&lt;/em&gt;, (Yogyakarta: LKIS, 1994).&lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;3. Abu Zahrah, &lt;em&gt;Ushul al-Fiq&lt;/em&gt;, Kairo, Dar al-Fikri al-Arabiah, t.t. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;4. Abdullah Siddik, &lt;em&gt;Hukum Kewarisan Islam&lt;/em&gt;, Jakarta, Wijaya, 1980. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;5. Ahmad Azhar Basyir, &lt;em&gt;Corak Lokal Dalam Hukum Positif, Sebuah Tinjauan Filosofis&lt;/em&gt;, dalam Cik Hasan Basri, &lt;em&gt;Hukum Islam Dalam Tatanan Masyarakat Indone&lt;/em&gt;sia, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1998. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;6. Ahmad Zahari, &lt;em&gt;Tiga versi Hukum Kewarisan Islam, (Syafi’i, Hazairin dan KHI), &lt;/em&gt;Pontianak, Romeo Grafika, 2006. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;7. Ali Parman, &lt;em&gt;Kewarisan dalam Al-Qur’an, Suatu Kajian Hukum Dengan Pendekatan Tafsir Tematik&lt;/em&gt;, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1995. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;8. Amir Syarifuddin, &lt;em&gt;Pelaksanaan Hukum Kewarisan islam Dalam Lingkungan Adat Minangkabau&lt;/em&gt;, Jakarta, Gunung Agung, 1984. &lt;/p&gt;  &lt;p class="default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;9. Amir Nurruddin, &lt;em&gt;Ijtihad Umar Ibn al-Khattab&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Studi tentang Perubahan Hukum dalam Islam&lt;/em&gt;, Jakarta, Rajawali Press, 1987. &lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;10. Anwar Haryono, &lt;em&gt;Hukum Islam Keluasan dan Keadilannya&lt;/em&gt;, Jakarta, Bulan Bintang 1968.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-4271642241629693229?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/4271642241629693229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/4271642241629693229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/4271642241629693229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/12/ahli-waris-pengganti-dalam-kewarisan.html' title='Ahli Waris Pengganti Dalam Kewarisan Islam Perspektif Madzhab Nasional'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-6802848970105571728</id><published>2011-11-03T16:40:00.000-07:00</published><updated>2011-12-10T01:09:31.325-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Pengadilan Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Hak-Hak Istri Pasca Perceraian</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Perkawinan adalah merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan untuk membentuk suatu keluarga (rumah tangga) yang kekal dan bahagia . dalam UU No 1 Tahun 1974 Pasal 1 disebutkan bahwa “tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yanng bahagia, kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” senada pula dengan bunyi Pasal 3 KHI bahwa tujuan perkawinan adalah” untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah”.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Begitu indah dan mulia tujuan perkawina itu. Akan tetapi….ternyata untuk mencapai dan mewujudkan tujuan tersebut tidaklah segampang yang diucapkan, tidaklah semudah yang diangankan. Karena manakala setelah perkawinan itu dijalani, banyak onak dan duri menghalangi, kerikil dan karang terjal menghadang,ombak dan gelombang pasang menerjang, maka biduk yang bernama rumah tangga itupun kerap tenggelam dan ahirnya karam. Maka ketika sebuah biduk perkawinan telah usai, dan penumpangnya bercerai berai, yang tersisa tinggallah puing-puing permasalahan. dan yang paling menderita akibat karamnya sebuah biduk perkawinan adalah anak..!&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;A. Ketika perkawinan tak lagi dapat dipertahankan.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sebuah perkawinan tidak selamanya baik-baik saja, tak selalu damai-damai saja, manakala ikatan cinta kasih sebagai fondasi penting dalam perkawinan itu sudah terurai dan tidak bisa dipertahankan lagi, maka perceraian adalah jalan yang kerap diambil suami atau isteri untuk menyelesaikan permasalahannya..&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Perceraian adalah pemutusan ikatan perkawinan. Putusnya perkawinan adalah istilah hukum yang digunakan dalam UU Perkawinan untuk menjelaskan “ berahirnya hubungan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita yang selama ini hidup dalam sebuah atap yang bernama rumah tangga.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Putusnya perkawinan secara yuridis adalah merupakan suatu peristiwa hukum yang akan membawa akibat-akibat hukum, baik hukum kekeluargaan maupun hukum kebendaan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Dalam buku Hukum Perkawinan Islam di Indonesia ( Prof. DR. Amir Syarifuddin) dikatakan bahwa bila suatu ikatan perkawinan putus, maka ada hukum yang berlaku sesudahnya yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hubungan antara keduanya      berlaku seperti antara dua orang yang saling asing. Putusnya perkawinan      mengembalikan status halal yang tadinya didapat dari perkawinan melalui      akad nikah menjadikan kembali pada status semula yaitu haram, tidak boleh      berpandangan, bersentuhan, apalagi melakukan hubungan suami isteri yang      sebutannya menjadi perbuatan zina.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Adanya suatu keharusan bagi      suami memberi mut’ah kepada isteri yang diceraikannya sebagai suatu      konpensasi. Namun dalam kewajiban memberi mut’ah ini dikalangan ulama      terjadi perbedaan pendapat. golongan Zahiriyah merpendapat bahwa mut.ah      itu hukumnya wajib.dasar wajibnya adalah terdapat dalam ayat 241 surat      Al-Baqarah, yang artinya “ Untuk isteri-isteri yang diceraikan itu      hendaklah ada pemberian dalam bentuk mut’ah secara patut, merupakan hak      atas orang yang bertaqwa”. Golongan ulama Malikiyah berpendapat hukumnya      mut’ah itu adakah sunnah dengan alasan karena lafadz “haqqan “alal      Muttaqien” itu tidak menunjukan wajib’. Golongan lain mengatakan bahwa      kewajiban memberi mut’ah itu berlaku tergantung pada keadaan tertentu,      dalam keadan tertentu itupun terdapat perbedaan pendapat. Ulama Hanafiyah      mengatakan hukumnya wajib untuk suami yang akan menceraikan isterinya      sebelum digauli dan maharnya belum ditentukan sebelumnya. Golongan ini      mendasarkan pada surat Al-Baqarah ayat 236. Sedangkan Jumhur ulama      berpendapat bahwa mut’ah itu hanya wajib diberikan oleh suami yang      menghendaki perceraian, seperti thalak. Mungkin inilah yang mendasari      pemberlakuan keharusan pemberian mut’ah bagi suami yang akan menceraikan      isteri, yang berlaku dalam hukum perkawinan di Indonesia, yang tertuang      dalam KHI Pasal 158 huruf a dan b sementara hanya sunnah saja bagi suami      memberi mut’ah apabila tidak memenuhi syarat seperti yang tercantum dalam      Pasal 158 tersebut.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Melunasi utang yang yang      wajib dibayarnya dan belum dibayar ketika sedang dalam ikatan perkawinan,      berupa maskawin atau nafakah.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Adanya iddah yang berlaku      atas isteri yang diceraikan yang menjalani masa iddah itu adalah perempuan      yang bercerai dari suaminya, baik cerai hidup ataupun cerai akibat      ditinggalkan mati oleh suaminya, sedang dalam keadaan mengandung (hamil)      ataupun tidak wajib menjalani masa iddah.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Adanya akibat hukum bagi      pemeliharaan anak atau hadlanah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;B. Ada hak isteri yang didapat pasca perceraian&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;1. Bila terjadi perceraian atas inisiatif suami, maka bekas isteri berhak mendapatkan nafkah lahir dari suami selama masa iddah.&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Hal tersebut tercantum dalam pasal 149 KHI huruf (b). Dan dalam pasal 151KHI tersebut diwajibkan bahwa “bekas isteri yang sedang dalam masa iddah wajib menjaga dirinya, tidak menerima pinangan dan tidak menikah dengan laki-laki lain” maka konsekwensi logis dari kewajiban tersebut adalah bekas suami wajib memenuhi nafkah lahir, sebagai hak yang harus didapatkan akibat kewajibannya tersebut, kecuali isteri berlaku nusyuz, maka tak ada hak nafkah iddah baginya. Namun perlu diketahui pula bahwa hak nafkah yang diterimanya apakah secara penuh atau tida juga adalah tergantung dari pada bentuk perceraiannya, bukan pada lamanya masa iddahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Hak isteri yang bercerai dari suaminya dihibungkan dengan hak yang diterimanya itu ada 3 (tiga), macam ( Prof.DR. Amir Syarifuddin) yaitu:&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;1). Isteri yang dicerai dalam bentuk talak Raj’I, dalam hal ini para ulama sepakat bahwa hak yang diterima bekas isteri adalah penuh, sebagaimana yang berlaku pada saat berumah tangga sebelum terjadi perceraian, baik sandang maupun pangan dan tempat kediaman.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;2). Seorang isteri yang dicerai dalam bentuk Ba’in, apakah itu ba’in sughra atau ba’in kubra, dan dia sedang hamil berhak atas nafkah dan tempat tinggal. Dalam hal ini para ulama sepakat, dasar hukum yang diambil oleh golongan ini adalah Al-Qur’an surat At-Thalaq ayat 6. Tetapi bila isteri tersebut dalam keadaan tidak hamil, maka terdapat perbedaan pendapat seperti antara lain Ibnu Mas’ud, Imam Malik dan Imam Syafi’i bekas isteri tersebut hanya berhak atas tempat tinggal dan tidak berhak atas nafkah. Adapun Ibnu Abbas dan Daud Adzdzahiriy dan beberapa ulama lainnya berpendapat bahwa bekas isteri tersebut tidak mendapat hak atas nafkah juga tempat tinggal, mereka mendasarkan pendapatnya pada alasan bahwa perkawinan itu telah putus sama sekali serta perempuan itu tidak dalam keadaan mengandung.. Mungkin pendapat ini yang dipakai dasar dalam ketentuan KHI dalam hal istri dijatuhi dengan bain dan dalam keadaan tidak hamil tidak mendapatkan nafkah, maskan dan kiswah ( Pasal 149 huruf (b) KHI.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;3). Hak istri yang ditinggal mati oleh suaminya. Bila si isteri tersebut dalam keadaan mengandung para ulama sepakat isteri itu berhak atas nafkah dan tempat tinggal, namun bila tidak dalam keadaan hamil para ulama terjadi perbedaan pendapat yaitu: al. Imam Malik. Imam Syafi’iy mengatakan “berhak atas tempat tinggal”, sedangkan sebagian ulama lainnya seperti Imam Ahmad berpendapat bila isteri tidak hamil maka tidak berhak atas nafkah dan tempat tinggal, karena ada hak dalam bentuk warisan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Hak isteri atas harta bersama&lt;/em&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Harta bersama dalam khazanah Fiqh Islam memang pada dasarnya tidak populer, sehingga tidak ada pembahasan khusus dalam fiqh.Namun di Indonesia harta sejenis ini memang dikenal dan ada dihampir semua daerah. sehingga lahirlah berbagai istilah yang ada di masyarakat. seperti antara lain di sunda dikenal dengan seburtan “ guna kaya atau tumpang kaya”, di Madura dikenal dengan sebutan”ghuna –ghana” istilah suku Jawa adalah” gono-gini. dan lain sebagainya. Mungkin atas dasar keadaan adat di Indonesia seperti inilah sehingga dalam UU No.1 Thun 1974 Tentang Perkawinann Pasal 35, 36 dan 37 serta tercantum pula dalam KHI mulai dari Pasal 85 sampai Pasal 97.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Berdasarkan kenyataan bahwa banyak suami isteri yang sama-sama membanting tulang dalam upaya memenuhi kebutuhan nafkah keluarga sehari-hari, dan fenomena kekinian yang justru banyak isteri yang mendapat penghasilan lebih banyak daripada suami. Saat ini peraturan mengenai harta bersama ini masih berlaku pembagian sama yang didapat oleh istri maupun suami dengan tanpa melihat apakah dan siapakah yang paling banyak menghasilkan income selama berumah tangga. Tetapi mungkin saat ini kita boleh mengharap dengan adanya RUU Hukum Terapan Peradilan Agama Bidang Perkawinan yang mudah2an dapat melahirkan aturan yang berkeadilan gender.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Dalam pembagian harta bersama ini mungkin diharapka lebih pada prinsip keadilan dan perlunya kesadaran dari kedua belah pihak agar tidak terjadi kezaliman yang berawal dari pelanggaran hak.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3. Hak atas Mut’ah&lt;/em&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Menurut Fiqh Islam telah disinggung sebelumnya, sedangkan dalam KHI terdapat 3 (tiga) Pasal yang membicarakan tentang mut’ah ini, yaitu dalam Pasal 158, 159, dan Pasal 160, yang menyebutkan bahwa seorang suami yang hendak mencerai isterinya wajib memberi mut’ah dengan syarat:&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;a. Belum ditetapkan maharnya bagi isteri yang qobla dukhul;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;b. Perceraian itu atas kehendak suami;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tetapi pemberian mut’ah ini hanyalah sunnah diberikan oleh bekas suami bila tanpa syarat-syarat tersebut, dan besarnya mut’ah juga di isesuaikan dengan kepatutan dan kemampuan suami;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;4. Hak atas hadlanah&lt;/em&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dalam istilah Fiqh hadlanah ini disebut juga dengan Kafalah yang pengertiannya sama yaitu ”pemeliharaan” atau “pengasuhan”. Seorang isteri yang bercerai dengan suaminya juga mempunyai hak atas pengasuhan anak yang belum mumayiz, kecuali ditentukan lain oleh UU yang membatalkan haknya tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Menurut Guru besar fiqh Islam dari suriyah Wahbah Az-Zuhaili: “Hak hadlanah adalah hak berserikat antara ibu, ayah dan anak, meski bila terjadi pertentangan hak yang diprioritaskan adalah hak anak.” Ketika penulis mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Pusat Studi Wanita dalam kegiatan penyusunan best praktis hak-hak dalam keluarga, hak isteri atas hadlanah ini juga termasuk dibicarakan karena maraknya kasus seorang isteri yang dicerai oleh suaminya sangat alot dalam mempertahankan dan memperjuangkan keinginanya untuk memelihara anaknya yang masih belum mumayiz, yang oleh suaminya dipertahankan pula. dengan tanpa melihat kepentingan si anak yang masih sangat membutuhkan dekapan kasih sayang seorang ibu karena masih menyusu misalnya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Ketika perspektif hukum kurang adil gender&lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ketika seorang istri sudah tidak lagi dapat menahan beban tekanan fisik dan psikis, ekonomi bahkan seksual, yang ahirnya membawa langkah kakinya memohon pada pengadilan untuk bercerai dengan suaminya dan memohon atas haknya tersebut, namun apa mau dikata hukum dan keadilan yang diharapkannya kerap tidak berfihak padanya, meski di pengadilan terungkap fakta, bahwa dibalik alasan gugat cerainya itu adalah karena sudah sampai pada titik jenuh, muak dan benci atas prilaku suami yang sudah tak dapat lagi ia tanggung, justru harus gigit jari, karena hukum saat ini masih kurang pro gender.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dinamika sosial baru yang terus didukung berbagai kalangan diharapkan dapat melakukan terobosan pembaharuan hukum yang adil gender sehingga melahirkan pembentukan peundang-undangan yang konstruktif bagi pemenuhan hak-hak perempuan. meski demikian spirit dari pemikiran berkeadilan gender saat ini telah dapat menginspirasi sebagian besar para hakim Pengadilan agama baik karena adanya tuntutan balik dari pihak istri atau pun atas dasar kewenangan hakim secara ex officio dapatlah memutus dengan adil gender yang memang sudah seharusnya menjadi hak seorang istri yang diceraikan oleh suami.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Manfaatkan peluang yang ada.&lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ahirnya pada sebuah pemahaman bahwa sesungguhnya isteri yang bercerai dengan suaminya mempunyai hak yang bisa diraihnya, namun keadaanlah yang memaksa sehingga masih banyak bekas istri yang tidak bisa mendapatkan hak-haknya tersebut, namun sesungguhnya ada banyak peluang yang bisa diambil oleh para hakim, dalam rangka setidaknya mengurangi ketimpangan relasi gender. Hanya diperlukan terobosan dan keberanian dalam membaca yang tersurat dan tersirat, baik dalam konteks sebuah aturan atau menoleh pada aspek philososi sosial dan nilai-nilai hukum yang dapat diambil untuk kita wujudkan dalam memenuhi rasa keadilan bagi suami ataupun istri.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Peluang itu antara lain adalah: &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;1. Mengoptimalkan Pasal 41 UU No. 1 Tentang Perkawinan dan Pasal 27 PP No. 9 Tahun1975&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;2. Menggunakan yurisprudensi Mahkamah Agung : isteri yang menggugat suami tetap memiliki hak atas nafkah terhadap kesalahan yang dilakukan oleh suami.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Mungkin ini hanya sebuah tulisan yang tidak bermakna apa2-apa tetapi dengan niat yang iklas semoga ada manfaatnya meskipun hanya sejumput debu. Dan mungkin pula terlalu banyak kekurangannya namun dari lubuk hati yang paling dalam tulisan ini diakui sangat jauh dari sempurna karena hanya Allah lah Sang pemilik Kesempurnaan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Wassalam.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-6802848970105571728?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/6802848970105571728/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/11/hak-hak-isteri-pasca-perceraian.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/6802848970105571728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/6802848970105571728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/11/hak-hak-isteri-pasca-perceraian.html' title='Hak-Hak Istri Pasca Perceraian'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-485513537162239116</id><published>2011-11-03T16:31:00.000-07:00</published><updated>2011-11-03T16:39:11.231-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Pengadilan Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Hak-Hak Istri Dalam Proses Perceraian</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p&gt;I.    PENDAHULUAN&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam sebuah hadits Riwayat Al Khatib dari Ans Rasulullah SAW  bersabda : Al Jannatu tahta agdamil ummahati, surga itu di bawah telapak kaki ibu. Dalam riwayat yang lain diceritakan bahwa seseorang pernah menghadap Rasulullah SAW dan bertanya : “siapakah orang yang lebih berhak aku layani dengan sebaik-baiknya. Rasulullah menjawab : “Ibumu”. Kemudian siapa? Tanya orang itu lagi, nabi menjawab “ibumu”, lalu siapa? “ibumu”. Kemudian siapa lagi : “Bapakmu”.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Alangkah hebatnya penghormatan yang diberikan ajaran Islam terhadap seorang wanita sebagai ibu. Penghormatan kepada ayah hanya sepertiga bagian dari penghormatan yang diberikan kepada ibu sebuah penghormatan yang luar biasa dan istimewa.&lt;br /&gt;Akan tetapi hal ini sering hanya berhenti pada tataran teoritik. Dalam praktek sering terjadi perlakuan kekerasan dan pelecehan dari seorang laki-laki (suami) terhadap seorang perempuan (istri).&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Data statistik pada Ditjen Badilaq MARI tahun 2009 menunjukkan bahwa alasan perceraian karena menyakiti jasmani sebanyak 1965 kasus dan menyakiti mental sebanyak 587 kasus. Sedang untuk tahun 2010 sampai dengan bulan Juli, alasan perceraian karena menyakiti jasmani sebanyak 1312 kasus dan menyakiti mental 218 kasus dan lebih menyedihkan terdapat 61.128 kasus untuk tahun 2009, dan 40.823 kasus (sampai Juli 2010), alasan perceraian karena tidak ada tanggung jawab.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sejak berlakunya undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, secara normatif undang-undang telah memberikan jaminan kedudukan yang terhormat dan seimbang kepada perempuan sebagai istri. Terdapat perubahan signifikan terhadap dominasi laki-laki (suami) kepada perempuan (istri) dalam kehidupan berumah tangga. Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 memberikan hak dan kedudukan seimbang antara seorang istri dengan seorang suami. Penjelasan umum Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 dan angka 4 huruf F menyatakan : “Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam pergaulan masyarakat. Sehingga dengan demikian segala sesuatu dalam rumah tangga dapat dirundingkan dan diputuskan bersama oleh suami isteri  .&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Asas-asas dalam Undang-undang ini, adalah mempersukar terjadinya perceraian, untuk memungkinkan perceraian harus ada alasan-alasan tertentu dan harus dilakukan di depan sidang Pengadilan. Hak untuk menjatuhkan talak tidak lagi menjadi hak mutlak seorang suami, yang dapat dilakukan kapan saja dia mau, akan tetapi harus dilakukan di depan sidang pengadilan dengan alasan yang dibenarkan oleh Undang-Undang, dan juga dengan kewajiban suami untuk memenuhi hak-hak istri dalam proses perceraian tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;II.    ¬HAK-HAK ISTRI DALAM PROSES PERCERAIAN&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;1.    Adanya hak suami dan istri yang seimbang untuk mengajukan perceraian.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, ada diskriminasi, antara suami dan istri dalam hak untuk mengajukan perceraian. Suami memiliki hak mutlak untuk menjatuhkan talak kepada istrinya. Kapan saja suami dapat menjatuhkan talak tanpa kewajiban apapun kepada istri.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sementara istri apabila akan mengajukan perceraian, harus mengajukan gugatan ke Pengadilan. Dan dengan mengajukan gugatan tersebut, istri akan kehilangan hak-haknya karena, mengajukan gugatan dianggap perbuatan nusyuz sehingga istri harus rela kehilangan hak, hanya karena istri mengajukan gugatan ke Pengadilan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Jo Undang-undang nomor 7 tahun 1989, telah merubah keadaan tersebut, dan memberikan hak yang sama kepada suami atau istri untuk mengajukan perceraian. Baik suami ataupun istri dapat mengajukan perceraian melalui sidang Pengadilan. Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan dan harus ada alasan yang ditentukan di dalam Undang-undang yaitu :&lt;br /&gt;-    Suami dapat menceraikan istri dengan mengajukan permohonan cerai talak ke Pengadilan di tempat kediaman Termohon (Istri) .&lt;br /&gt;-    Sedangkan istri dapat mengajukan gugatan perceraian ke Pengadilan di tempat kediaman Penggugat (isteri)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;2.    Hak Mengajukan Komulasi&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 memberikan hak untuk mengajukan gugatan komulasi. Yaitu istri dapat mengajukan gugatan perceraian secara komulasi dengan penguasaan anak, nafkah anak, nafkah istri dan harta bersama suami istri, atau dapat diajukan sesudah putusan perceraian memperoleh kekuatan hukum tetap.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Demikian juga suami dapat mengajukan permohonan talak dikomulasikan dengan permohonan penguasaan anak, nafkah anak nafkah istri dan harta bersama atau dapat diajukan setelah pelaksanaan ikrar talak suami kepada istri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;3.    Hak Mut’ah, nafkah idah dalam cerai talak&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam hal perceraian karena permohonan cerai talak suami kepada istri, pasal 149 dan pasal 158 KHI, dengan tegas mewajibkan suami untuk memberi :&lt;br /&gt;a.    Mut’ah yang layak kepada bekas isteri&lt;br /&gt;b.    Nafkah, maskan dan kiswah selama dalam iddah&lt;br /&gt;c.    Melunasi mahar dengan masih terhutang&lt;br /&gt;d.    Biaya hadlonah untuk anak yang belum mencapai umur 21 tahun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mahkamah Agung RI dalam putusan kasasi membebankan kwajiban tersebut dalam beberapa format :&lt;br /&gt;a.    Dalam bentuk Rekonpensi&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam permohonan cerai talak suami di PA, istri mengajukan gugatan Rekonpensi, agar suami dihukum untuk membayar kwajiban-kwajiban hal dalam pasal 149 dan pasal 158 tersebut. Dalam putusan kasasi nomor 347 k / Ag / 2010, Mahkamah Agung telah mengabulkan gugatan Rekonpensi dari istri dan memperbaiki putusan PA dan PTA.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pertimbangan MA, menyebutkan bahwa jumlah mut’ah kurang memenuhi rasa keadilan sehingga jumlah mut’ah suami tersebut harus disesuaikan dengan rasa keadilan. Sehingga dinaikkan dari Rp. 30.000.000,- menjadi Rp. 70.000.000. Dalam putusan tersebut Mahkamah Agung  telah mengabulkan gugatan Rekonpensi istri berupa :&lt;br /&gt;-    Nafkah, maskan kiswah selama dalam iddah&lt;br /&gt;-    Nafkah madliyah&lt;br /&gt;-    Mut’ah .&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;b.    Secara ex officio&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mahkamah Agung telah membuat suatu terobosan dengan mewajibkan suami sekalipun tidak terdapat gugatan Rekonpensi, dengan membebankan kewajiban secara ex officio untuk membayar :&lt;br /&gt;-    Mut’ah&lt;br /&gt;-    Nafkah, maskan, kiswah tepat istri selama dalam masa iddah.&lt;br /&gt;-    Nafkah dua orang anak.&lt;br /&gt;Dalam perkara nomor 410 k/Ag/2010 :&lt;br /&gt;PA     :    Telah memberikan izin kepada suami untuk menjatuhkan ikrar talak tanpa pembebanan kewajiban suami kepada istri.&lt;br /&gt;PTA    :    Permohonan tersebut ditolak&lt;br /&gt;MA    :    Mengabulkan permohonan suami untuk mengucapkan ikrar talak dan secara ex officio (karena tidak ada gugatan Rekonpensi) telah membebankan kepada suami untuk membayar :&lt;br /&gt;-    Mut’ah&lt;br /&gt;-    Nafkah, maskan, kiswah selama dalam iddah&lt;br /&gt;-    Nafkah 2 orang anak.&lt;br /&gt;Pertimbangan Mahkamah Agung, bahwa dalam perkara ini Pemohon sebagai suami telah mengajukan permohonan cerai talak dan istri dalam pemeriksaan tidak terbukti berbuat nusyuz .&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;4.    Hak Mut’ah dan nafkah iddah dalam Cerai Gugat&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam cerai gugat undang-undang maupun KHI tidak menentukan / mengatur kewajiban suami atau hak-hak istri seperti yang diatur pasal 149 dan 158 KHI. Sehingga dalam putusan PA, masih terdapat pengadilan yang tidak membebankan kewajiban suami yang menjadi hak islam, yaitu mut’ah nafkah, maskan dan kiswah selama dalam masa iddah.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam perkara kasasi nomor 276 k / Ag / 2010 Mahkamah Agung telah mengabulkan gugatan cerai istri kepada suami yang dikomulasikan dengan tuntutan, mut’ah, hadlonah untuk anak, dan nafkah anak yaitu dengan membebankan mut’ah sebesar    Rp. 50.000.000,-. Pertimbangan MA, karena perceraian tersebut diajukan oleh istri disebabkan suami kawin lagi dengan perempuan lain. Padahal kesetiaan istri lebih dari cukup. Sikap Termohon yang menikah lagi adalah Sikap yang tidak terpuji dan sangat menyakitkan bagi seorang istri yang setia.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di dalam Buku II Pedoman Teknis Pengadilan Agama ditentukan bahwa apabila gugatan cerai dengan alasan adanya kekejaman atau kekerasan suami, hakim secara ex officio dapat menetapkan nafkah iddah&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;5.    Hak Istri untuk didampingi seorang pendamping&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam proses pemeriksaan cerai talak istri dalam gugatan Rekonpensi dapat mengajukan gugatan provisi yaitu permohonan istri sebagai korban KDRT untuk didampingi oleh seorang pendamping.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Demikian juga dalam gugatan perceraian, istri sebagai penggugat dapat mengajukan gugatan provisi yaitu permohonan istri sebagai korban KDRT untuk didampingi oleh seorang pendamping.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;III.    KESIMPULAN&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;1.    Dalam proses perceraian baik dengan prosedur cerai talak maupun cerai gugat, selama istri tidak berbuat nusyuz tetap mempunyai hak :&lt;br /&gt;-    Nafkah madliyah&lt;br /&gt;-    Mut’ah&lt;br /&gt;-    Nafkah, maskan, kiswah selama dalam iddah&lt;br /&gt;-    Hak hadlonah&lt;br /&gt;-    Nafkah anak&lt;br /&gt;2.    Penetapan hak-hak istri : mut’ah, nafkah, maskan, kiswah selama iddah, dan nafkah anak tersebut dapat dilakukan melalui gugatan cerai, gugatan Rekonpensi dalam permohonan cerai talak maupun ditetapkan oleh Hakim secara ex officio, sebagaimana putusan kasasi tersebut di atas.&lt;br /&gt;3.    Dalam hal alasan perceraian KDRT, istri dapat mengajukan gugatan provisi, yaitu permohonan istri sebagai korban KDRT untuk didampingi oleh seorang pendamping.&lt;br /&gt;4.    Penetapan jumlah kwajiban suami sebagai hak istri harus disesuaikan dengan rasa keadilan, sehingga sesuai dengan putusan Hukum Kasasi pada MARI.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-485513537162239116?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/485513537162239116/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/11/hak-hak-istri-dalam-proses-perceraian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/485513537162239116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/485513537162239116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/11/hak-hak-istri-dalam-proses-perceraian.html' title='Hak-Hak Istri Dalam Proses Perceraian'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-5575506588176093865</id><published>2011-11-03T16:29:00.000-07:00</published><updated>2011-11-03T16:31:49.621-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Pengadilan Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Email Sebagai Alat Bukti Persidangan</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;strong&gt;Penggolongan Alat      Bukti&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Dalam ketentuan hukum acara di Indonesia, penggolongan alat bukti dapat dibagi dalam 2 bagian besar yaitu alat bukti menurut Hukum Acara Pidana dan Hukum Acara Perdata. Dalam persidangan perkara perdata yang dicari adalah kebenaran formil walaupun secara eksplisit dalam HIR, Rbg maupun BW tidak satu pasal pun yang menyebutkan kebenaran formil dimaksud. Sistem peradilan perdata mendasarkan kebenaran formil, artinya hakim akan memeriksa dan mengadili perkara perdata terikat mutlak dengan cara tertentu yang diatur dalam HIR/Rbg. Sistem pembuktiannya juga mendasarkan pada kebenaran formil yang berarti hakim terikat pada apa yang dikemukakan para pihak. Itulah sebabnya mengapa alat bukti surat dijadikan sebagai alat bukti utama dalam persidangan perdata. Hukum Acara Perdata mengenal 5 macam alat bukti yang sah, yaitu (Ps. 164 HIR):&lt;/p&gt;  &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Surat&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Saksi&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Persangkaan&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Pengakuan&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Sumpah&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;Berbeda dengan sistem pembuktian pada perkara pidana yang menganut sistem &lt;em&gt;negatief&lt;/em&gt; &lt;em&gt;wettelijke&lt;/em&gt;. Sistem pembuktian dalam perkara pidana para ahli hukum berpendapat bahwa kebenaran yang dicari dalam perkara pidana adalah kebenaran materiil (&lt;em&gt;materiele waarheid&lt;/em&gt;).&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;Kebenaran disini tidak semata-mata mendasarkan pada alat bukti yang sah dan dapat diajukan oleh pihak-pihak yang berperkara di sidang pengadilan, tetapi juga harus disertai dengan keyakinan hakim. Itulah sebabnya mengapa surat tidak dijadikan sebagai alat bukti utama, melainkan keterangan yang diberikan oleh saksi. Hukum Acara Pidana mengenal 5 macam alat bukti yang sah, yaitu (Ps. 183 KUHAP):&lt;/p&gt;  &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Keterangan saksi&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Keterangan ahli&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Surat&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Petunjuk&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Keterangan terdakwa&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;2.  E-mail sebagai Alat Bukti&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi, maka pada saat ini telah terdapat perluasan alat bukti disamping yang telah disebutkan diatas. Hal ini dapat diakui seiring dengan diterbitkannya UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Berdasarkan UU ITE ini, disebutkan bahwa:&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ps. 5 (1)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti yang sah”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ps. 5 (2)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai Hukum Acara yang berlaku di Indonesia”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam UU ITE, adapun yang dimaksud dengan Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta,rancangan, foto, &lt;em&gt;Electronic Data Interchange (EDI)&lt;/em&gt;, surat elektronik (e-mail), telegram, teleks, telecopy atau secenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya (Ps. 1 angka 1). Sedangkan yang dimaksud dengan Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam  bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada   tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol atau perforasi yang   memiliki   makna   atau   arti   atau   dapat   dipahami   oleh   orang yang   mampu memahaminya (Ps. 1 angka 4)&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan ketentuan UU ITE e-mail telah secara tegas dinyatakan sebagai salah satu  Dokumen Elektronik yang dapat dijadikan sebagai alat bukti yang sah. Dalam Ps. 5 (4) UU ITE, tidak semua e-mail dapat dikategorikan sebagai alat bukti yang sah. E-mail tidak termasuk sebagai Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang dapat dijadikan sebagai alat bukti yang sah dalam hal sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Terhadap surat yang menurut      undang-undang harus dibuat dalam bentuk tertulis&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;Terhadap surat beserta      dokumen pendukungnya yang menurut undang-undang harus dibuat dalam bentuk      akta notaril atau akta yang dibuat oleh pejabat pembuat akta tanah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-5575506588176093865?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/5575506588176093865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/11/email-sebagai-alat-bukti-persidangan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/5575506588176093865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/5575506588176093865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/11/email-sebagai-alat-bukti-persidangan.html' title='Email Sebagai Alat Bukti Persidangan'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-4632820342915512017</id><published>2011-11-03T16:25:00.000-07:00</published><updated>2011-12-10T01:10:01.829-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Ilmu Hukum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Pengadilan Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Pidana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Acara Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Tata Negara'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Asas Legalitas Dalam Islam</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Asas legalitas adalah suatu prinsip dimana suatu perbuatan baru dapat dianggap melanggar hukum jika waktu peristiwa itu terjadi sudah ada peraturan yang melarangnya.Walaupun asas legalitas merupakan istilah hukum modern namun ajaran Islam juga menjunjung tinggi asas tersebut .Hal ini dapat dilihat dalam ajaran Al-Qur’an yang menjelaskan, bahwa Allah swt. Tidak akan menyiksa seseorang dalam arti belum dianggap melanggar hukum, kecuali setelah ada peraturan yang melarang atau mengaturnya. Oleh karena itu sebelum datang Al-Qur’an, umat manusia belum diminta pertanggungjawaban atas perbuatan-perbuatannya, kecuali masyarakat yang pernah dijangkau oleh kewenangan dakwah para Rasul sebelumnya ( Q.S. al-Isra ayat 15).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Penegasan asas legalitas lebih lanjut ditunjukan oleh ayat lain yang berbicara tentang pembatalan salah satu bentuk praktek perkawinan di masa pra Islam yaitu bilamana ada seorang ayah beristeri muda, setelah ia wafat, isteri mudanya menjadi rebutan anak laki-lakinya dari isteri yang tua.Ada dua cara yang dikenal waktu itu.Pertama, anak laki-laki yang paling berhak untuk menikahi janda muda ayahnya itu adalah anaknya yang tertua.Kedua, yang paling berhak adalah yang menang dalam undian dengan cara masing-masing melempar kain hitam kepada janda itu.Lemparan kain hitam siapa yang paling lebih dahulu mengenai wanita itu dan disambutnya secara baik, maka dialah yang paling berhak untuk menikahi janda ayah kandungnya itu.Praktek perkawinan seperti ini dikenal dengan istilah “&lt;strong&gt;zawaj al-maqti”&lt;/strong&gt; yang kemudian diharamkan oleh ayat 22 surat an-Nisa yang artinya:” Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, kecuali pada masa yang telah lampau.Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci oleh Allah swt. Dan seburuk-buruk jalan yang ditempuh”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ayat tersebut diatas, memberikan pengecualian :……” illa maqad salafa (terkecuali pada masa yang telah lampau)”.Penggalan ayat inilah yang kemudian dijadikan alasan bahwa hukum tidak berlaku surut.Artinya, haram melakukan zawaj al-maqti yang ditegaskan dalam ayat tersebut, mulai berlaku semenjak ayat itu diturunkan, tidak berlaku pada masa sebelumnya.Orang-orang yang melakukan praktek perkawinan zawaj al-maqti sebelum turunnya ayat tersebut tidak dianggap melanggar hukum dan konsep inilah yang kemudian dikembangkan oleh para ulama sebagai asas legalitas dalam hukum Islam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Namun dalam Islam asas legalitas tidak berlaku terhadap peristiwa hadist al-ifki (berita bohong) berupa tuduhan dari pihak yang tidak senang dengan perkembangan Islam bahwa Aisyah isteri Rasulullah sengaja tertinggal dari rombongan sehabis peperangan Bani al-Mushtaliq dengan maksud berbuat serong dengan Safwan.Berita itu selama sebulan berkembang dalam masyarakat, sedangkan Aisyah sendiri bungkam tanpa memberikan pembelaan terhadap dirinya.Dalam situasi demikian turunlah ayat yang menyatakan bahwa Orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina), dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera….”( Q.S an-Nur ayat 4,5,11 dan 12). Ayat ini berbicara teantang hukuman terhadap kejahatan qadaf yaitu menuduh orang baik-baik berbuat zina tanpa mampu mengajukan empat orang saksi.Yang perlu dicatat disini adalah ayat ini diturunkan setelah satu bulan adanya peristiwa tuduhan atas diri Aisyah.Namun ayat itu diberlakukan terhadap peristiwa berita bohong (hadist ifki) dimana semua orang yang menuduh Aisyah itu oleh Rasulullah saw. tetap dihukum dera delapan puluh kali. (Ajun-PA Ktb)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-4632820342915512017?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/4632820342915512017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/11/asas-legalitas-dalam-islam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/4632820342915512017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/4632820342915512017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/11/asas-legalitas-dalam-islam.html' title='Asas Legalitas Dalam Islam'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-3779062665693355813</id><published>2011-10-17T16:42:00.000-07:00</published><updated>2011-10-17T16:48:23.453-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Meninjau Syarat Dan Ketentuan Terhadap Pemberlakuan Perikatan Bersyarat</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Pengertian mengenai perikatan bersyarat, telah tercantum dalam Pasal 1253, bahwa suatu perikatan adalah bersyarat manakala Ia digantungkan pada suatu peristiwa yang masih akan datang dan yang masih belum tentu akan terjadi , baik secara menangguhkan perikatan hingga terjadinya peristiwa semacam itu, maupun secara membatalkan perikatan menurut terjadi atau tidak terjadinya peristiwa tersebut. Apabila diperhatikan, maka yang diartikan syarat disini adalah peristiwa yang masih akan datang dan belum tentu akan terjadi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Perikatan bersyarat dilawankan dengan perikatan murni, yaitu perikatan yang tidak mengandung sesuatu syarat. Syarat didalam bahasa hukum digunakan dalam berbagai-bagai pengertian, dapat diartikan syarat perjanjian (contractbeding), syarat yang menentukan daya kerja dari perikatan , dapat pula peristiwa itu sendiri ataupun tidak terjadinya suatu peristiwa yang mengakibatkan menangguhkan atau membatalkan perikatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Adanya peristiwa (syarat) didalam perikatan tidak memerlukan pernyataan tegas dari para pihak, tetapi suatu syarat itu ada dalam perikatan, apabila dari keadaan dan tujuan perikatan terlihat dan ternyata adanya syarat itu. Syarat yang demikian disebut syarat diam. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Pengertian tentang perikatan bersyarat adalah sebagai berikut :&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;1. Syarat yang tidak mungkin atau tidak pantas.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Menurut Pasal 1254, bahwa semua syarat yang bertujuan melakukan sesuatu yang tidak ungkin terlaksana, sesuatu yang bertentangan dengan kesusilaan baik, atau sesuatu yang dilarang oleh undang-undang, adalah batal, dan berakibat bahwa persetujuan yang&lt;br /&gt;digantungkan padanya tidak berdaya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;2. Syarat yang tidak mungkin terlaksana .&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Menurut Pasal 1255, bahwa syarat yang bertujuan tidak melakukan sesuatu yang tidak mungkin terlaksana, tidak membuat perikatan yang digantungkan padanya, tidak berdaya.&lt;br /&gt;Undang-undang menentukan syarat-syarat yang tidak boleh dicantumkan pihak didalam suatu perikatan. Apabila syarat itu dicantumkan, maka perikatan tersebut batal. Syarat-syarat tersebut adalah : a) bertujuan melakukan sesuatu yang tidak mungkin terlaksana (Pasal 1254 KUHPerdata), b) bertentangan dengan kesusilaam, c) dilarang undang-undang (Pasal 1254 KUHPerdata), d) pelaksanaannya bergantung dari kemauan orang yang terikat.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;3. Syarat yang pelaksanaannya digantungkan pada salah satu pihak (Potestatif).&lt;br /&gt;Syarat prostetif adalah syarat-syarat yang pelaksanaannya bergantung dari kemauan salah satu pihak yang terikat didalam perikatan. Menurut Pasal 1256, bahwa semua perikatan adalah batal, jika pelaksanaannya semata-mata bergantung pada kemauan orang yang terikat, tetapi jika perikatan bergantung pada suatu perbuatan yang pelaksanaannya berada didalam kekuasaan orang tersebut, padahal perbuatan itu sudah terjadi, perikatan adalah sah. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;4. Syarat yang dimaksud oleh pihak-pihak.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Menurut Pasal 1257, bahwa semua syarat harus terpenuhi secara yang mungkin dikehendaki dan dimaksudkan oleh kedua belah pihak. Maksud ketentuan ini ialah bahwa apabila terjadi perbedaan pendapat tentang pengertian syarat, maka arti dan maksud syarat harus ditentukan dengan penafsiran sesuai dengan apa yang dimaksud oleh pihak-pihak.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;5. Syarat dengan ketetapan waktu (syarat positif)&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Pengertian dari syarat positip, karena digantungkan pada peristiwa yang akan datang dan belum pasti terjadi. Menurut Pasal 1258, bahwa jika suatu perikatan bergantung pada syarat bahwa sesuatu peristiwa akan terjadi didalam suatu waktu tertentu, maka syarat tersebut dianggap tidak ada, apabila waktu tersebut telah lampau dengan tidak terjadinya peristiwa tersebut. Jika waktu tidak ditentukan, maka syarat tersebut setiap waktu dapat terpenuhi dari syarat itu tidak dianggap tidak ada sebelum ada kepastian bahwa peristiwa tidak akan terjadi. Misalnya A akan membayar utangnya kepada B kalau rumah A laku dijual.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;6. Syarat negatif (digantungkan pada suatu peristiwa tidak akan terjadi didalam suatu waktu tertentu).&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Menurut Pasal 1259, bahwa jika suatu perikatan bergantung pada suatu syarat bahwa sesuatu peristiwa didalam suatu waktu tertentu tidak akan terjadi, maka syarat tersebut telah terpenuhi apabila waktu tersebut lampau dengan tidak terjadinya peristiwa. Begitu juga syarat telah terpenuhi, jika sebelum waktu tersebut lampau, telah ada kepastian bahwa peristiwa tidak akan terjadi , tetapi jika tidak ditetapkan suatu waktu, syarat itu tidak terpenuhi sebelum ada kepastian bahwa peristiwa tersebut tidak akan terjadi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;7. Syarat terpenuhi jika debitur menghalangi terpenuhinya syarat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Menurut Pasal 1260, bahwa syarat dianggap terpenuhi jika si berutang yang terikat olehnya telah menghalang-halangi terpenuhinya syarat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Didalam ketentuan ini, pembentuk undang-undang berpedoman kepada itikad baik yang tidak dijunjung tinggi oleh debitur, sehingga pembenmtuk undang-undang dalam hal ini menciptakan suatu anggapan bahwa syarat itu telah terjadi, dengan demikian maka keseimbangan kedudukan antara debitur dan kreditur tetap terjamin.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;8. Syarat tangguh yang terpenuhi&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Pasal 1261, menyatakan bahwa apabila syarat telah terpenuhi, maka syarat itu berlaku surut hingga saat lahirnya perikatan. Jika si berpiutang meninggal sebelum terpenuhinya syarat, maka hak-haknya karena itu berpindah kepada ahli warisnya.&lt;br /&gt;Pengertian dalam berlaku surut, adalah dalam hal syarat batal terjadi, maka kekuatan berlaku surut itu mempunyai daya kerja kebendaan. Maksudnya : a) bahwa kekuatan berlaku surut itu mempunyai daya kerja kebendaan (zakelijke werking), maka dengan terjadinya syarat batal, debitur berhak menuntut benda yang telah diserahkannya terhadap setiap pihak yang menguasai miliknya itu, b) bahwa kekuatan berlaku surut itu mempunyai daya kerja pribadi (persoonlijk), maka dengan terjadinya syarat batal, debitur tidak dapat menuntut benda yang telah diserahkan, yang dikuasai pihak ketiga.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;9. Hak kreditur mengadakan persiapan (konservation)&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Dinyatakan dalam pasal 1262 bahwa si berpiutang dapat, sebelum terpenuhinya syarat melakukan segala usaha yang perlu untuk menjaga jangan sampai haknya hilang.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;10. Syarat tangguh&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Dalam pasal 1263 dinyatakan bahwa suatu perikatan dengan suatu syarat tangguh adalah suatu perikatan yang bergantung pada suatu peristiwa yang masih akan datang dan yang masih belum tentu akan terjadi , atau yang bergantung pada suatu hal yang sudah terjadi tetapi tidak diketahui oleh kedua belah pihak. Dalam hal yang pertama, perikatan tidak dapat dilaksanakan sebelum, peristiwa telah terjadi dalam hal yang kedua perikatan mulai berlaku sejak hari Ia dilahirkan. Pada perikatan dengan syarat tangguh ini, pemenuhan perikatan itu hanya dapat dituntut oleh kreditur apabila syarat tangguh tersebut telah terpenuhi. Selama syarat itu belum dipenuhi , maka kewajiban berprestasi oleh debitur belum lagi ada , walaupun hubungan hukum antara pihak-pihak tetap ada. Jadi, syarat tangguh menyebabkan suatu perikatan belum lagi mempunyai daya kerja atau pemenuhan perikatan itu belum lagi dapat dilaksanakan . Daya kerja perikatan itu belum lagi pasti , masih bergantung pada terjadinya suatu peristiwa.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;11. Resiko pada perikatan dengan syarat tangguh&lt;br /&gt;Pada pasal 1264, dikatakan bahwa jika perikatan bergantung pada suatu syarat tangguh, maka barang yang menjadi pokok perikatan tetap menjadi tanggungan si berutang, yang hanya berwajib menyerahkan barang itu apabila syarat terpenuhi. Jika barang tersebut sama sekali musnah di luar kesalahan si berutang, maka baik pada pihak yang satu maupun pada pihak yang lainnya tidak ada lagi suatu perikatan. Jika barangnya merosot, harganya diluar kesalahan si berutang, maka si berpiutang dapat memilih apakah Ia akan memutuskan perikatan ataukah menuntut penyerahan barangnya di dalam keadaan dimana barang itu berada, dengan tidak ada pengurangan harga yang dijanjikan. Jika barangnya merosot harganya karena kesalah si berutang, maka si berpiutang berhak memutuskan perikatan atau menuntut penyerahan barangnya di dalam keadaan di mana barang itu berada, dengan penggantian kerugian.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;12. Keadaan memaksa dalam perjanjian bersyarat&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Undang-undang dalam hal adanya keadaan memaksa, menentukan resiko ada pada debitur, yang wajib menyerahkan barang, apabila syarat terpenuhi. Apabila benda yang diperjanjikan musnah seluruhnya, diluar kesalahan debitur, maka resiko menjadi beban dari kedua belah pihak dan perikatannya berakhir. Apabila harga barang merosot di luar kesalahan debitur, maka kreditur dapat memilih tindakan sebagai berikut : (a) memutuskan perikatan , atau (b) menuntut penyerahan barangnya di dalam keadaan dimana barang itu berada, dengan tidak adanya pengurangan harga yang telah dijanjikan. Apabila harga barang merosot karena kesalahan debitur maka kreditur dapat memilih antara : (a)memutuskan perikatan, atau (b) menuntut penyerahan barangnya di dalam keadaan dimana barang itu berada, dengan pergantian kerugian. Kita lihat, ukuran yang dipergunakan pembentuk undang-undang dalam mengatur akibat-akibat yang timbul karena adanya keadaan memaksa ini adalah "kepatuhan".&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;13. Syarat Batal&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Menurut pasal 1265, suatu syarat batal adalah syarat yang apabila dipenuhi, menghentikan perikatan, dan membawa segala sesuatu kembali, pada keadaan semula seolah-olah tidak pernah ada suatu perikatan. Syarat ini tidak menangguhkan pemenuhan perikatan ; hanyalah mewajibkan si berpiutang mengembalikan apa yang telah diterimanya apabila peristiwa yang dimaksudkan terjadi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;14. Ingkar janji adalah syarat batal dalam perjanjian timbal balik.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Pada pasal 1266, syarat batal dianggap selalu dicantumkan dalam persetujuan-persetujuan yang bertimbal balik manakala salah satu pihak tidak memenuhi kewjibannya. Dalam hal yang demikian, persetujuan tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan harus dimintakan kepada hakim. Permintaan ini juga harus dilakukan, meskipun syarat batal mengenai tidak dipenuhinya kewajiban dinyatakan di dalam persetujuan. Jika syarat batal tidak dinyatakan dalam persetujuan, hakim adalah leluasa (discretionnaire functie) untuk, menurut keadaan, atas permintaan si tergugat, memberikan suatu jangka waktu untuk masih juga memenuhi kewajibannya, jangka waktu mana namun itu tidak boleh lebih dari satu bulan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Pengaturan tentang syarat batal dalam perjanjian timbal balik dijelaskan secara khusus dalam pasal 1266 dan pasal 1267 KUHPerdata. Undang-undang tersebut menentukan bahwa syarat yang membatalkan perjanjian timbal balik adalah kalau salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya (ingkar janji). Ketentuan dalam pasal 1266 KUHPerdata menarik perhatian, karena di dalamnya banyak terkandung kelemahan-kelemahan yang kadang-kadang satu sama lain mempunyai sifat yang bertentangan, sebagai terlihat dalam ayat-ayat berikut :&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;a) Ayat 1, menyatakan bahwa syarat batal (vervalbeding) dianggap selamanya ada didalam perjanjian timbal balik.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;b) Ayat 2, menyatakan pula bahwa syarat batal itu tidak membatalkan perjanjian dengan sendirinya, tetapi harus dimintakan kepada hakim.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;c) Ayat 3, menyatakan bahwa permintaan itu juga dilakukan walaupun syarat batal itu dinyatakan didalam perjanjian&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;d) Ayat 4, menyatkan bahwa dalam hal syarat batal tidak dinyatakan dalam perjanjian. Hakim leluasa untuk menurut keadaan, atas permintaan tergugat memberikan suatu jangka waktu untuk masih juga memenuhi kewajibannya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Apabila undang-undang diatas diteliti ayat demi ayat, maka sifat yang bertentamngam itu akan terlihat, sebagai berikut :&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;a) Materi yang diatur dalam ayat (1) dan ayat (2). Ayat pertama menyatakan bahwa syarat batal itu dianggap selalu ada didalam perjanjian timbal balik, tetpi ayat (2) menyatakan bahwa kalau syarat batal terjadi, perjanjian itu tidak batal dengan sendirinya, melainkan harus diucapkan oleh hakim.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;b) Pembentuk undang-undang memandang atau meletakkan sayarat dan kewajiban memenuhi prestasi itu dalam kedudukan yang sederajat.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;c) Apabila syarat batal, maka segala sesuatu kembali kekeadaan semula. Ketentuan ini mengandungkelemahan karena tidak mendekati keadilan. Pihak yang tidak lalai dibebani pula dengan suatu kewajiban untuk menerima kembali segala apa yang mungkin telah diserahkannya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Kebijaksanaan hakim (discretionnaire functie) untuk memberikan jangka waktu tertentu (term de grace) dimana debitur mendapat kesempatan untuk memenuhi prestasi (Pasal 1266 ayat (4)) tidak selaras dengan otomatis berlakunya syarat yang membatalkan. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Pembentuk undang-undang memberikan kesempatan kepada hakim atas dasar pemikiran untuk memberikan kemungkinan kepada hakim menilai dan mengawasi wanprestasi , yakni apakah kesalahan tersebut tidak lebih dahulu berasal dari kreditur sendiri. Apabila sebab tidak dipenuhinya prestasi itu adalah karena kreditur sendiri terlebih dahulu sudah melakukan ingkar janji maka debitur dapat mengajukan tangkisan mengenai keadaan ini kepada hakim hingga hakim dapat memberikan keputusan lain (exeptie non adimpleti contractus).&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Apabila pada perjanjian timbal balik dengan syarat batal itu hakim mengabulkan gugatan kreditur untuk memutuskan perikatahn karena terjadinya wanprestasi, timbul persoalan tentang sifat dari keputusan hakim tersebut. Dalam hal ini ada dua pendapat, yaitu :&lt;br /&gt;1) menyatakan bahwa sifat dari keputusan hakim itu adalah deklaratoir. Dalam hal ini berarti putusnya perikatan itu adalah disebabkan karena adanya wanprestasi itu sendiri.&lt;br /&gt;2) Menyatakan bahwa sifat dari keputusan hakim itu adalah konstitutif, artinya bahwa putusannya bukan karena adanya wanprestasi, tetapi karena adanya putusan hakim.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;15. Hak Kreditur Terhadap Debitur yang Ingkar Janji&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Masalah ini dinyatakan dalam Pasal 1267, bahwa pihak terhadap siapa perikatan tidak dipenuhi, dapat memilih apakah Ia, jika itu masih dapat dilakukan, akan memaksa pihak yang lain untuk memenuhi persetujuan, apakah Ia akan menuntut pembatalan persetujuan, disertai penggantian biaya, kerugian dan bunga. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Sumber pustaka : Mariam,D.B., Sutan Remy .S., Heru.S., Faturrahman Dj., dan Taryana Soenandar. 2001. Kompilasi Hukum Perikatan., Ed. Pertama., Citra Aditya Bakti., Bandung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-3779062665693355813?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/3779062665693355813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/10/meninjau-syarat-dan-ketentuan-terhadap.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/3779062665693355813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/3779062665693355813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/10/meninjau-syarat-dan-ketentuan-terhadap.html' title='Meninjau Syarat Dan Ketentuan Terhadap Pemberlakuan Perikatan Bersyarat'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-6942961091636650900</id><published>2011-10-17T16:34:00.000-07:00</published><updated>2011-10-17T16:41:43.325-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Meninjau Secara Umum Terhadap Teori Perikatan Di Indonesia</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut hukum perdata, perikatan adalah hubungan hukum yang terjadi diantara dua orang atau lebih yang terletak didalam lapangan harta kekayaan, dimana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi itu, sedangkan menurut Vollmar bahwa ditinjau dari isinya, perikatan itu ada selama seseorang itu (debitur) harus melakukan suatu prestasi yang mungkin dapat dipaksakan terhadap kreditur kalau perlu dengan bantuan hakim. Pengertian prestasi adalah apabila dua orang mengadakan perjanjian ataupun apabila undang-undang dengan terjadinya suatu peristiwa untuk menciptakan suatu perikatan untuk memenuhi sesuatu kewajiban. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perikatan memiliki empat unsur, yaitu : a) hubungan hukum, b) kekayaan, c) pihak-pihak dan d) prestasi (obyek hukum). Hubungan hukum adalah hubungan yang terhadapnya hukum melekatkan hak pada satu pihak dan melekatkan kewajiban pada pihak lainnya. Apabila satu pihak tidak mengindahkan ataupun melanggar hubungan tadi, lalu hukum memaksakan supaya hubungan tersebut dipenuhi ataupun dipulihkan kembali. Untuk menilai suatu hubungan hukum perikatan atau bukan, maka hukum mempunyai kriteria tertentu yaitu ukuran-ukuran yang digunakan terhadap sesuatu hubungan hukum sehingga hubungan hukum itu dapat disebutkan suatu perikatan. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Didalam perkembangan sejarah, apa yang dipakai sebagai kriteria itu tidak tetap, dahulu yang menjadi kriteria ialah hubungan hukum itu dapat dinilai dengan uang atau tidak. Apabila hubungan hukum itu dapat dinilai dengan uang, maka hubungan hukum tersebut merupakan suatu perikatan. Sekalipun suatu hubungan hukum itu tidak dapat dinilai dengan uang, tetapi kalau masyarakat atau rasa keadilan menghendaki agar suatu hubungan itu diberi akibat hukum, maka hukum pun akan melekatkan akibat hukum pada hubungan tersebut sebagai suatu perikatan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apabila hubungan hukum tadi dijajaki lebih jauh lagi maka hubungan hukum itu harus terjadi antara dua orang atau lebih, yaitu pihak yang aktif adalah kreditur atau yang berpiutang dan pihak yang pasif adalah debitur atau yang berutang. Mereka ini yang disebut subyek perikatan. Seorang debitur harus selamanya diketahui, karena seseorang tentu tidak dapat menagih dari seseorang yang tidak dikenal, lain halnya dengan kreditur boleh merupakan seseorang yang tidak diketahui, artinya penggantian kreditur dapat terjadi secara sepihak tanpa bantuan debitur, bahkan dalam lalu lintas perdagangan yang tertentu penggantian itu telah disetujui terjadi sejak semula. Apabila dalam suatu perikatan kreditur itu ditentukan atau dikenal, maka kreditur yang seperti ini disebut kreditur yang memiliki gugatan atas nama (vordering op naam). Dengan demikian maka penggantian kedudukan debitur hanya dapat terjadi apabila kreditur telah memberikan persetujuan, misalnya pengambilalihan utang (schuldoverneming)&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Didalam perikatan pihak-pihak kreditur dan debitur itu dapat diganti. Penggantian debitur harus diketahui atau persetujuan kreditur, sedangkan penggantian kreditur dapat terjadi secara sepihak, bahkan untuk hal-hal tertentu pada saat suatu perikatan lahir antara pihak-pihak, secara apriori disetujui hakikat penggantian kreditur. Pada setiap perikatan sekurang-kurangnya harus satu orang kreditur dan sekurang-kurangnya satu orang debitur, namun tidak menutup kemungkinan dalam satu perikatan itu tedapat beberapa orang kreditur dan beberapa orang debitur. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seorang kreditur dapat mengalihkan haknya atas prestasi kepada kreditur baru, hak mana adalah merupakan hak-hak pribadi yang kualitatif, sehingga kewajiban memenuhi prestasi dari debitur dinamakan kewajiban kualitatif Penggantian kreditur dapat pula terjadi dengan subrogasi. Menurut Asser"s (Handeling tot de beofening van het Ned Burgerlijkrecht, 1967) bahwa sejak saat suatu perikatan dilakukan, pihak kreditur dapat memberikan persetujuan untuk adanya penggantian debitur, misalnya didalam sutu perjanjian jual beli dapat dijanjikan seseorang itu membeli untuk dirinya sendiri dan untuk pembeli-pembeli yang berikutnya. Apabila didalam jual beli ini debitur (pembeli) belum melunaskan seluruh harga beli, maka dalam hal benda itu dialihkan kepada pembeli baru, maka kewajiban untuk membayar tersebut dengan sendirinya beralih kepada pembali itu. Kedudukan debitur dapat berganti dapat atau beralih dengan subrogasi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut pasal 1234 KUHPerdata, bahwa prestasi dibedakan atas : a) memberikan sesuatu, b) berbuat sesuatu, c) tidak berbuat sesuatu. Kedalam perikatan untuk memberikan sesuatu termasuk pemberian sejumlah uang, memberi benda untuk dipakai (menuewa), penyerahan hak milik atas benda tetap dan bergerak, perikatan untuk melakukan sesuatu misalnya membangun rumah, sedangkan perikatan untuk tidak melakukan sesuatu misalnya A membuat perjanjian dengan B ketika menjual apoteknya untuk tidak menjalankan usaha apoteknya dalam daerah yang sama.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sumber perikatan menurut Pasal 1352 KUHPerdata, bahwa perikatan-perikatan yang dilahirkan dari undang-undang saja (uit de wet alleen) atau dari undang-undang sebagai akibat perbuatan orang (uit de wet ten gevolge van's mensen toedoen), sedangkan pasal 1353 KUHPerdata mengatakan bahwa perikatan-perikatan yang dilahirkan dari undang-undang sebagai akibat perbuatan orang, terbit dari perbuatan halal atau dari perbuatan melawan hukum (onrechmatige daad).&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perikatan yang bersunber dari undang-undang semata-mata adalah perikatan yang dengan terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu, ditetapkan melahirkan suatu hubungan hukum (perikatan) diantara pihak-pihak yang bersangkutan, terlepas dari kemauan pihak-pihak tersebut, misalnya kematian dengan meninggalnya seseorang, maka perikatan yang pernah mengikat orang tersebut beralih kepada ahli warisnya, demikian pula kelahiran anak timbul perikatan antara ayah dan ank, dimana si ayah wajib memelihara anak tersebut. Menurut pasal 1321 KUHPerdata, bahwa tiap-tiap anak wajib memberi nafkah kepada orang tuanya dan para keluarga sedarahnya dalam garis keatas apabila mereka dalam keadaan miskin.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perkatan yang bersumber dari undang-undang sebagai akibat perbuatan orang maksudnya ialah bahwa dengan dilakukannya serangkaian tingkah laku oleh seseorang, maka undang-undang melekatkan akibat hukum berupa perikatan terhadap orang tersebut. Tingklah laku sesorang tadi mungkin merupakan perbuatan yang menurut hukum dibolehkan undang-undang atau mungkin pula merupakan perbuatan yang tidak dibolehkan undang-undang (melawan hukum). Perikatan sebagai akibat perbuatan orang yang melawan hukum diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata bahwa undang-undang menetapkan kewajiban orang itu untuk memberi ganti rugi. Dengan meletakan kewajiban memberi ganti rugi antara orang yang melakukan perbuatan yang melawan hukum kepada orang yang menderita kerugian karena perbuatan itu, lahirlah suatu perikatan diluar kemauan kedua orang tersebut, sedangkan perikatan akibat perbuatan mengurus kepentingan orang lain secara suka rela (zaakwaarneming) diatur dalam pasal 1354 KUHPerdata yang menyatakan jika seseorang dengan sukarela, tanpa mendapat perintah untuk itu, mengurus urusan orang lain, maka Ia berkewajiban untuk meneruskan menyelesaikan urusan tersebut hingga orang yang diwakili kepentingannya dapat mengerjakan sendiri urusan itu. Pihak yang kepentingannya diwakili diwajibkan memenuhi perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh si wakil itu atas namanya, dan mengganti semua pengeluaran yang sudah dilakukan oleh si wakil tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sumber pustaka : Mariam,D.B., Sutan Remy .S., Heru.S., Faturrahman Dj., dan Taryana Soenandar. 2001. Kompilasi Hukum Perikatan., Ed. Pertama., Citra Aditya Bakti., Bandung.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut hukum perdata, perikatan adalah hubungan hukum yang terjadi diantara dua orang atau lebih yang terletak didalam lapangan harta kekayaan, dimana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi itu, sedangkan menurut Vollmar bahwa ditinjau dari isinya, perikatan itu ada selama seseorang itu (debitur) harus melakukan suatu prestasi yang mungkin dapat dipaksakan terhadap kreditur kalau perlu dengan bantuan hakim. Pengertian prestasi adalah apabila dua orang mengadakan perjanjian ataupun apabila undang-undang dengan terjadinya suatu peristiwa untuk menciptakan suatu perikatan untuk memenuhi sesuatu kewajiban. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perikatan memiliki empat unsur, yaitu : a) hubungan hukum, b) kekayaan, c) pihak-pihak dan d) prestasi (obyek hukum). Hubungan hukum adalah hubungan yang terhadapnya hukum melekatkan hak pada satu pihak dan melekatkan kewajiban pada pihak lainnya. Apabila satu pihak tidak mengindahkan ataupun melanggar hubungan tadi, lalu hukum memaksakan supaya hubungan tersebut dipenuhi ataupun dipulihkan kembali. Untuk menilai suatu hubungan hukum perikatan atau bukan, maka hukum mempunyai kriteria tertentu yaitu ukuran-ukuran yang digunakan terhadap sesuatu hubungan hukum sehingga hubungan hukum itu dapat disebutkan suatu perikatan. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Didalam perkembangan sejarah, apa yang dipakai sebagai kriteria itu tidak tetap, dahulu yang menjadi kriteria ialah hubungan hukum itu dapat dinilai dengan uang atau tidak. Apabila hubungan hukum itu dapat dinilai dengan uang, maka hubungan hukum tersebut merupakan suatu perikatan. Sekalipun suatu hubungan hukum itu tidak dapat dinilai dengan uang, tetapi kalau masyarakat atau rasa keadilan menghendaki agar suatu hubungan itu diberi akibat hukum, maka hukum pun akan melekatkan akibat hukum pada hubungan tersebut sebagai suatu perikatan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apabila hubungan hukum tadi dijajaki lebih jauh lagi maka hubungan hukum itu harus terjadi antara dua orang atau lebih, yaitu pihak yang aktif adalah kreditur atau yang berpiutang dan pihak yang pasif adalah debitur atau yang berutang. Mereka ini yang disebut subyek perikatan. Seorang debitur harus selamanya diketahui, karena seseorang tentu tidak dapat menagih dari seseorang yang tidak dikenal, lain halnya dengan kreditur boleh merupakan seseorang yang tidak diketahui, artinya penggantian kreditur dapat terjadi secara sepihak tanpa bantuan debitur, bahkan dalam lalu lintas perdagangan yang tertentu penggantian itu telah disetujui terjadi sejak semula. Apabila dalam suatu perikatan kreditur itu ditentukan atau dikenal, maka kreditur yang seperti ini disebut kreditur yang memiliki gugatan atas nama (vordering op naam). Dengan demikian maka penggantian kedudukan debitur hanya dapat terjadi apabila kreditur telah memberikan persetujuan, misalnya pengambilalihan utang (schuldoverneming)&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Didalam perikatan pihak-pihak kreditur dan debitur itu dapat diganti. Penggantian debitur harus diketahui atau persetujuan kreditur, sedangkan penggantian kreditur dapat terjadi secara sepihak, bahkan untuk hal-hal tertentu pada saat suatu perikatan lahir antara pihak-pihak, secara apriori disetujui hakikat penggantian kreditur. Pada setiap perikatan sekurang-kurangnya harus satu orang kreditur dan sekurang-kurangnya satu orang debitur, namun tidak menutup kemungkinan dalam satu perikatan itu tedapat beberapa orang kreditur dan beberapa orang debitur. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seorang kreditur dapat mengalihkan haknya atas prestasi kepada kreditur baru, hak mana adalah merupakan hak-hak pribadi yang kualitatif, sehingga kewajiban memenuhi prestasi dari debitur dinamakan kewajiban kualitatif Penggantian kreditur dapat pula terjadi dengan subrogasi. Menurut Asser"s (Handeling tot de beofening van het Ned Burgerlijkrecht, 1967) bahwa sejak saat suatu perikatan dilakukan, pihak kreditur dapat memberikan persetujuan untuk adanya penggantian debitur, misalnya didalam sutu perjanjian jual beli dapat dijanjikan seseorang itu membeli untuk dirinya sendiri dan untuk pembeli-pembeli yang berikutnya. Apabila didalam jual beli ini debitur (pembeli) belum melunaskan seluruh harga beli, maka dalam hal benda itu dialihkan kepada pembeli baru, maka kewajiban untuk membayar tersebut dengan sendirinya beralih kepada pembali itu. Kedudukan debitur dapat berganti dapat atau beralih dengan subrogasi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut pasal 1234 KUHPerdata, bahwa prestasi dibedakan atas : a) memberikan sesuatu, b) berbuat sesuatu, c) tidak berbuat sesuatu. Kedalam perikatan untuk memberikan sesuatu termasuk pemberian sejumlah uang, memberi benda untuk dipakai (menuewa), penyerahan hak milik atas benda tetap dan bergerak, perikatan untuk melakukan sesuatu misalnya membangun rumah, sedangkan perikatan untuk tidak melakukan sesuatu misalnya A membuat perjanjian dengan B ketika menjual apoteknya untuk tidak menjalankan usaha apoteknya dalam daerah yang sama.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sumber perikatan menurut Pasal 1352 KUHPerdata, bahwa perikatan-perikatan yang dilahirkan dari undang-undang saja (uit de wet alleen) atau dari undang-undang sebagai akibat perbuatan orang (uit de wet ten gevolge van's mensen toedoen), sedangkan pasal 1353 KUHPerdata mengatakan bahwa perikatan-perikatan yang dilahirkan dari undang-undang sebagai akibat perbuatan orang, terbit dari perbuatan halal atau dari perbuatan melawan hukum (onrechmatige daad).&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perikatan yang bersunber dari undang-undang semata-mata adalah perikatan yang dengan terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu, ditetapkan melahirkan suatu hubungan hukum (perikatan) diantara pihak-pihak yang bersangkutan, terlepas dari kemauan pihak-pihak tersebut, misalnya kematian dengan meninggalnya seseorang, maka perikatan yang pernah mengikat orang tersebut beralih kepada ahli warisnya, demikian pula kelahiran anak timbul perikatan antara ayah dan ank, dimana si ayah wajib memelihara anak tersebut. Menurut pasal 1321 KUHPerdata, bahwa tiap-tiap anak wajib memberi nafkah kepada orang tuanya dan para keluarga sedarahnya dalam garis keatas apabila mereka dalam keadaan miskin.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perkatan yang bersumber dari undang-undang sebagai akibat perbuatan orang maksudnya ialah bahwa dengan dilakukannya serangkaian tingkah laku oleh seseorang, maka undang-undang melekatkan akibat hukum berupa perikatan terhadap orang tersebut. Tingklah laku sesorang tadi mungkin merupakan perbuatan yang menurut hukum dibolehkan undang-undang atau mungkin pula merupakan perbuatan yang tidak dibolehkan undang-undang (melawan hukum). Perikatan sebagai akibat perbuatan orang yang melawan hukum diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata bahwa undang-undang menetapkan kewajiban orang itu untuk memberi ganti rugi. Dengan meletakan kewajiban memberi ganti rugi antara orang yang melakukan perbuatan yang melawan hukum kepada orang yang menderita kerugian karena perbuatan itu, lahirlah suatu perikatan diluar kemauan kedua orang tersebut, sedangkan perikatan akibat perbuatan mengurus kepentingan orang lain secara suka rela (zaakwaarneming) diatur dalam pasal 1354 KUHPerdata yang menyatakan jika seseorang dengan sukarela, tanpa mendapat perintah untuk itu, mengurus urusan orang lain, maka Ia berkewajiban untuk meneruskan menyelesaikan urusan tersebut hingga orang yang diwakili kepentingannya dapat mengerjakan sendiri urusan itu. Pihak yang kepentingannya diwakili diwajibkan memenuhi perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh si wakil itu atas namanya, dan mengganti semua pengeluaran yang sudah dilakukan oleh si wakil tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sumber pustaka : Mariam,D.B., Sutan Remy .S., Heru.S., Faturrahman Dj., dan Taryana Soenandar. 2001. Kompilasi Hukum Perikatan., Ed. Pertama., Citra Aditya Bakti., Bandung.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-6942961091636650900?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/6942961091636650900/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/10/meninjau-secara-umum-terhadap-teori.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/6942961091636650900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/6942961091636650900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/10/meninjau-secara-umum-terhadap-teori.html' title='Meninjau Secara Umum Terhadap Teori Perikatan Di Indonesia'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-7989140301632381668</id><published>2011-10-17T16:18:00.000-07:00</published><updated>2011-10-17T16:42:12.160-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Perdata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Adat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Perjanjian Bukan Lagi Sumber Sengketa</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Di dalam perkembangan masyarakat yang komplek seperti sekarang ini, kita sering menyaksikan dan mendengarkan, baik melalui media informasi maupun di dalam pergaulan masyarakat, ada seseorang yang dengan teganya melakukan penyiksaan, pencurian bahkan pembunuhan kepada rekannya atau kerabatnya yang disebabkan persoalan hutang piutang atau persoalan yang berasal dari perjanjian yang telah mereka lakukan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tulisan ini akan berusaha menjelaskan dan menerangkan kepada setiap pembaca mengenai hal-hal yang penting yang harus diketahui dalam melakukan sebuah perjanjian.&lt;br /&gt;Mengingat, walaupun perjanjian sangat sederhana dan biasa dilakukan oleh masyarakat, tetapi tidak sedikit permasalahan besar muncul akibat perjanjian yang disebabkan kurangnya pengetahuan dari perjanjian yang telah mereka sepakati.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sebelum kita melangkah lebih jauh hendaknya perlu diketahui bahwa sebuah perjanjian dilandasi oleh tiga azas yaitu :&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;1. Azas konsensualitas, seperti tercantum dalam pasal 1320 KUHPDT yang berarti setiap perjanjian timbul apabila telah adanya kesepakatan dari para pihak yang melakukan perjanjian tersebut;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;2. Azas kekuatan mengikat, seperti tercantum dalam pasal 1338 KUHPDT yang berarti setiap perjanjian yang telah dibuat akan berlaku mengikat seperti Undang-Undang terhadap pihak-pihak yang telah melakukan perjanjian tersebut;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;3. Azas kebebasan berkontrak yang berarti setiap orang bebas menentukan isi perjanjian dan bebas memilih dengan siapa Ia melakukannya, asalkan tidak bertentangan dengan Undang-Undang serta kepentingan umum.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Secara umum ada dua syarat yang menentukan sahnya sebuah perjanjian yaitu :&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;1. Syarat subjektif yaitu tidak terpenuhinya persyaratan ini mengakibatkan sebuah perjanjian dapat dibatalkan. Syarat ini terbagi atas :&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;a. Adanya kesepakatan tercantum dalam pasal 1320 KUHPDT yang berarti perjanjian harus dilakukan dengan kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan dapat terlihat dari adanya pemberian dan penerimaan hak dan kewajiban antara para pihak. Kesepakatan tidak berlaku apabila dilakukan dengan penipuan, pemaksaan, kekhilafan atau pemalsuan. Hal ini dilandasi dengan adanya Pasal 1321, 1323, 1324, 1325, 1326, 1327 serta 1328 KUHPDT;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;b. Cakap, seperti yang tercantum dalam Pasal 1330 KUHPDT, yang berarti seseorang yang melakukan perjanjian harus dianggap mampu, seperti telah dewasa, tidak sakit ingatan, tidak dalam pengampuan atau tidak sedang dicabut haknya;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;2. Syarat objektif yaitu tidak terpenuhinya persyaratan ini mengakibatkan perjanjian batal demi hukum atau dianggap tidak pernah ada. Syarat objektif ini terbagi atas :&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;a. Hal tertentu [objek perjanjian], seperti yang tercantum dalam Pasal 1333 dan Pasal 1334 KUHPDT, yang berarti setiap objek yang diperjanjikan harus ditentukan terlebih dahulu. Seperti jenis, kualitas atau kuantitas dari barang atau jasa yang dijadikan objek perjanjian. Selain itu, objek yang diperjanjikan harus bersifat halal yang berarti tidak bertentangan dengan kepentingan umum, norma dan hukum yang berlaku;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;b. Suatu sebab yang halal, seperti tercantum dalam Pasal 1335, 1336 serta Pasal 1337 KUHPDT, yang berarti setiap orang yang terlibat dalam sebuah perjanjian harus memiliki tujuan yang tidak bertentangan dengan kepentingan umum, norma-norma yang berkembang dan hukum positif yang berlaku. Contoh, dilarang melakukan perjanjian untuk meledakkan sebuah bahan peledak yang bertujuan negatif.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Setelah perjanjian dibuat, maka kita harus mengetahui pada saat apa perjanjian tidak dapat diberlakukan lagi. Di dalam KUHPDT terutama bab 4 buku 3 pasal 1381 dapat membantu kita untuk menentukan pada saat kapan perjanjian sudah tidak berlaku lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ada beberapa hal yang dapat kita ambil sebagai ukuran sebuah perjanjian dapat dikatakan tidak berlaku lagi, diantaranya :&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;1. Telah adanya pembayaran atau pelaksanaan dari isi perjanjian;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;2. Adanya pembaharuan perikatan atau perjanjian yang mengakibatkan terhapusnya isi perjanjian sebelumnya,seperti yang tercantum dalam Pasal 1413 KUHPDT;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;3. Adanya perjumpaan utang, ini berarti sejumlah hutang piutang dapat diselisihkan antara utang satu dengan yang lainya apabila diantara pihak yang melakukan hutang piutang sama-sama memiliki tagihan antara satu dengan lainya, seperti yang tercantum dalam Pasal 1425 KUHPDT;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;4. Adanya pembebasan hutang atau perjanjian oleh orang atau pihak yang memiliki hak dalam suatu perjanjian, seperti yang tercantum dalam bagian 6 buku 3 KUHPDT;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;5. Musnahnya barang yang menjadi objek perjanjian. Perlu diketahui, bahwa musnahnya objek perjanjian bukan disengaja dan bukan bertujuan untuk melepaskan kewajiban dalam melaksanakan isi perjanjian, seperti yang tercantum dalam Pasal 1444 KUHPDT;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;6. Adanya pembatalan perjanjian karena isi perjanjian telah bertentangan dengan hukum positif yang berlaku ataupun telah bertentangan dengan kepentingan umum, seperti yang dijelaskan dalam bagian 8 Buku 3 KUHPDT;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;7. Perjanjian yang telah dibuat telah memasuki waktu kadaluarsa. Biasanya waktu kadaluarsa ditentukan oleh Undang-Undang atau didasarkan atas persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan dalam perjanjian kedua belah pihak.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;Setelah mengetahui secara umum dan singkat mengenai unsur-unsur penting dari sebuah perjanjian dan faktor-faktor penghapus dari sebuah perjanjian yang telah dibuat oleh kedua belah pihak, maka penulis menyarankan, supaya para pihak yang mengadakan perjanjian memperhatikan hal-hal seperti di bawah ini :&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;1. Sebelum kita melakukan sebuah perjanjian hendaknya harus dipahami mengenai hak dan kewajiban yang akan didapatkan oleh masing-masing pihak.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;2. Hendaknya setiap perjanjian yang akan dibuat dilakukan secara tertulis, terperinci, bersaksi atau bermaterai, apabila isi dan pelaksanaan dari perjanjian merupakan hal penting dan besar. Hal ini bertujuan untuk menghindari sengketa dari kedua belah pihak di kemudian hari.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;3. Hendaknya di dalam isi perjanjian dicantumkan penyelesaian alternatif, apabila sengketa yang berkaitan dengan perjanjian yang telah disepakati terjadi. Hal ini bertujuan supaya setiap sengketa yang mungkin terjadi dapat diselesaikan secara baik-baik dan tidak merugikan kedua belah pihak yang bersengketa.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;4. Hendaknya setiap pihak dalam melaksanakan hak dan kewajibannya, seperti yang telah disepakati dalam perjanjian.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;5. Hendaknya setiap pihak yang menyepakati perjanjian tersebut dapat melakukannya dengan itikad baik.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dengan adanya pengetahuan mengenai unsur-unsur penting yang ada dalam sebuah perjanjian, seperti yang telah dijelaskan di atas, diharapkan masyarakat secara umum dapat melakukan perjanjian, melaksanakan isi perjanjian, serta menyelesaikan sengketa yang timbul karena perjanjian secara bijak dan dewasa. Mengingat dalam setiap perjanjian selalu memiliki hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pihak-pihak yang menyepakati perjanjian tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dengan alasan demikian, perjanjian yang telah disepakati, tidak dapat lagi dijadikan alasan perpecahan atau pun pertentangan diantara pergaulan antar individu di dalam masyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0cm;"&gt;*Artikel telah disusun, dan telah ditulis oleh Rizky Harta Cipta SH. MH,&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-7989140301632381668?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/7989140301632381668/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/10/perjanjian-bukan-lagi-sumber-sengketa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/7989140301632381668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/7989140301632381668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/10/perjanjian-bukan-lagi-sumber-sengketa.html' title='Perjanjian Bukan Lagi Sumber Sengketa'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-1611244591699251515</id><published>2011-10-17T16:07:00.000-07:00</published><updated>2011-10-17T16:17:17.813-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Pidana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Dasar Pemidanaan Terhadap Para Pelaku Kejahatan</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Di antara para penulis barat dianut perbagai teori hukum pidana atau strafrechtstheorien, yang dasar pikirannya berkisar pada persoalan : Mengapa suatu kejahatan harus dikenakan suatu hukuman pidana ?&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Teori-teori hukum pidana ini ada hubungan erat dengan pengertian subjectief strafrecht (jus puniendi), sebagai hak atau wewenang untuk menentukan dan menjatuhkan pidana, terhadap pengertian objectief strafrecht (jus punale sebagai peraturan hukum positif yang merupakan hukum pidana. Adanya pengertian subjectief strafrecht dan objectiefstrafrecht ini dapat dimungkinkan oleh karena kata recht ada dua arti, yaitu kesatu sebagai "hak" atau "wewenang", dan kedua sebagai "peraturan hukum"&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Lain halnya dengan istilah "hukum pidana" yang hanya berarti apa yang dimaksudkan dengan objectief strafrecht, sedangkan untuk pengertian subjectief strafrecht dalam bahasa Indonesia dapat dipergunakan istilah "hak mempidana"&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dengan adanya pengertian subjectief strafrecht atau "hak mempidana" ini lebih menonjol persoalan tersebut yang menjadi dasar pikiran dari teori-teori hukum pidana, yaitu agar bergeser kepada persoalan : Kenapa alat-alat negara ada hak untuk mempidana seseorang yang melakukan kejahatan ?&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Terhadap "hak mempidana" ini mungkin ada pendapat, bahwa hak mempidanan sama sekali tidak ada. Hazewinkel-Suringa mengingkari sama sekali hak mempidana ini dengan mengutarakan keyakinan mereka, bahwa si penjahat tidak boleh dilawan dan bahwa musuh tidak boleh dibenci. Selain itu, penunjukan oleh guru besar wanita ini kepada para pengikut Johannes Huss (1365-1415), seorang gerejawan di Bohemen (Hussieten), yang mengingkari hak suatu pemerintah, yang tahu diri sendiri bersalah terhadap Tuhan, untuk menghukum orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ada beberapa teori tentang Hukum Pidana yang dapat dijelaskan, yaitu :&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;(1). Teori Absolut atau Mutlak.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Menurut teori-teori ini, setiap kejahatan harus diikuti dengan pidana, tidak boleh tidak, tanpa tawar-menawar.Seorang mendapat pidanan oleh karena telah melakukan kejahatan. Tidak dilihat akibat-akibat apapun yang mungkin timbul dari dijatuhkannya pidana. Tidak dipedulikan, apa dengan demikian masyarakat mungkin akan dirugikan. Hanya dilihat ke masa lampau, tidak dilihat ke masa depan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kegiatan pembalasan, atau disebut juga sebagai vergelding yang menurut banyak orang dijelaskan sebagai alasan untuk mempidana suatu kejahatan. Kepuasan hati yang dijadikan suatu ukuran, tetapi faktor lainnya kurang diperhatikan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Apabila ada seorang oknum yang langsung kena dan menderita karena kejahatan itu, maka "kepuasan hati" itu terutama ada pada si oknum itu. Dalam hal pembunuhan, kepuasan hati ada pada keluarga si korban khususnya dan masyarakat umumnya.&lt;br /&gt;Dengan meluasnya kepuasan hati ini pada sekumpulan orang, maka mudah juga meluasnya sasaran dari pembalasan kepada orang-orang lain dari si penjahat, yaitu pada sanak keluarga atau kawan-kawan karib. Maka unsur pembalasan , meskipun dapat dimengerti, tidak selalu dapat tepat menjadi ukuran untuk penetapan suatu pidana.&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa, kata vergelding atau "pembalasan" ini biasanya dipergunakan sebagai istilah untuk menunjukan dasar dari teori "absolut" tentang Hukum Pidana (absolute strafrechtstheorien).&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Van Bemmelen dalam buku karya bersama dengan Van Hattum, Hand-en Leerboek van het Nederlandsche Strafrecht." Jilid II halaman 12 dan 13 mengemukakan unsur naastenliefde (cinta kepada sesama manusia) sebagai dasar adanya norma-norma yang dilanggar oleh para penjahat. Cinta sesama manusia ini mendasari larangan mencuri, menipu, membunuh, menganiaya, dan sebagainya. Dengan dasar ini maka kejahatan sudah selayaknya ditanggapi dengan suatu pidana yang dilimpahkan kepada si penjahat. Tidak perlu dicari lain alasan.Jadi kini ada nada absolut atau mutlak pula. Nada kemutlakan ini juga terdapat pada sikap Prof.Mr.R.Kranenburg, yang mendasarkan pidana pada keinsafan-keadilan (rechtsbewustzijn) dari sesama warga dari suatu negara.&lt;br /&gt;Menurut Hazewinkel-Suringa, selaras dengan Kranenburg yang merupakan penulis Leo Polak, yang mempergunakan keinsafan-kesusilaan (zadelijk bewustzijn) sebagai dasar pidana. Sedangkan Kant dan Hegel dapat digolongkan kepada kelompok yang menganut teori-teori absolut dalam hal hukum pidana. Kant terkenal sebagai seorang filsuf yang mengutarakan gagasan-gagasannya sebagai apa yang menurut Ia sendiri merupakan pikiran yang murni atau yang praktis, dan atas pikiran semacam inilah oleh Kant didasarkan kemutlakan pidana sebagai follow up dari kejahatan. Sedangkan menurut Hegel pidana dianggap mutlak harus ada kemestiannya sebagai reaksi dari suatu kejahatan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;(2). Teori-teori Relatif atau Nisbi&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Menurut teori-teori ini, suatu kejahatan tidak mutlak harus diikuti dengan suatu pidana. Untuk itu tidaklah cukup adanya suatu kejahatan, melainkan harus dipersoalkan perlu dan manfaatnya suatu pidana bagi masyarakat atau bagi si penjahat sendiri. Tidaklah saja dilihat pada masa lampau, melainkan juga pada masa depan. Oleh karena itu, harus ada tujuan lebih jauh daripada hanya menjatuhkan pidana saja.Dengan demikian teori-teori ini juga dinamakan teori-teori "tujuan" (doel-theorien). Tujuan ini pertama-tama harus diarahkan kepada usaha agar di kemudian hari, kejahatan yang telah dilakukannya itu tidak terulang lagi (prevensi).&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Prevensi ini ada dua macam, yaitu prevensi khusus atau special dan prevensi umum atau general. Keduanya berdasar atas gagasan, bahwa mulai dengan ancaman akan dipidana dan kemudian dengan dijatuhkannya pidana, orang akan takut menjalankan kejahatan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dalam prevensi special, hal yang membuat takut ini ditujukan kepada si penjahat, sedangkan dalam prevensi general diusahakan agar para oknum semua sama takut akan menjalankan kejahatan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sebagai penganut prevensi special oleh Zevenbergen disebutkan dua penulis, yaitu Van Hamel dan Grolman. Sedangkan sebagai penganut prevensi general oelh Zevenbergen, Van Hattum, dan Hazewinkel-Suringa disebutkan terutama Paul Anselm Feuerbach, yang menitikberatkan pada ancaman dengan pidana yang termuat dalam peraturan hukum pidana.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Hal ini disebabkan, karena digunakannya pandangan pengertian psychologischedwang, yang berarti bahwa dengan ancaman pidana ini orang-orang didorong secara psikis tidak secara fisik, untuk tidak melakukan kejahatan. Selain itu, teori relatif lainnya, telah melihat bahwa usaha untuk dengan menjatuhkan pidana memperbaiki si penjahat agar menjadi orang baik, yang tidak akan lagi melakukan kejahatan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Menurut Zevenbergen, ada tiga macam "memperbaiki si penjahat" ini, yaitu perbaikan "yuridis, perbaikan "intelektual" dan perbaikan "moral", yang berarti perbaikan "yuridis" lebih mengenai sikap si penjahat dalam hal menaati Undang-Undang, perbaikan "intelektual" lebih mengenai cara berpikir si penjahat agar Ia insaf akan jeleknya kejahatan, sedangkan perbaikan "moral" lebih mengenai rasa kesulitan si penjahat, agar Ia menjadi orang yang bermoral tinggi. Zevenbergen menunjukan pembela dari ketiga macam perbaikan ini masing-masing Stelzer, Groos, dan Kraus.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Konsekuensi dari teori-teori Relatif antara lain jika menurut teori "relatif" atau teori-teori "tujuan" ini menjatuhkannya pidana digantungkan kepada kemanfaatannya bagi masyarakat, maka ada konsekuensi logis, seperti dalam mencapai tujuan "prevensi" atau "memperbaiki si penjahat", tidak hanya secara negatif, maka tidaklah layak dijatuhkan pidana, melainkan secara positif dianggap baik, maka pemerintah mengambil tindakan yang tidak bersifat pidana.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tindakan ini misalnya berupa mengawasi saja tindak-tanduk si penjahat atau menyerahkannya kepada suatu lembaga swasta dalam bidang sosial, untuk menampung orang-orang yang perlu dididik menjadi anggota masyarakat yang berguna (beveiligings-maatregelen).&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;(3). Teori-teori Gabungan (Verenigings-Theorien).&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Apabila ada dua pendapat yang diametral berhadapan satu sama lain, biasanya ada suatu pendapat ketiga yang berada di tengah-tengah. Juga kini, di samping teori-teori absolut dan teori-teori relatif tentang hukum pidana, kemudian muncul teori ketiga, yang di satu pihak mengakui adanya unsur "pembalasan" (vergelding) dalam hukum pidana, tetapi di lain pihak mengakui pula unsur "prevensi" dan unsur "memperbaiki penjahat", yang melekat pada tiap pidana.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Zevenbergen menganggap dirinya termasuk golongan ketiga ini, dan menunjuk nama-nama Beling, Binding, dan Merkel sebagai eksponen-eksponen penting dari teori "gabungan" ini. Van Hattum menunjuk Pompe, sedangkan Hazenwinkel-Suringa menunjuk Hugode Groot, Rossi dan Taverne sebagai tokoh-tokoh dari golongan teori "gabungan" ini.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Leden Marpaung, 1999., Tindak Pidana Terhadap Nyawa Dan Tubuh (Pemberantasan dan Prevensinya), Sinar Grafika, Jakarta. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Wirjono Projodikoro, 1986. Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia., Ed 2, Eresco, Bandung. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;* Artikel telah disusun oleh Rizky Harta Cipta SH, MH, dari berbagai kepustakaan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-1611244591699251515?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/1611244591699251515/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/10/dasar-pemidanaan-terhadap-para-pelaku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/1611244591699251515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/1611244591699251515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/10/dasar-pemidanaan-terhadap-para-pelaku.html' title='Dasar Pemidanaan Terhadap Para Pelaku Kejahatan'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-1496361097202632740</id><published>2011-10-17T15:56:00.000-07:00</published><updated>2011-10-17T16:07:01.731-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Pidana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Kedudukan Korporasi Sebagai Pelaku Tindak Pidana Masa Kini</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan kegiatan bisnis yang telah melahirkan jenis-jenis kejahatan baru, maka hukum pidana moderen telah menggambarkan bahwa, dalam lingkungan sosial ekonomi atau dalam lalu lintas perekonomian, seorang pelanggar hukum pidana tidak selalu perlu melakukan kejahatan secara fisik, karena perbuatan korporasi selalu diwujudkan melalui perbuatan manusia (direksi; manajemen), sehingga pelimpahan pertanggung jawaban manajemen (manusia; natural person), menjadi perbuatan korporasi (badan hukum, legal person) yang dilakukan dalam lalu lintas kemasyarakatan1. Selain itu, bentuk pengakuan terhadap lahirnya jenis-jenis tindak pidana baru (khususnya yang dilakukan oleh korporasi), telah diakui juga oleh organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), dengan disahkannya UN Convention against Transnational Organized Crime (2000) yang dianggap sebagai ancaman pada The integrity of national financial industries&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apabila meninjau lebih dalam mengenai ”kejahatan korporasi”, maka pengertian dasar dari “kejahatan korporasi” menurut Black’s Law Dictionary menjelaskan bahwa, “any criminal offense committed by and hence chargeable to a corporation because of activities of its officers or employees (e.g., price fixing, toxic waste dumping), often referred to as “white collar crime”.2 (Kejahatan korporasi adalah tindak pidana yang dilakukan oleh dan oleh karena itu dapat dibebankan pada suatu korporasi karena aktivitas-aktivitas pegawai atau karyawannya (seperti penetapan harga, pembuangan limbah), sering juga disebut sebagai “kejahatan kerah putih”). Sedangkan menurut John Braithwaite menjelaskan bahwa, conduct of a corporation, or employees acting on behalf of a corporation, which is proscribed and punishable by law.3 &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pendapat-pendapat di atas, telah didukung dengan pandangan Simpson yang menjelaskan bahwa ada tiga ide pokok dari definisi Braithwaite mengenai kejahatan korporasi. Seperti :4&lt;br /&gt;1. Tindakan ilegal dari korporasi dan agen-agennya berbeda dengan perilaku kriminal kelas sosioekonomi bawah dalam hal prosedur administrasi. Oleh karena itu, yang digolongkan kejahatan korporasi tidak hanya tindakan kejahatan atas hukum pidana,tetapi juga pelanggaran atas hukum perdata dan administrasi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;2. Korporasi (sebagai "subyek hukum perorangan "legal persons") dan perwakilannya termasuk sebagai pelaku kejahatan (as illegal actors), dimana dalam praktik yudisialnya, bergantung pada antara lain kejahatan yang dilakukan, aturan dan kualitas pembuktian dan penuntutan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;3. Motivasi kejahatan yang dilakukan korporasi bukan bertujuan untuk keuntungan pribadi, melainkan pada pemenuhan kebutuhan dan pencapaian keuntungan organisasional, sehingga memungkinkan motif tersebut ditopang pula oleh norma operasional (internal) dan sub-kultur organisasional.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut Loebby Loqman, yang dimaksud dengan korporasi adalah suatu kumpulan dagang yang sudah berbadan hukum.5 Sedangkan Gillies berpandangan bahwa, korporasi atau perusahaan yakni orang atau manusia di mata hukum yang mampu melakukan sesuatu sebagaimana yang dilakukan oleh manusia, maka diakui oleh hukum seperti memiliki kekayaan, melakukan kontrak, dan dapat dipertanggung jawabkan atas kejahatan yang dilakukan.6 &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apabila meninjau pandangan Subekti, maka badan hukum atau korporasi itu misalnya, suatu perkumpulan dagang yang berbentuk perseroan terbatas, perserikatan orang atau yayasan, atau bentuk-bentuk korporasi.7 Selain itu, lahirnya korporet sebagai pelaku kejahatan menurut Wirjono Prodjodikoro berasal dari perkumpulan-perkumpulan dari orang-orang, yang sebagai badan hukum turut serta dalam pergaulan hidup kemasyarakatan, timbul gejala-gejala dari perkumpulan itu, yang apabila dilakukan oleh oknum, terang masuk perumusan berbagai tindak pidana. Dalam hal ini, sebagai perwakilan, yang kena hukuman pidana adalah oknum lagi, yaitu orang-orang yang berfungsi sebagai pengurus dari badan hukum, seperti seorang direktur dari suatu perseroan terbatas, yang dipertanggungjawabkan. Sedangkan mungkin sekali seorang direktur itu hanya melakukan saja putusan dari dewan direksi, sehingga timbul dan kemudian merata gagasan, bahwa juga suatu perkumpulan sebagai badan tersendiri dapat dikenakan hukuman pidana sebagai subyek suatu tindak pidana.8 &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan atas tindakan-tindakan anggota direksi atau pejabat korporasi yang mengambil tindakan untuk kepentingan dan keuntungan bagi korporasi, maka terdapat doktrin dalam hukum korporasi yang melindungi para direktur yang beritikad baik tersebut sebagaimana terdapat dalam teori Business Judgment Rule yang merupakan salah satu teori yang sangat popular untuk menjamin keadilan bagi para direktur yang mempunyai itikad baik.9&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penerapan doktrin di atas, memiliki tujuan untuk mencapai keadilan, khususnya bagi para direktur sebuah perusahaan terbatas dalam melakukan suatu keputusan bisnis.10 &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meninjau pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia (KUHP) yang pada masa ini masih berlaku dan dijadikan payung hukum pidana, maka Kitab Undang-Undang Hukum Pidana secara tegas belum menerapkan prinsip-prinsip kejahatan korporasi (korporasi sebagai pelaku). Oleh karena itu. Walaupun demikian, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana telah mengatur mengenai pengurus korporasi yang melakukan “kejahatan korporasi” dengan atas nama korporasi atau perusahaan. Hal ini dapat dilihat pada Pasal 398 KUHP yang menjelaskan bahwa jika seorang pengurus atau komisaris perseroan terbatas, maskapai andil Indonesia atau perkumpulan korporasi yang dinyatakan dalam keadaan pailit atau yang diperintahkan penyelesaian oleh pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan dan “jika yang bersangkutan turut membantu atau mengizinkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan anggaran dasar, sehingga oleh karena itu seluruh atau sebagian besar dari kerugian diderita oleh perseroan, maskapai, atau perkumpulan…”. Walaupun demikian, pada perkembangannya korporasi mulai diposisikan sebagai subyek hukum pidana dengan ditetapkannya Undang-Undang Darurat Nomor. 7 Tahun 1955 Tentang Pengusutan, Penuntutan dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi, Undang-Undang Nomor 11 PNPS Tahun 1964 Tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi, Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Lingkungan Hidup, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 21 Tahunn 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;Daftar Pustaka :&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;1. Mardjono Reksodiputro, “Tindak Pidana Korporasi dan Pertanggungjawabannya-Perubahan Wajah Pelaku Kejahatan di Indonesia” (Pidato Dies Natalis ke-47 PTIK), Juni 1993.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;2. Henry Campbell Black, Black’s Law Dictionary, West Publishing Co., St. Paul, Minnessota, 1990, ed.6, hal. 339.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;3. Sally S. Simpson, Strategy, Structure and Corporate Crime, 4 Advances in Criminological Theory, 1993), hal. 171.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;4. Sally S. Simpson, Ibid.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;5. H Loebby Loqman,, Kapita Selekta Tindak Pidana di Bidang Perekonomian, Datacom, Jakarta, 2005, hal. 3.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;6. M Arief Amrullah, Kejahatan Korporasi, Bayumedia, Jawa Timur, 2006, hal. 211-212.. M Arief Amrullah, Ibid, hal. 201.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;8. Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, Ed.2, Cet.6, Eresco, Bandung, 1989, hal. 55.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;9. Dennis J. Block, Nancy R. Barton dan Stephen A. Radin, The Business judgment Rule Fiduciary Duties of Corporate Directors, Prentice Hall law &amp;amp; Business, Third edition, 1990, hal 4&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;10. Dennis J. Block, Nancy R. Barton dan Stephen A. Radin, Ibid.&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;* Karya tulis ini telah disusun, ditulis dan telah dianalisa oleh Rizky Harta Cipta SH. MH&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-1496361097202632740?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/1496361097202632740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/10/kedudukan-korporasi-sebagai-pelaku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/1496361097202632740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/1496361097202632740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/10/kedudukan-korporasi-sebagai-pelaku.html' title='Kedudukan Korporasi Sebagai Pelaku Tindak Pidana Masa Kini'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-5357348148012517534</id><published>2011-08-03T01:35:00.000-07:00</published><updated>2011-08-03T01:36:26.216-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana Keislaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih Ibadah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Pengertian, Syarat dan Rukun Puasa</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Apa itu Puasa?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;Puasa  ialah menahan diri dari makan dan minum serta melakukan perkara-perkara  yang boleh membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sehingga  terbenamnya matahari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Hukum Puasa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: black;"&gt;Hukum        puasa terbahagi kepada tiga iaitu :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Wajib – Puasa pada          bulan Ramadhan. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Sunat – Puasa pada          hari-hari tertentu. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Haram – Puasa pada          hari-hari yang dilarang berpuasa.&lt;/span&gt;&lt;span id="more-422"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Syarat Wajib Puasa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Beragama Islam &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Baligh (telah          mencapai umur dewasa) &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Berakal &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Berupaya untuk          mengerjakannya. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Sihat &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tidak musafir&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Rukun Puasa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Niat  mengerjakan puasa pada tiap-tiap malam di bulan Ramadhan(puasa wajib)  atau hari yang hendak berpuasa (puasa sunat). Waktu berniat adalah mulai  daripada terbenamnya matahari sehingga terbit fajar. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Meninggalkan sesuatu          yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sehingga masuk matahari. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Syarat Sah Puasa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Beragama Islam &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Berakal &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Tidak dalam haid,          nifas dan wiladah (melahirkan anak) bagi kaum wanita &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Hari yang sah          berpuasa. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Sunat Berpuasa&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Bersahur walaupun          sedikit makanan atau minuman &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Melambatkan bersahur &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Meninggalkan          perkataan atau perbuatan keji &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Segera berbuka          setelah masuknya waktu berbuka &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Mendahulukan berbuka          daripada sembahyang Maghrib &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Berbuka dengan buah          tamar, jika tidak ada dengan air &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Membaca doa berbuka          puasa &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Perkara Makruh Ketika Berpuasa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Selalu          berkumur-kumur &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Merasa makanan          dengan lidah &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Berbekam kecuali          perlu &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Mengulum sesuatu &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hal yang membatalkan Puasa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Memasukkan sesuatu          ke dalam rongga badan &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Muntah dengan          sengaja &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Bersetubuh atau          mengeluarkan mani dengan sengaja &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;kedatangan haid atau          nifas &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Melahirkan anak atau          keguguran &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Gila walaupun          sekejap &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Mabuk ataupun          pengsan sepanjang hari &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Murtad atau keluar          daripada agama Islam &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hari yang Disunatkan Berpuasa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Hari Senin dan          Kamis &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Hari putih (setiap          13, 14, dan 15 hari dalam bulan Islam) &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Hari Arafah (9          Zulhijjah) bagi orang yang tidak mengerjakan haji &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Enam hari dalam          bulan Syawal &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hari yang diharamkan Berpuasa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Hari raya Idul Fitri          (1 Syawal) &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Hari raya Idul Adha          (10 Zulhijjah) &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Hari syak (29          Syaaban) &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt; &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Hari Tasrik (11, 12,          dan 13 Zulhijjah)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-5357348148012517534?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/5357348148012517534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/08/pengertian-syarat-dan-rukun-puasa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/5357348148012517534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/5357348148012517534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/08/pengertian-syarat-dan-rukun-puasa.html' title='Pengertian, Syarat dan Rukun Puasa'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-3151170249756081610</id><published>2011-08-03T01:33:00.000-07:00</published><updated>2011-08-03T01:34:40.426-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana Keislaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perbandingan Madzhab'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih Ibadah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Puasa dan Kejujuran</title><content type='html'>&lt;p&gt;Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan  dari tata pergaulan sosial-ekonomi-politik dan disingkirkan dari bingkai  kehidupan manusia. Fenomena ketidak jujuran benar-benar telah menjadi  realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran saat ini telah  berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam rahasia  umum yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia.    Sosok manusia jujur telah menjadi makhluk langka di bumi ini. Kita lebih  mudah mencari orang-orang pintar daripada orang-orang jujur.  Keserakahan dan ketamakan kepada materi kebendaan, mengakibatkan manusia  semakin jauh dari nilai-nilai kejujuran dan terhempas dalam kubangan  materialisme dan hedonisme yang cendrung menghalalkan segala cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada masa sekarang, banyak manusia tidak mempedulikan jalan-jalan yang  halal dan haram dalam mencari uang dan jabatan . Sehingga kita sering  mendengar ungkapan-ungkapan kaum materialis, “Mencari yang haram saja  sulit, apalagi yang halal”. Bahkan selalu diucapkan orang,”kalau jujur  akan terbujur”,”kalau lurus akan kurus”,kalau ihklas akan tergilas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan bahwa manusia zaman kini telah  dilanda penyakit mental yang luar biasa, yaitu penyakit korup dan  ketidak jujuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi muhammad Saw pernah memprediksi, bahwa  suatu saat nanti, diakhir zaman,manusia dalam mencari harta,tidak  mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram. (HR Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ramalan Nabi pada masa kini telah menjadi realitas sosial yang  mengerikan, bahkan implikasinya telah menjadi patologi sosial yang  parah, seperti menjamurnya korupsi, pungli, suap, sogok,uang pelicin  dsb. Banyak kita temukan pencuri-pencuri berdasi melakukan  penyimpangan-penyimpangan dalam mengelola proyek. Manusia berlomba-lomba  mengejar kekayaan dan kemewahan dunia secara massif, tanpa mempedulikan  garisan-garisan syariah dan moralitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era reformasi yang  telah berlangsung lebih lebih sepuluh tahun, praktek kolusi,korupsi dan  suap menyuap masih saja menjadi kebiasaan masyarakat kita . Untuk  mengatasi dan mengurangi segala destruktip tersebut, puasa merupakan  ibadah yang paling ampuh dan efektif, asalkan pelaksanaan puasa tersebut  dilakukan dengan dasar iman yang mantap kepada Allah, dan ihtisab  (mawas diri), serta penghayatan yang mendalam tentang hikmat yang  terkandung di dalam puasa Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa melatih kejujuran     &lt;br /&gt; Berbeda dengan sifat ibadah yang ada, puasa adalah ibadah sirriyah  (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu  berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah  SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk  berlaku jujur. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi  yang tidak terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau  minum, karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang  tahu apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu  dilihat Allah swt..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang sedang berpuasa juga dapat  dengan leluasa berkumur sambil menahan setetes air segar ke dalam  kerongkongan, tanpa sedikitpun diketahui orang lain. Perbuatan orang itu  hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Hanya Allah dan diri si  shaim itu saja yang benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan  dalam menjalankan ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak  berani berbuat seperti itu, takut puasa batal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang  berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk  menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh  Allah SWT.Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri  seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan  terbangun sifat kejujuran.Jika manusia jujur telah lahir, dan menempati  setiap sektor dan instansi, lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka  tidak adalagi korupsi, pungli, suap-menyuap dan  penyimpangan-penyimpangan moral lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Kejujuran  merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri seorang  manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan  kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat di selesaikan dengan baik  dan terhindar dari penyelewengan-penyelewenga&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div&gt;n. Kejujuran juga menjamin tegaknya keadilan dan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya,  seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega  melakukan kezaliman terhadap hak orang lain.Ketidakjujuran selalu  meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya mengancam stabilitas  sosial. Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidakadilan. Sebab  orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi  keuntungan material pribadi atau golongannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlaku jujur,  sungguh menjadi bermakna pada masa sekarang,, masa yang penuh dengan  kebohongan dan kepalsuan. Pentingnya kejujuran telah banyak disapaikan  Rasulullah SAW. Diriwayatkat bahwa, Rasulullah pernah didatangi oleh  seorang pezina yang ingin taubat dengan sebenarnya. Rasulullah  menerimanya dengan satu syarat, yaitu,agar orang tersebut berlaku jujur  dan tidak bohong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat yang kelihatan sangat ringan untuk  sebuah pertaubatan besar, tetapi penerapannya dalam segala aspek  kehidupan sangat berat.Dan ternyata syarat jujur tersebut sangat ampuh  untuk menghentikan perbuatan zina. Jika ia tetap berzina secara  sembunyi-sembunyi, lalu bagaimana ia harus menjawab jika Rasulullah  menanyainya tentang apakah ia masih berzina atau tidak.Untuk menghindari  berbohong kepada Nabi, maka si pezina mengakhiri prilakunya yang dusta  itu dan kemudian benar-benar bertaubat dengan penuh penghayatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari riwayat itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa kejujuran sangat  signifikan dalam membersihkan prilaku menyimpang, seperti korupsi,  kolusi, penipuan, manipulasi, suap-menyuap dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dewasa  ini kesadaran untuk menumbuhkan sifat kejujuran sebagai buah dari ibadah  puasa, kiranya perlu mendapat perhatian serius. Pendidikan kejujuran  yang melekat pada ibadah puasa, perlu dikembangkan sebagai bagian dari  kehidupan riel dalam masyarakat. Sebab apabila kejujuran telah  disingkirkan, maka kondisi masyarakat akan runyam. Korupsi dan kolusi  terjadi di mana-mana, pungli merajalela, kemungkaran sengaja dibeking  oleh oknum-oknum tertentu demi mendapatkan setoran uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Fenomena kebohongan dan tersingkirnya sifat kejujuran, mengantarkan  masyarakat dan bangsa kita pada beberapa musibah nasional yang  berlangsung secara beruntun dan silih berganti tiada henti. Terjadinya  malapetaka berupa krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia adalah  cermin paling jelas dari makin hilangnya sukma. kejujuran dan semakin  mekarnya kepalsuan dalam kehidupan bangsa kita.&lt;br /&gt;Dalam menghadapi  kasus-kasus yang gawat seperti itu, pesan-pesan profetik keagamaan  seperti pesan luhur ibadah puasa dapat ditransformasikan untuk  membongkar sangkar kepalsuan dan mem bangun kejujuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang  secara pesimis berpendapat, bahwa membangun kejujuran pada era  materialisme adalah suatu utopia (angan-angan) mengingat mengakarnya  sifat ketidak jujuran dalam masyarakat dan bangsa kita. Sebagai orang  beriman yang menyandang peringkat khairah ummah, sikap pesimis di atas  harus dibuang jauh-jauh.Sebab gerakan amarma’ruf nahi mungkar yang  dilandasi iman, harus tetap dilancarkan, agar konstelasi dunia ini tidak  semakin parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas menunjukkan, bahwa kesemarakan  ramadhan dari tahun ke tahun semakin meningkat, namun ironisnya,  bersamaan dengan itu penyimpangan dan ketidakjujuran masih berjalan  terus. Padahal, suatu bulan kita dilatih dan didik untuk berlaku jujur,  menjadi orang yang dapat dipercaya. Bila selama satu bulan itu,  orang-orang yang berpuasa benar-benar berlatih secara serius dengan  penuh penghayatan terhadap hikmah puasa, maka pancaran kejujuran akan  terpantul dari dalam jiwa mereka. Kalau puasa Ramadhan yang dilakukan  tidak melahirkan manusia-manusia jujur, berarti kualitas puasa orang  tersebut masih sebatas lapar dan dahaga. Karena puasa yang dilakukan  tidak memantulkan refleksi kejujuran. Kalau orang yang berpuasa, masih  mau menerima suap dari orang-orang yang mencari pekerjaan, berarti  kualitas ibadah orang tersebut masih sangat rendah. Kalau orang yang  berpuasa, masih mau melakukan mark up dalam proyek, korupsi dan kolusi,  berarti puasa yang dilakukan masih jauh dari tujuan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalau pasca puasa Ramadhan, kejujuran semakin tipis atau  sirna,pungli,korupsi dan kolusi tetap menjadi kebiasaan, barang kali  puasa yang dilakukan tidak didasari iman, tetapi mungkin ia melakukan  puasa hanya karena mengikuti tradisi. Untuk mewujudkan manusia jujur,  perlu peningkatan iman dan penghayatan kesadaran kehadiran Tuhan. Tanpa  upaya ini, kejujuran tak kan lahir dari orang yang berpuasa Cara awalnya  ialah dengan mengikuti Training ESQ atau Pesantren Qalbu. Hasilnya  sudah terbukti secara sifnifikan di mana-mana. Banyak BUMN omzetnya  meningkat secara signifikan setelah para direktur dan managernya ikut  training ESQ (Emosional Spitual Quentiont). yang dilaksanakan oleh Ary  Ginanjar Agustian.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-3151170249756081610?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/3151170249756081610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/08/puasa-dan-kejujuran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/3151170249756081610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/3151170249756081610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/08/puasa-dan-kejujuran.html' title='Puasa dan Kejujuran'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-8997426260943073998</id><published>2011-08-03T01:28:00.000-07:00</published><updated>2011-08-03T01:31:07.612-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana Keislaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Puasa &amp; Beberapa Hikmahnya</title><content type='html'>Puasa secara bahasa adalah menahan diri dari sesuatu. Sedangkan secara  terminologi, adalah menahan diri pada siang hari dari berbuka dengan  disertai niat berpuasa bagi orang yang telah diwajibkan sejak terbit  fajar hingga terbenam matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Detailnya, puasa adalah menjaga dari pekerjaan-pekerjaan yang dapat  membatalkan puasa seperti makan, minum, dan bersenggama pada sepanjang  hari tersebut (sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa  diwajibkan atas seorang muslim yang baligh, berakal, bersih dari haidl  dan nifas, disertai niat ikhlas semata-mata karena Allah ta'aala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun  rukunnya adalah menahan diri dari makan dan minum, menjaga kemaluannya  (tidak bersenggama), menahan untuk tidak berbuka, sejak terbitnya ufuk  kemerah-merahan (fajar subuh) di sebelah timur hingga tenggelamnya  matahari. Firman Allah swt : "Dan makan minumlah hingga terang bagimu  benang putih dari benang hitam, yaitu fajar". (Al-Baqarah: 187).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn  'Abdul Bar dalam hadis Rasulullah saw "Sesungguhnya Bilal biasa azan  pada malam hari, maka makan dan minumlah kamu sampai terdengarnya azan  Ibn Ummi Maktum", menyatakan bahwa benang putih adalah waktu subuh dan  sahur hanya dikerjakan sebelum waktu fajar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BEBERAPA FAEDAH PUASA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa mempunyai banyak faedah bagi ruhani dan jasmani kita, antara lain: &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Puasa  adalah ketundukan, kepatuhan, dan keta'atan kepada Allah swt., maka  tiada balasan bagi orang yang mengerjakannya kecuali pahala yang  melimpah-ruah dan baginya hak masuk surga melalui pintu khusus bernama  'Ar-Rayyan'. Orang yang berpuasa juga dijauhkan dari azab pedih serta  dihapuskan seluruh dosa-dosa yang terdahulu. Patuh kepada Allah Swt  berarti meyakini dimudahkan dari segala urusannya karena dengan puasa  secara tidak langsung kita dituntun untuk bertakwa, yaitu mengerjakan  segala perintahnya dan menjauhi larangannya. Sebagaimana yang terdapat  pada surat Al-Baqarah: 183, yang berbunyi ;"Hai orang-orang yang beriman  diwajibkan bagi kamu untuk berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum  kamu, supaya kamu bertakwa". &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berpuasa juga merupakan sarana  untuk melatih diri dalam berbagai masalah seperti jihad nafsi, melawan  gangguan setan, bersabar atas malapetaka yang menimpa. Bila mencium  aroma masakan yang mengundang nafsu atau melihat air segar yang  menggiurkan kita harus menahan diri sampai waktu berbuka. Kita juga  diajarkan untuk memegang teguh amanah Allah swt, lahir dan batin, karena  tiada seorangpun yang sanggup mengawasi kita kecuali Ilahi Rabbi.&lt;br /&gt;Adapun  puasa melatih menahan dari berbagai gemerlapnya surga duniawi,  mengajarkan sifat sabar dalam menghadapi segalaa sesuatu, mengarahkan  cara berfikir sehat serta menajamkan pikiran (cerdas) karena secara  otomatis mengistirahatkan roda perjalanan anggota tubuh. Lukman  berwasiat kepada anaknya :"Wahai anakku, apabila lambung penuh, otak  akan diam maka seluruh anggota badan akan malas beribadah". &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dengan  puasa kita diajarkan untuk hidup teratur, karena menuntun kapan waktu  buat menentukan waktu menghidangkan sahur dan berbuka. Bahwa berpuasa  hanya dirasakan oleh umat Islam dari munculnya warna kemerah-merahan di  ufuk timur hingga lenyapnya di sebelah barat. Seluruh umat muslim sahur  dan berbuka pada waktu yang telah ditentukan karena agama dan Tuhan yang  satu. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Begitupun juga menumbuhkan bagi setiap individu rasa  persaudaraan serta menimbulkan perasaan untuk saling menolong antar  sesama. Saling membahu dalam menghadapi rasa lapar, dahaga dan sakit.  Disamping itu mengistirahatkan lambung agar terlepas dari bahaya  penyakit menular misalnya. Rasulullah Saw bersabda, "Berpuasalah kamu  supaya sehat". Seorang tabib Arab yang terkenal pada zamannya yaitu  Harist bin Kaldah mengatakan bahwa lambung merupakan sumber timbulnya  penyakit dan sumber obat penyembuh". &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Tiada diragukan kita  dapati jihad nafsi, menyelamatkan dari segala aroma keduniaan dalam  menahan hawa nafsu. Seperti yang dikatakan Rasulullah Saw,:&lt;br /&gt;"Wahai  pemuda/i, barang siapa yang telah memenuhi bekal, bersegeralah kawin,  sesungguhnya itu dapat menahan dari penglihatan dan menjaga kemaluan.  Dan barang siapa belum memenuhi maka berpuasalah, sesungguhnya itu  adalah penangkalnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian diatas dapat kita simpulkan  bahwa puasa mempunyai manfaat-manfaat yang tidak bisa kita ukur.  Karenanya bersyukurlah orang-orang yang dapat mengerjakan puasa.  Sebagaimana Kamal bin Hammam berkata, "Puasa adalah rukun Islam yang  ketiga setelah syahadat dan salat, di syariatkan Allah Swt karena  keistimewaan dan manfaatnya seperti: ketenangan jiwa dari menahan hawa  nafsu, menolong dan menimbulkan sifat menyayangi orang miskin, persamaan  derajat baik itu faqir atau kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----&lt;br /&gt;Dirangkum dari buku: THE ISLAMIC JURISPRUDENCE AND ITS EVIDENCES, Jilid III, karya Prof. Dr. Wahbah Al Zuhaily.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-8997426260943073998?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/8997426260943073998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/08/puasa-beberapa-hikmahnya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/8997426260943073998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/8997426260943073998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/08/puasa-beberapa-hikmahnya.html' title='Puasa &amp; Beberapa Hikmahnya'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-6032690252904513587</id><published>2011-07-28T15:33:00.000-07:00</published><updated>2011-07-28T16:02:04.725-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih Muamalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana Keislaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembaga Ekonomi Syariah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Panduan Zakat</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="coklat_med"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Ummat  Islam adalah ummat yang mulia, ummat yang dipilih Allah untuk mengemban           risalah, agar mereka menjadi saksi atas segala ummat. Tugas  ummat Islam          adlah mewujudkan kehidupan yang adil, makmur,  tentram dan sejahtera dimanapun          mereka berada. Karena itu ummat  Islam seharusnya menjadi rahmat bagi sekalian          alam.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa  kenyataan ummat Islam kini jauh dari kondisi ideal, adalah akibat             belum mampu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri (QS.  Ar-Ra'du            : 11). Potensi-potensi dasar yang dianugerahkan  Allah kepada ummat Islam            belum dikembangkan secara optimal.  Padahal ummat Islam memiliki banyak            intelektual dan ulama,  disamping potensi sumber daya manusia dan ekonomi            yang  melimpah. Jika seluruh potensi itu dikembangkan secara seksama,             dirangkai dengan potensi &lt;em&gt;aqidah Islamiyah&lt;/em&gt; (tauhid), tentu  akan            diperoleh hasil yang optimal. Pada saat yang sama, jika  kemandirian,            kesadaran beragama dan &lt;em&gt;ukhuwah Islamiyah&lt;/em&gt;  kaum muslimin juga makin            meningkat maka pintu-pintu  kemungkaran akibat kesulitan ekonomi akan            makin dapat  dipersempit.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sisi ajaran Islam yang belum  ditangani secara serius adalah            penanggulanagn kemiskinan  dengan cara mengoptimalkan pengumpulan dan            pendayagunaan  zakat, infaq dan shadaqah dalam arti seluas-luasnya. Sebagaimana             telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW serta penerusnya di zaman  keemasan            Islam. Padahal ummat Islam (Indonesia)             sebenarnya memiliki potensi dana yang sangat besar.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdorong  dari pemikiran inilah, kami mencoba untuk menuliskan risalah             zakat yang ringkas dan praktis agar dapat dengan mudah dimengerti oleh             pembaca. Meskipun kami sadar bahwa rislah ini masih jauh dari  sempurna.            Namun demikian kami berharap risalah ini dapat  bermanfaat. Koreksi,            kritik dan saran sangat kami harapkan  demi kesempurnaan risalah zakat            ini         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Semoga Allah SWT mengampuni kekurangan dan kesalahan yang ada dalam  risalah          ini, serta mencatatnya sebagai amal shaleh. Amin&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;&lt;span class="coklat_med"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;         PENGERTIAN ZAKAT&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          1. &lt;strong&gt;Makna Zakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          Menurut Bahasa(&lt;em&gt;lughat&lt;/em&gt;),  zakat berarti : tumbuh; berkembang; kesuburan            atau bertambah  (HR. At-Tirmidzi) atau dapat pula berarti membersihkan            atau  mensucikan (QS. At-Taubah : 10)&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          Menurut Hukum Islam (istilah &lt;em&gt;syara'&lt;/em&gt;),  zakat adalah nama bagi            suatu pengambilan tertentu dari harta  yang tertentu, menurut sifat-sifat            yang tertentu dan untuk  diberikan kepada golongan tertentu (Al Mawardi            dalam kitab Al  Hawiy)&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          Selain itu, ada istilah shadaqah  dan infaq, sebagian ulama fiqh, mengatakan            bahwa sadaqah  wajib dinamakan zakat, sedang sadaqah sunnah dinamakan            infaq.  Sebagian yang lain mengatakan infaq wajib dinamakan zakat, sedangkan             infaq sunnah dinamakan shadaqah.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          2. &lt;strong&gt;Penyebutan Zakat dan Infaq dalam Al Qur-an dan As Sunnah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          a. Zakat (QS. Al Baqarah : 43)&lt;br /&gt;          b. Shadaqah (QS. At Taubah : 104)&lt;br /&gt;          c. Haq (QS. Al An'am : 141)&lt;br /&gt;          d. Nafaqah (QS. At Taubah : 35)&lt;br /&gt;          e. Al 'Afuw (QS. Al A'raf : 199)&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          3. &lt;strong&gt;Hukum Zakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dan menjadi salah  satu unsur            pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu  hukum zakat adalah            wajib (&lt;em&gt;fardhu&lt;/em&gt;) atas setiap muslim  yang telah memenuhi syarat-syarat            tertentu. Zakat termasuk  dalam kategori ibadah (seperti shalat, haji,            dan puasa) yang  telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan Al-Qur'an            dan  As Sunnah, sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan  kemanusiaan            yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan  ummat manusia.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          4.  &lt;strong&gt;Macam-macam Zakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          a. Zakat &lt;em&gt;Nafs&lt;/em&gt; (jiwa), juga disebut zakat fitrah.&lt;br /&gt;          b. Zakat &lt;em&gt;Maal&lt;/em&gt; (harta).&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          5. &lt;strong&gt;Syarat-syarat Wajib Zakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          a. Muslim&lt;br /&gt;          b. Aqil&lt;br /&gt;          c. Baligh&lt;br /&gt;        d. Memiliki harta yang mencapai nishab&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;        &lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="coklat_med"&gt;ZAKAT MAAL&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;          1.  &lt;strong&gt;Pengertian &lt;em&gt;Maal&lt;/em&gt; (harta)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          1.1. Menurut bahasa (&lt;em&gt;lughat&lt;/em&gt;),  harta adalah segala sesuatu            yang diinginkan sekali sekali  oleh manusia untuk memiliki, memanfaatkan            dan menyimpannya&lt;br /&gt;          1. 2. Menurut &lt;em&gt;syar'a&lt;/em&gt;, harta adalah segala sesuatu yang dapat            dimiliki (dikuasai) dan dapat digunakan (dimanfaatkan) menurut &lt;em&gt;ghalibnya&lt;/em&gt;            (lazim).&lt;br /&gt;        sesuatu dapat disebut dengan &lt;em&gt;maal&lt;/em&gt; (harta) apabila memenuhi 2 (dua)          syarat, yaitu:&lt;br /&gt;        a.  Dapat dimiliki, disimpan, dihimpun, dikuasai&lt;br /&gt;        b. Dapat diambil manfaatnya sesuai dengan &lt;em&gt;ghalibnya&lt;/em&gt;. Misalnya          rumah, mobil, ternak, hasil pertanian, uang, emas, perak, dll.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;2. &lt;strong&gt;Syarat-syarat Kekayaan yang Wajib di Zakati&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          2.1.  &lt;strong&gt;Milik Penuh (&lt;em&gt;Almilkuttam&lt;/em&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           Yaitu : harta tersebut berada dalam kontrol dan kekuasaanya  secara penuh,            dan dapat diambil manfaatnya secara penuh.  Harta tersebut didapatkan            melalui proses pemilikan yang  dibenarkan menurut syariat islam, seperti            : usaha, warisan,  pemberian negara atau orang lain dan cara-cara yang            sah.  Sedangkan apabila harta tersebut diperoleh dengan cara yang haram,             maka zakat atas harta tersebut tidaklah wajib, sebab harta  tersebut            harus dibebaskan dari tugasnya dengan cara  dikembalikan kepada yang            berhak atau ahli warisnya.&lt;br /&gt;          2.2. &lt;strong&gt; Berkembang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           Yaitu : harta tersebut dapat bertambah atau berkembang bila  diusahakan            atau mempunyai potensi untuk berkembang.&lt;br /&gt;          2.3. &lt;strong&gt;Cukup &lt;em&gt;Nishab&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          Artinya harta tersebut telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan            ketetapan &lt;em&gt;syara'&lt;/em&gt;. sedangkan harta yang tidak sampai nishabnya            terbebas dari Zakat&lt;br /&gt;          2.4.  &lt;strong&gt;Lebih Dari Kebutuhan Pokok (&lt;em&gt;Alhajatul Ashliyah&lt;/em&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           Kebutuhan pokok adalah kebutuhan minimal yang diperlukan  seseorang dan            keluarga yang menjadi tanggungannya, untuk  kelangsungan hidupnya. Artinya            apabila kebutuhan tersebut  tidak terpenuhi yang bersangkutan tidak dapat            hidup layak.  Kebutuhan tersebut seperti kebutuhan primer atau kebutuhan             hidup minimum (KHM), misal, belanja sehari-hari, pakaian, rumah,  kesehatan,            pendidikan, dsb.&lt;br /&gt;          2.5. &lt;strong&gt;Bebas Dari hutang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           Orang yang mempunyai hutang sebesar atau mengurangi senishab  yang harus            dibayar pada waktu yang sama (dengan waktu  mengeluarkan zakat), maka            harta tersebut terbebas dari zakat. &lt;br /&gt;          2.6.  &lt;strong&gt;Berlalu Satu Tahun (&lt;em&gt;Al-Haul&lt;/em&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           Maksudnya adalah bahwa pemilikan harta tersebut sudah belalu  satu tahun.            Persyaratan ini hanya berlaku bagi ternak, harta  simpanan dan perniagaan.            Sedang hasil pertanian, buah-buahan  dan &lt;em&gt;rikaz&lt;/em&gt; (barang temuan)            tidak ada syarat &lt;em&gt;haul&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          3. &lt;strong&gt;Harta(&lt;em&gt;maal&lt;/em&gt;) yang Wajib di Zakati&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          3.1. &lt;strong&gt;Binatang Ternak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           Hewan ternak meliputi hewan besar (unta, sapi, kerbau), hewan  kecil            (kambing, domba) dan unggas (ayam, itik, burung).&lt;br /&gt;          3.2.  &lt;strong&gt;Emas Dan Perak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           Emas dan perak merupakan logam mulia yang selain merupakan  tambang elok,            juga sering dijadikan perhiasan. Emas dan perak  juga dijadikan mata            uang yang berlaku dari waktu ke waktu.  Islam memandang emas dan perak            sebagai harta yang (potensial)  berkembang. Oleh karena &lt;em&gt;syara'&lt;/em&gt;            mewajibkan zakat atas keduanya, baik berupa uang, leburan logam, bejana,            souvenir, ukiran atau yang lain.&lt;br /&gt;           Termasuk dalam kategori emas dan perak, adalah mata uang yang  berlaku            pada waktu itu di masing-masing negara. Oleh karena  segala bentuk penyimpanan            uang seperti tabungan, deposito,  cek, saham atau surat berharga lainnya,            termasuk kedalam  kategori emas dan perak. sehingga penentuan nishab            dan  besarnya zakat disetarakan dengan emas dan perak.&lt;br /&gt;          Demikian  juga pada harta kekayaan lainnya, seperti rumah, villa, kendaraan,             tanah, dll. Yang melebihi keperluan menurut &lt;em&gt;syara'&lt;/em&gt; atau  dibeli/dibangun            dengan tujuan menyimpan uang dan  sewaktu-waktu dapat di uangkan. Pada            emas dan perak atau  lainnya yang berbentuk perhiasan, asal tidak berlebihan,            maka  tidak diwajibkan zakat atas barang-barang tersebut.&lt;br /&gt;          3.3. &lt;strong&gt;Harta Perniagaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           Harta perniagaan adalah semua yang diperuntukkan untuk  diperjual-belikan            dalam berbagai jenisnya, baik berupa barang  seperti alat-alat, pakaian,            makanan, perhiasan, dll.  Perniagaan tersebut di usahakan secara perorangan            atau  perserikatan seperti CV, PT, Koperasi, dsb.&lt;br /&gt;          3.4. &lt;strong&gt;Hasil Pertanian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           Hasil pertanian adalah hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman  yang bernilai            ekonomis seperti biji-bijian, umbi-umbian,  sayur-mayur, buah-buahan,            tanaman hias, rumput-rumputan,  dedaunan, dll.&lt;br /&gt;          3.5. &lt;strong&gt;Ma-din dan Kekayaan Laut&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          &lt;em&gt;Ma'din&lt;/em&gt;  (hasil tambang) adalah benda-benda yang terdapat di dalam             perut bumi dan memiliki nilai ekonomis seperti emas, perak, timah,  tembaga,            marmer, giok, minyak bumi, batu-bara, dll. Kekayaan  laut adalah segala            sesuatu yang dieksploitasi dari laut  seperti mutiara, ambar, marjan,            dll.&lt;br /&gt;          3.6 &lt;strong&gt;Rikaz&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;        &lt;em&gt;Rikaz&lt;/em&gt;  adalah harta terpendam dari zaman dahulu atau biasa disebut           dengan harta karun. Termasuk didalamnya harta yang ditemukan dan tidak           ada yang mengaku sebagai pemiliknya.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;        &lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="coklat_med"&gt;NISHAB DAN KADAR ZAKAT&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;         &lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. &lt;strong&gt;HARTA PETERNAKAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          a. &lt;strong&gt;Sapi, Kerbau dan Kuda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           Nishab kerbau dan kuda disetarakan dengan nishab sapi yaitu  30 ekor.            Artinya jika seseorang telah memiliki sapi  (kerbau/kuda), maka ia telah            terkena wajib zakat.&lt;br /&gt;           Berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh At  Tarmidzi            dan Abu Dawud dari Muadz bin Jabbal RA, maka dapat  dibuat tabel sbb            :          &lt;/p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;table class="ijo_kecil" align="center" bgcolor="#dddddd" border="0" cellpadding="2" cellspacing="1" width="400"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#dddddd"&gt; &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;Jumlah                  Ternak(ekor)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#dddddd"&gt; &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;Zakat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" align="center" bgcolor="#ffffff"&gt;30-39&lt;br /&gt;              &lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" align="center" bgcolor="#ffffff"&gt;1 ekor sapi jantan/betina                &lt;em&gt;tabi'&lt;/em&gt; (a)&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" align="center" bgcolor="#ffffff"&gt;40-59&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" align="center" bgcolor="#ffffff"&gt;1 ekor sapi betina                &lt;em&gt;musinnah&lt;/em&gt; (b)&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" align="center" bgcolor="#ffffff"&gt;60-69&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" align="center" bgcolor="#ffffff"&gt;2 ekor sapi &lt;em&gt;tabi'&lt;/em&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" align="center" bgcolor="#ffffff"&gt;70-79&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" align="center" bgcolor="#ffffff"&gt;1 ekor sapi &lt;em&gt;musinnah&lt;/em&gt;                dan 1 ekor &lt;em&gt;tabi'&lt;/em&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" align="center" bgcolor="#ffffff"&gt;80-89&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" align="center" bgcolor="#ffffff"&gt;2 ekor sapi &lt;em&gt;musinnah&lt;/em&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" colspan="2" bgcolor="#ffffff"&gt;&lt;strong&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;              &lt;/strong&gt;a. Sapi berumur 1 tahun, masuk tahun ke-2&lt;br /&gt;              b. Sapi berumur 2 tahun, masuk tahun ke-3&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;        &lt;br /&gt;        Selanjutnya setiap jumlah itu bertambah 30 ekor, zakatnya bertambah 1          ekor &lt;em&gt;tabi'&lt;/em&gt;. Dan jika setiap jumlah itu bertambah 40 ekor, zakatnya          bertambah 1 ekor &lt;em&gt;musinnah&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;        b. &lt;strong&gt;Kambing/domba&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;         Nishab kambing/domba adalah 40 ekor, artinya bila seseorang  telah memiliki          40 ekor kambing/domba maka ia telah terkena  wajib zakat.&lt;br /&gt;        Berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW, yang  diriwayatkan oleh Imam Bukhori          dari Anas bin Malik, maka dapat  dibuat tabel sbb :          &lt;table class="ijo_kecil" align="center" bgcolor="#dddddd" border="0" cellpadding="2" cellspacing="1" width="400"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#dddddd"&gt; &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;Jumlah                  Ternak(ekor)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#dddddd"&gt; &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;Zakat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;40-120&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;1 ekor kambing (2th) atau domba                (1th)&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;121-200&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;2 ekor kambing/domba&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;201-300 &lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;3 ekor kambing/domba &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;         &lt;p style="line-height: 11pt;"&gt;Selanjutnya, setiap jumlah itu bertambah            100 ekor maka zakatnya bertambah 1 ekor.        &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;        c. &lt;strong&gt;Ternak Unggas (ayam,bebek,burung,dll) dan Perikanan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;         Nishab pada ternak unggas dan perikanan tidak diterapkan  berdasarkan jumlah          (ekor), sebagaimana halnya sapi, dan  kambing. Tapi dihitung berdasarkan          skala usaha.&lt;br /&gt;         Nishab ternak unggas dan perikanan adalah setara dengan 20 Dinar (1  Dinar          = 4,25 gram emas murni) atau sama dengan 85 gram emas.  Artinya bila seorang          beternak unggas atau perikanan, dan pada  akhir tahun (tutup buku) ia memiliki          kekayaan yang berupa modal  kerja dan keuntungan lebih besar atau setara          dengan 85 gram  emas murni, maka ia terkena kewajiban zakat sebesar 2,5          %&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;Contoh :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;         Seorang peternak ayam broiler memelihara 1000 ekor ayam  perminggu, pada          akhir tahun (tutup buku) terdapat laporan  keuangan sbb:          &lt;/p&gt;&lt;table class="ijo_kecil" align="center" border="0" cellpadding="2" cellspacing="1" width="400"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;1.Ayam broiler 5600 ekor seharga&lt;br /&gt;                2.Uang Kas/Bank setelah pajak&lt;br /&gt;                3.Stok pakan dan obat-obatan&lt;br /&gt;                4. Piutang (dapat tertagih) &lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt; &lt;p style="text-align: right;" align="right"&gt;Rp                  15.000.000&lt;br /&gt;                Rp 10.000.000&lt;br /&gt;                Rp 2.000.000&lt;br /&gt;                Rp 4.000.000 &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#dddddd"&gt;Jumlah&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#dddddd"&gt; &lt;p style="text-align: right;" align="right"&gt;Rp                  31.000.000&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;5. Utang yang jatuh tempo&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt; &lt;p style="text-align: right;" align="right"&gt;Rp                  5.000.000&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#dddddd"&gt;Saldo&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#dddddd"&gt; &lt;p style="text-align: right;" align="right"&gt;Rp26.000.000&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;         &lt;p style="line-height: 11pt;"&gt;Besar Zakat = 2,5 % x Rp.26.000.000,- =            Rp 650.000&lt;br /&gt;          &lt;strong&gt;Catatan :&lt;br /&gt;          &lt;/strong&gt;   Kandang dan alat peternakan tidak diperhitungkan sebagai            harta yang wajib dizakati.        &lt;br /&gt;           Nishab besarnya 85 gram emas murni, jika @ Rp 25.000,00 maka          85 x Rp 25.000,00 = Rp 2.125.000,00&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;        d. &lt;strong&gt;Unta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;         Nishab unta adalah 5 ekor, artinya bila seseorang telah  memiliki 5 ekor          unta maka ia terkena kewajiban zakat.  Selanjtnya zakat itu bertambah,          jika jumlah unta yang  dimilikinya juga bertambah&lt;br /&gt;        Berdasarkan hadits Nabi SAW yang  diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas          bin Malik, maka dapat  dibuat tabel sbb:           &lt;/p&gt;&lt;table class="ijo_kecil" align="center" bgcolor="#dddddd" border="0" cellpadding="2" cellspacing="1" width="400"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#dddddd"&gt; &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;Jumlah(ekor)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#dddddd"&gt; &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;Zakat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;5-9&lt;br /&gt;              &lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;1 ekor kambing/domba (a)&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;10-14&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;2 ekor kambing/domba&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;15-19&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;3 ekor kambing/domba&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;20-24&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;4 ekor kambing/domba&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;25-35&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;1 ekor unta bintu Makhad (b)&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;36-45&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;1 ekor unta bintu Labun (c)&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;45-60&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;1 ekor unta Hiqah (d)&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;61-75&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;1 ekor unta Jadz'ah (e)&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;76-90&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt; 2 ekor unta bintu Labun (c)&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;91-120&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;2 ekor unta Hiqah (d)&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;         &lt;p style="line-height: 11pt;"&gt;&lt;strong&gt;Keterangan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          (a) Kambing berumur 2 tahun atau lebih, atau domba berumur satu tahun            atau lebih.&lt;br /&gt;          (b) Unta betina umur 1 tahun, masuk tahun ke-2&lt;br /&gt;          (c) Unta betina umur 2 tahun, masuk tahun ke-3&lt;br /&gt;          (d) Unta betina umur 3 tahun, masuk tahun ke-4&lt;br /&gt;          (e) Unta betina umur 4 tahun, masuk tahun ke-5          &lt;/p&gt;&lt;p style="line-height: 11pt;"&gt;Selanjutnya,  jika setiap jumlah itu bertambah            40 ekor maka zakatnya  bertambah 1 ekor bintu Labun, dan setiap jumlah            itu bertambah  50 ekor, zakatnya bertambah 1 ekor Hiqah.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          2. &lt;strong&gt;EMAS DAN PERAK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           Nishab emas adalah 20 dinar (85 gram emas murni) dan perak  adalah 200            dirham (setara 672 gram perak). Artinya bila  seseorang telah memiliki            emas sebesar 20 dinar atau perak 200  dirham dan sudah setahun, maka            ia telah terkena wajib zakat,  yakni sebesar 2,5 %.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          Demikian juga segala  macam jenis harta yang merupakan harta simpanan            dan dapat  dikategorikan dalam "emas dan perak", seperti uang            tunai,  tabungan, cek, saham, surat berharga ataupun yang lainnya. Maka             nishab dan zakatnya sama dengan ketentuan emas dan perak, artinya  jika            seseorang memiliki bermacam-macam bentuk harta dan  jumlah akumulasinya            lebih besar atau sama dengan nishab (85  gram emas) maka ia telah terkena            wajib zakat (2,5 %).           &lt;/p&gt;&lt;p style="line-height: 11pt;"&gt;&lt;strong&gt;Contoh :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          Seseorang memiliki simpanan harta sebagai berikut :          &lt;/p&gt;&lt;table class="ijo_kecil" align="center" bgcolor="#dddddd" border="0" cellpadding="2" cellspacing="1" width="400"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;Tabungan&lt;br /&gt;                Uang tunai (diluar kebutuhan pokok)&lt;br /&gt;                Perhiasan emas (berbagai bentuk)&lt;br /&gt;                Utang yang harus dibayar (jatuh tempo) &lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt; &lt;p style="text-align: right;" align="right"&gt;Rp                  5 juta&lt;br /&gt;                Rp 2 juta&lt;br /&gt;                100 gram&lt;br /&gt;                Rp 1.5 juta&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;         &lt;p style="line-height: 11pt;"&gt;Perhiasan  emas atau yang lain tidak wajib            dizakati kecuali selebihnya  dari jumlah maksimal perhiasan yang layak            dipakai. Jika  layaknya seseorang memakai perhiasan maksimal 60 gram            maka  yang wajib dizakati hanyalah perhiasan yang selebihnya dari 60             gram.          &lt;/p&gt;&lt;p style="line-height: 11pt;"&gt;Dengan demikian jumlah harta orang tersebut,            sbb :          &lt;/p&gt;&lt;table class="ijo_kecil" align="center" bgcolor="#dddddd" border="0" cellpadding="2" cellspacing="1" width="400"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;1.Tabungan&lt;br /&gt;                2.Uang tunai&lt;br /&gt;                3.Perhiasan (10-60) gram @ Rp 25.000 &lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt; &lt;p style="text-align: right;" align="right"&gt;                  Rp 5.000.000&lt;br /&gt;                Rp 2.000.000&lt;br /&gt;                Rp 1.000.000 &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;Jumlah&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt; &lt;p style="text-align: right;" align="right"&gt;                  Rp 8.000.000&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;Utang&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt; &lt;p style="text-align: right;" align="right"&gt;                  Rp 1.500.000&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;Saldo&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt; &lt;p style="text-align: right;" align="right"&gt;                  Rp 6.500.000&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;        &lt;br /&gt;        Besar zakat = 2,5% x Rp 6.500.000 = Rp 163.500,-\&lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;Catatan :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;        Perhitungan harta yang wajib dizakati dilakukan setiap tahun pada bulan          yang sama.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;        3. &lt;strong&gt;PERNIAGAAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;         Harta perniagaan, baik yang bergerak di bidang perdagangan,  industri,          agroindustri, ataupun jasa, dikelola secara individu  maupun badan usaha          (seperti PT, CV, Yayasan, Koperasi, Dll)  nishabnya adalah 20 dinar (setara          dengan 85gram emas murni).  Artinya jika suatu badan usaha pada akhir tahun          (tutup buku)  memiliki kekayaan (modal kerja danuntung) lebih besar atau           setara dengan 85 gram emas (jika pergram Rp 25.000,- = Rp 2.125.000,-),           maka ia wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5 %&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;         Pada badan usaha yang berbentuk syirkah (kerjasama), maka jika  semua anggota          syirkah beragama islam, zakat dikeluarkan lebih  dulu sebelum dibagikan          kepada pihak-pihak yang bersyirkah.  Tetapi jika anggota syirkah terdapat          orang yang non muslim,  maka zakat hanya dikeluarkan dari anggota syirkah          muslim saja  (apabila julahnya lebih dari nishab)&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;Cara menghitung zakat :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;         Kekayaan yang dimiliki badan usaha tidak akan lepas dari salah  satu atau          lebih dari tiga bentuk di bawah ini :&lt;br /&gt;        1. Kekayaan dalam bentuk barang &lt;br /&gt;        2. Uang tunai &lt;br /&gt;        3.  Piutang&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;         Maka yang dimaksud dengan harta perniagaan yang wajib dizakati  adalah          yang harus dibayar (jatuh tempo) dan pajak.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;Contoh :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;        Sebuah perusahaan meubel pada tutup buku per Januari tahun 1995 dengan          keadaan sbb :&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;        &lt;table class="ijo_kecil" align="center" bgcolor="#dddddd" border="0" cellpadding="2" cellspacing="1" width="400"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;1.Mebel belum terjual 5 set&lt;br /&gt;                2.Uang tunai&lt;br /&gt;                3. Piutang &lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt; &lt;p style="text-align: right;" align="right"&gt;                  Rp 10.000.000&lt;br /&gt;                Rp 15.000.000&lt;br /&gt;                Rp 2.000.000 &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;Jumlah&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt; &lt;p style="text-align: right;" align="right"&gt;                  Rp 27.000.000&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;Utang &amp;amp; Pajak&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt; &lt;p style="text-align: right;" align="right"&gt;                  Rp 7.000.000&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt;Saldo&lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal" bgcolor="#ffffff"&gt; &lt;p style="text-align: right;" align="right"&gt;                  Rp 20.000.000&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;         Besar zakat = 2,5 % x Rp 20.000.000,- =            Rp 500.000,-&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;           Pada harta perniagaan, modal investasi yang berupa tanah dan  bangunan            atau lemari, etalase pada toko, dll, tidak termasuk  harta yang wajib            dizakati sebab termasuk kedalam kategori  barang tetap (tidak berkembang)&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          Usaha yang  bergerak dibidang jasa, seperti perhotelan, penyewaan apartemen,             taksi, renal mobil, bus/truk, kapal laut, pesawat udara, dll,  kemudian            dikeluarkan zakatnya dapat dipilih diantara 2 (dua)  cara:&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          4. Pada perhitungan akhir tahun  (tutup buku), seluruh harta kekayaan            perusahaan dihitung,  termasuk barang (harta) penghasil jasa, seperti            hotel, taksi,  kapal, dll, kemudian keluarkan zakatnya 2,5 %.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;           5. Pada Perhitungan akhir tahun (tutup buku), hanya dihitung dari  hasil            bersih yang diperoleh usaha tersebut selama satu tahun,  kemudian zakatnya            dikeluarkan 10%. Hal ini diqiyaskan dengan  perhitungan zakat hasil pertanian,            dimana perhitungan  zakatnya hanya didasarkan pada hasil pertaniannya,            tidak  dihitung harga tanahnya.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          4. &lt;strong&gt;HASIL PERTANIAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           Nishab hasil pertanian adalah 5 wasq atau setara dengan 750  kg. Apabila            hasil pertanian termasuk makanan pokok, seperti  beras, jagung, gandum,            kurma, dll, maka nishabnya adalah 750  kg dari hasil pertanian tersebut.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          Tetapi  jika hasil pertanian itu selain makanan pokok, seperti buah-buahan,             sayur-sayuran, daun, bunga, dll, maka nishabnya disetarakan  dengan harga            nishab dari makanan pokok yang paling umum di  daerah (negeri) tersebut            (di negeri kita = beras).&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;           Kadar zakat untuk hasil pertanian, apabila diairi dengan air  hujan,            atau sungai/mata/air, maka 10%, apabila diairi dengan  cara disiram /            irigasi (ada biaya tambahan) maka zakatnya 5%.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;           Dari ketentuan ini dapat dipahami bahwa pada tanaman yang  disirami zakatnya            5%. Artinya 5% yang lainnya didistribusikan  untuk biaya pengairan. Imam            Az Zarqoni berpendapat bahwa  apabila pengolahan lahan pertanian diairidengan            air hujan  (sungai) dan disirami (irigasi) dengan perbandingan 50;50,             maka kadar zakatnya 7,5% (3/4 dari 1/10).&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;           Pada sistem pertanian saat ini, biaya tidak sekedar air, akan tetapi             ada biaya lain seperti pupuk, insektisida, dll. Maka untuk  mempermudah            perhitungan zakatnya, biaya pupuk, intektisida  dan sebagainya diambil            dari hasil panen, kemudian sisanya  (apabila lebih dari nishab) dikeluarkan            zakatnya 10% atau 5%  (tergantung sistem pengairannya).&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          &lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span class="coklat_med"&gt;ZAKAT PROFESI&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;          &lt;strong&gt;Dasar Hukum&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          Firman Allah SWT:&lt;br /&gt;          &lt;em&gt;dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta            dan orang miskin yang tidak dapat bagian&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;          &lt;strong&gt;(QS. Adz Dzariyat:19)&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          &lt;/strong&gt;Firman Allah SWT:&lt;br /&gt;          &lt;em&gt;Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakat) sebagian dari            hasil usahamu yang baik-baik.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;          &lt;strong&gt;(QS Al Baqarah 267)&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          &lt;/strong&gt;Hadist Nabi SAW:&lt;br /&gt;          &lt;em&gt;Bila zakat bercampur dengan harta lainnya maka ia akan merusak harta            itu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;          &lt;strong&gt;(HR. AL Bazar dan Baehaqi)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          &lt;strong&gt;Hasil Profesi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;          Hasil profesi (pegawai negeri/swasta, konsultan, dokter, notaris, dll)            merupakan sumber pendapatan (&lt;em&gt;kasab&lt;/em&gt;) yang tidak banyak dikenal            di masa &lt;em&gt;salaf&lt;/em&gt;(generasi  terdahulu), oleh karenanya bentuk kasab            ini tidak banyak  dibahas, khusunya yang berkaitan dengan "zakat".            Lain halnya  dengan bentuk kasab yang lebih populer saat itu, seperti             pertanian, peternakan dan perniagaan, mendapatkan porsi pembahasan yang             sangat memadai dan detail. Meskipun demikian bukan berarti  harta yang            didapatkan dari hasil profesi tersebut bebas dari  zakat, sebab zakat            pada hakekatnya adalah pungutan harta yang  diambil dari orang-orang            kaya untuk dibagikan kepada  orang-orang miskin diantra mereka (sesuai            dengan ketentuan  syara'). Dengan demikian apabila seseorang dengan hasil             profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu zakat, akan             tetapi jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup (dan  keluarganya),            maka ia menjadi &lt;em&gt;mustahiq&lt;/em&gt; (penerima  zakat). Sedang jika hasilnya            hanya sekedar untuk menutupi  kebutuhan hidupnya, atau lebih sedikit            maka baginya tidak  wajib zakat. Kebutuhan hidup yang dimaksud adalah            kebutuhan  pokok, yakni, papan, sandang, pangan dan biaya yang diperlukan             untuk menjalankan profesinya.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          Zakat  profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan             hasil profesi yang berupa harta dapat dikategorikan ke dalam  zakat harta            (simpanan/kekayaan). Dengan demikian hasil  profesi seseorang apabila            telah memenuhi ketentuan wajib  zakat maka wajib baginya untuk menunaikan            zakat.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          &lt;strong&gt;Contoh&lt;/strong&gt;          &lt;table class="ijo_kecil" align="center" border="0" cellpadding="2" cellspacing="1" width="500"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="lightyellow"&gt;Akbar  adalah seorang karyawan                swasta yang berdomisili di kota  Bogor, memiliki seorang istri dan                2 orang anak.&lt;br /&gt;                Penghasilan bersih perbulan Rp. 1.500.000,-.&lt;br /&gt;                 Bila kebutuhan pokok keluarga tersebut kurang lebih  Rp.625.000                  per bulan maka kelebihan dari penghasilannya  = (1.500.000 - 625.000)                  = Rp. 975.000 perbulan.&lt;br /&gt;                 Apabila saldo rata-rata perbulan 975.000 maka jumlah  kekayaan                  yang dapat dikumpulkan dalam kurun waktu satu  tahun adalah Rp.                  11.700.00 (lebih dari nishab).&lt;br /&gt;                Dengan demikian Akbar berkewajiban membayar zakat sebesar 2.5%                  dari saldo. &lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal"&gt;  &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini zakat dapat dibayarkan setiap bulan sebesar 2.5% dari            saldo bulanan atau 2.5 % dari saldo tahunan.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          &lt;strong&gt;Harta Lain-lain&lt;br /&gt;          &lt;/strong&gt;1.  &lt;strong&gt;Saham dan Obligasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           Pada hakekatnya baik saham maupun obligasi (juga sertifikat  Bank) merupakan            suatu bentuk penyimpanan harta yang potensial  berkembang. Oleh karenannya            masuk ke dalam kategori harta  yang wajib dizakati, apabila telah mencapai            nishabnya.  Zakatnya sebesar 2.5% dari nilai kumulatif riil bukan nilai             nominal yang tertulis pada saham atau obligasi tersebut, dan zakat itu             dibayarkan setiap tahun.&lt;br /&gt;          &lt;strong&gt;Contoh:&lt;/strong&gt;          &lt;table class="ijo_kecil" align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" width="440"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="lightyellow"&gt;Nyonya  Salamah memiliki 500.000                lembar saham PT. ABDI ILAHI,  harga nominal Rp.5.000/Lembar. Pada                akhir tahun buku tiap  lembar mendapat deviden Rp.300,-&lt;br /&gt;                Total jumlah harta(saham) = 500.000 x Rp.5.300,- = Rp.2.650.000.000,-&lt;br /&gt;                Zakat = 2.5% x Rp. 2.650.000.000,- = Rp. 66.750.000,- &lt;/td&gt;             &lt;td class="Normal"&gt;  &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;        &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;        2. &lt;strong&gt;Undian dan kuis berhadiah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;         Harta yang diperoleh dari hasil undian atau kuis berhadiah  merupakan salah          satu sebab dari kepemilikan harta yang  diidentikkan dengan harta temuan          (rikaz). Oleh sebab itu jika  hasil tersebut memenuhi kriteria zakat, maa          wajib dizakati  sebasar 20% (1/5)&lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;Contoh:&lt;/strong&gt;          &lt;table class="ijo_kecil" align="center" border="0" cellpadding="2" cellspacing="1" width="440"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="lightyellow"&gt;Fitri  memenangkan kuis berhadiah                TEBAK OLIMPIADE berupa mobil  sedan seharga Rp.52.000.000,- dengan                pajak undian 20%  ditanggung pemenang.&lt;br /&gt;                Harta Fitri = Rp.52.000.000,- -Rp.10.400.000,- = Rp.41.600.000,-&lt;br /&gt;                Zakat = 20% x Rp.41.600.000,- = RP.8.320.000,- &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;        &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;        3. &lt;strong&gt;Hasil penjualan rumah (properti) atau penggusuran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;         Harta yang diperoleh dari hasil penjualan rumah (properti) atau  penggusuran,          dapat dikategorikan dalam dua macam:&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;         1. Penjualan rumah yang disebabkan karena kebutuhan, termasuk  penggusuran          secara terpaksa , maka hasil penjualan  (penggusurannya) lebih dulu dipergunakan          untuk memenuhi apa  yang dibutuhkannya. Apabila hasil penjualan (penggusuran)           dikurangi harta yang dibutuhkan jumlahnya masih melampaui nishab maka           ia berkewajiban zakat sebesar 2.5% dari kelebihan harta tersebut.&lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;Contoh:&lt;/strong&gt;          &lt;table class="ijo_kecil" align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="1" width="400"&gt;           &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;              &lt;td class="Normal" bgcolor="lightyellow"&gt;Pak  Ahmad terpaksa menjual                rumah dan pekarangannya yang  terletak di sebuah jalan protokol,                di Jakarta, sebab ia  tak mampu membayar pajaknya. Dari hasil penjualan                 Rp.150.000.000,- ia bermaksud untuk membangun rumah di pinggiran                 kota dan diperkirakan akan menghabiskan anggaran Rp.90.000.000,-                 selebihnya akan ditabung untuk bekal hari tua.&lt;br /&gt;                Zakat = 2.5% x (Rp.150.000.000,- - Rp.90.000.000,-)&lt;br /&gt;                = Rp.1.500.000,- &lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;         &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;        &lt;br /&gt;         2. Penjualan rumah (properti) yang tidak didasarkan pada  kebutuhan maka          ia wajib membayar zakat sebesar 2.5% dari hasil  penjualannya.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#0000ff;"&gt;&lt;strong&gt;Hikmah Zakat&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;           Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda,  trasendental dan            horizontal. Oleh sebab itu zakat memiliki  banyak arti dalam kehidupan            ummat manusia, terutama Islam.  Zakat memiliki banyak hikmah, baik yng            berkaitan dengan Sang  Khaliq maupun hubungan sosial kemasyarakatan di            antara  manusia, antara lain :&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          1. Menolong,  membantu, membina dan membangun kaum dhuafa yang lemah            papa  dengan materi sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.Dengan             kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajibannya  terhadap            Allah SWT &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          2.  Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri  orang-orang            di sekitarnya berkehidupan cukup, apalagi mewah.  Sedang ia sendiri tak            memiliki apa-apa dan tidak ada uluran  tangan dari mereka (orang kaya)            kepadanya.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;           3. Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa,  emurnikan jiwa            (menumbuhkan akhlaq mulia menjadi murah hati,  peka terhadap rasa kemanusiaan)            dan mengikis sifat bakhil  (kikir) serta serakah. Dengan begitu akhirnya            suasana  ketenangan bathin karena terbebas dari tuntutan Allah SWT dan             kewajiban kemasyarakatan, akan selalu melingkupi hati. &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;           4. Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam  yang berdiri            atas prinsip-prinsip: Ummatn Wahidan (umat yang  satu), Musawah (persamaan            derajat, dan dan kewajiban),  Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam)            dan Takaful Ijti'ma  (tanggung jawab bersama) &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          5. Menjadi unsur  penting dalam mewujudakan keseimbanagn dalam distribusi             harta (sosial distribution), dan keseimbangan tanggungjawab individu             dalam masyarakat&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;          6. Zakat adalah  ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial             ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT dan juga merupakan perwujudan             solidaritas sosial, pernyataan rasa kemanusian dan keadilan,  pembuktian            persaudaraan Islam, pengikat persatuan ummat dan  bangsa, sebagai pengikat            bathin antara golongan kaya dengan  yang miskin dan sebagai penimbun            jurang yang menjadi pemisah  antara golongan yang kuat dengan yang lemah            &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;         7. Mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan  seseorang          dengan yang lainnya menjadi rukun, damai dan  harmonis yang akhirnya dapat          menciptakan situasi yang tentram,  aman lahir bathin. Dalam masyarakat          seperti itu takkan ada lagi  kekhawatiran akan hidupnya kembali bahaya          komunisme 9atheis)  dan paham atau ajaran yang sesat dan menyesatkan. Sebab          dengan  dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme           dan sosialisme dengan sendirinya sudah terjawab. Akhirnya sesuai  dengan          janji Allah SWT, akan terciptalah sebuah masyarakat yang  baldatun thoyibun          wa Rabbun Ghafur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-6032690252904513587?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/6032690252904513587/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/panduan-zakat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/6032690252904513587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/6032690252904513587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/panduan-zakat.html' title='Panduan Zakat'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-977652607242642941</id><published>2011-07-25T17:28:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T17:29:09.228-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana Keislaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembaga Ekonomi Syariah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Zakat Simpanan</title><content type='html'>&lt;span&gt;Uang simpanan dikenakan zakat dari jumlah saldo akhir      bila telah mencapai haul. Besarnya nisab senilai 85      gr emas.&lt;br /&gt;Besar zakat yang harus dikeluarkan 2,5 %      &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Zakat simpanan Tabungan&lt;br /&gt;Saldo akhir : saldo akhir - Bagi hasil/bunga&lt;br /&gt;Besarnya zakat : 2,5 % x saldo akhir &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Zakat Simpanan Deposito&lt;br /&gt;Penghitungan sama dengan zakat simpanan&lt;br /&gt;Tabungan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-977652607242642941?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/977652607242642941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-simpanan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/977652607242642941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/977652607242642941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-simpanan.html' title='Zakat Simpanan'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-6520930212262965188</id><published>2011-07-25T17:26:00.001-07:00</published><updated>2011-07-25T17:28:01.286-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana Keislaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembaga Ekonomi Syariah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Zakat Profesi</title><content type='html'>&lt;p&gt;Zakat Profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi bila telah mencapai nishab.&lt;/p&gt;                             &lt;p&gt;Menurut Yusuf Qorodhowi, sangat  dianjurkan untuk menghitung zakat dari pendapatan kasar (brutto), untuk  lebih menjaga kehati-hatian.&lt;/p&gt;                             &lt;p&gt;Nisab sebesar 5 wasaq / 652,8 kg gabah setara 520 kg beras. Besar zakat profesi yaitu 2,5 %.&lt;br /&gt;                              Terdapat 2 kaidah dalam menghitung zakat profesi&lt;/p&gt;                             &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menghitung dari pendapatan kasar (brutto)&lt;br /&gt;                              Besar Zakat yang dikeluarkan = Pendapatan total (keseluruhan) x 2,5 %&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Menghitung dari pendapatan bersih (netto)&lt;br /&gt;                                1. Pendapatan wajib zakat=Pendapatan total - Pengeluaran perbulan*&lt;br /&gt;                                2. Besar zakat yang harus dibayarkan=Pendapatan wajib zakat x 2,5 %&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;                             &lt;p&gt; Keterangan :&lt;br /&gt;                              * Pengeluaran per bulan adalah pengeluaran kebutuhan primer (sandang, pangan, papan )&lt;br /&gt;                              * Pengeluaran perbulan termasuk :  Pengeluaran diri , istri, 3 anak, orang tua dan Cicilan Rumah. Bila dia  seorang istri, maka kebutuhan diri, 3 anak dan cicilan Rumah tidak  termasuk dalam pengeluaran perbulan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-6520930212262965188?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/6520930212262965188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-profesi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/6520930212262965188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/6520930212262965188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-profesi.html' title='Zakat Profesi'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-5072907736768563113</id><published>2011-07-25T17:25:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T17:26:12.008-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana Keislaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembaga Ekonomi Syariah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Zakat Pertanian</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;strong&gt;Ketentuan : &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mencapai nishab 653 kg gabah atau 520 kg jika yang dihasilkan adalah makanan pokok&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Jika selain makanan pokok, maka nishabnya disamakan dengan makanan pokok paling 2 2. umum di daerah&lt;br /&gt;3. Kadar zakat apabila diairi dengan air hujan, sungai, atau mata air, maka 10 %&lt;br /&gt;4. Kadar zakat jika diairi dengan cara disiram (dengan menggunakan lat) atau irigasi maka 5. 5. zakatnya 5 %&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-5072907736768563113?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/5072907736768563113/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-pertanian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/5072907736768563113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/5072907736768563113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-pertanian.html' title='Zakat Pertanian'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-6093479371060822338</id><published>2011-07-25T17:22:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T17:25:01.565-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana Keislaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembaga Ekonomi Syariah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Zakat Perdagangan</title><content type='html'>&lt;p&gt;Ketentuan :&lt;/p&gt; &lt;ol type="\"&gt;&lt;li&gt;Telah mencapai haul&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencapai nishab 85 gr emas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Besar zakat 2,5 %&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dapat dibayar dengan barang atau uang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berlaku untuk perdagangan secara individu atau badan usaha ( CV, PT, koperasi)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cara Hitung :&lt;br /&gt;Zakat Perdagangan =&lt;br /&gt;( Modal yang diputar + keuntungan + piutang yang dapat dicairkan ) – (hutang-kerugian) x 2,5 % &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-6093479371060822338?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/6093479371060822338/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-perdagangan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/6093479371060822338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/6093479371060822338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-perdagangan.html' title='Zakat Perdagangan'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-3949983131555790360</id><published>2011-07-25T17:20:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T17:22:52.486-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana Keislaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembaga Ekonomi Syariah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Zakat Hadiah</title><content type='html'>&lt;div class="contentLeft"&gt;          &lt;div class="contentRight"&gt;                 &lt;a href="http://www.rumahzakat.org/images/page/page20091224140723.jpg" rel="lightbox" title="Zakat Hadiah"&gt;&lt;img src="http://www.rumahzakat.org/images/page/page20091224140723.jpg" width="260" /&gt;&lt;/a&gt;             &lt;/div&gt;             &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jika hadiah tersebut terkait dengan gaji maka ketentuannya sama dengan zakat profesi dan dikeluarkan pada saat menerima hadiah.&lt;br /&gt;Besar Zakat yang dikeluarkan 2.5%.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika komisi, terdiri dari 2 bentuk :&lt;br /&gt;                                     &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, jika komisi dari hasil prosentasi keuntungan perusahaan kepada pegawai, maka zakat yang dikeluarkan sebesar 10%.&lt;br /&gt;                                    &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, jika komisi dari hasil profesi misalnya makelar, maka zakatnya seperti zakat profesi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika hibah :&lt;br /&gt;                                &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, jika sumber hibah tidak diduga - duga maka zakat yang dikeluarkan sebesar 20%.&lt;br /&gt;                                &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, jika sumber hibah sudah  diduga dan diharapkan, maka hibah tersebut digabungkan dengan kekayaan  yang ada, zakat yang dikeluarkan sebesar 2.5%.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-3949983131555790360?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/3949983131555790360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-hadiah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/3949983131555790360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/3949983131555790360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-hadiah.html' title='Zakat Hadiah'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-5776547510976165403</id><published>2011-07-25T17:18:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T17:19:59.828-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana Keislaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembaga Ekonomi Syariah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Zakat Fitrah</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketentuan : &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-left: 20px;" type="a"&gt;&lt;li&gt;Besarnya zakat fitrah adalah 2.5 kg&lt;br /&gt;Atau menurut Abu Hanifah, boleh membayarkan sesuai dengan harga makanan pokok&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang wajib membayar zakat fitrah&lt;br /&gt;Semua muslim tanpa  membedakan laki-laki dan perempuan, bayi, anak-anak dan dewasa, kaya  atau miskin (yang mempunyai makanan pokok lebih dari sehari)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Waktu mengeluarkan zakat fitrah :&lt;br /&gt;Boleh diberikan awal bulan  Ramadhan, tetapi wajibnya zakat fitrah diberikan menjelang Sholat Idul  Fitri atau tenggelamnya matahari di akhir bulan Ramadhan &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-5776547510976165403?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/5776547510976165403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-fitrah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/5776547510976165403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/5776547510976165403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-fitrah.html' title='Zakat Fitrah'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-6904692174202582474</id><published>2011-07-25T17:16:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T17:17:59.531-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana Keislaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembaga Ekonomi Syariah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Zakat Emas &amp; Perak</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Zakat Emas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;Ketentuan :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mencapai haul&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencapai nishab, 85 gr emas murni&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Besar zakat 2,5 %&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;   &lt;strong&gt;Cara Menghitung :&lt;/strong&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt; Jika seluruh emas/perak yang dimiliki, tidak dipakai atau dipakainya hanya setahun sekali&lt;br /&gt;  Zakat emas/perak = emas yang dimiliki x harga emas x 2,5 %&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Jika emas yang dimiliki ada yang dipakai&lt;br /&gt;    Zakat = (emas yang dimiliki - emas yang dipakai) x      harga emas x 2,5 %&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Zakat Perak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketentuan :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;    Mencapai haul&lt;br /&gt;   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencapai nishab 595 gr perak&lt;br /&gt;    &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Besar zakat 2,5 %&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;strong&gt;Cara Menghitung :&lt;/strong&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jika seluruh perak yang dimiliki, tidak dipakai atau dipakainya hanya setahun sekali&lt;br /&gt;    Zakat = perak yang dimiliki x harga perak x 2,5 %&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Jika emas yang dimiliki ada yang dipakai&lt;br /&gt;  Zakat = (perak yang dimiliki - perak yang dipakai) x harga emas x 2,5 %&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-6904692174202582474?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/6904692174202582474/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-emas-perak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/6904692174202582474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/6904692174202582474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-emas-perak.html' title='Zakat Emas &amp; Perak'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-650192216069003092</id><published>2011-07-25T17:14:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T17:15:25.443-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana Keislaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam Di Indonesia (KHI)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembaga Ekonomi Syariah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Zakat Saham &amp; Investasi</title><content type='html'>&lt;p&gt;Hasil dari keuntungan investasi saham, wajib dikeluarkan zakatnya  sesuai dengan kesepakatan para ulama pada Muktamar Internasional Pertama  tentang zakat di Kuwait (29 Rajab 1404.) Namun para ulama berbeda  tentang kewajiban pengeluaran zakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama yang  dikemukakan oleh Syeikh Abdurrahman Isa dalam kitabnya "al-Mu'amalah  al-Haditsah wa Ahkmuha" mengatakan bahwa yang harus diperhatikan sebelum  pengeluaran zakat adalah status perusahaannya, di mana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Jika perusahaan tersebut hanya bergerak di bidang layanan jasa,  misalnya biro perjalanan, biro iklan, perusahaan jasa angkutan (darat,  laut, udara), perusahaan hotel, maka sahamnya tidak wajib dizakati. Hal  ini dikarenakan saham-saham itu terletak pada alat-alat, perlengkapan,  gedung-gedung, sarana dan prasarana lainnya. Namun keuntungan yang  diperoleh dimasukkan ke dalam harta para pemilik saham tersebut, lalu  zakatnya dikeluarkan bersama harta lainnya jika telah mencapai haul dan  nishab (jangka waktu dan jumlah tertentu).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika perusahaan tersebut adalah perusahaan dagang murni yang  melakukan transaksi jual beli komoditi tanpa melakukan proses  pengolahan, seperti perusahaan yang menjual hasil-hasil industri,  perusahaan dagang dalam negeri, perusahaan ekspor-impor, dan lain lain,  maka saham-saham perusahaan tersebut wajib dikeluarkan zakatnya di  samping zakat atas keuntungan yang diperoleh. Caranya adalah dengan  menghitung kembali jumlah keseluruhan saham kemudian dikurangi harga  alat-alat, barang-barang ataupun inventaris lainnya. Besarnya kadar  zakat adalah 2,5 persen dan bisa dikeluarkan setiap akhir tahun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika perusahaan tersebut bergerak di bidang industri dan perdagangan  sekaligus, artinya melakukan pengolahan suatu komoditi dan kemudian  menjual kembali hasil produksinya, seperti perusahaan Minyak dan Gas  (MIGAS), perusahaan pengolahan mebel, marmer dan sebagainya, maka  sahamnya wajib dizakatkan dengan mekanisme yang sama dengan perusahaan  kategori kedua&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Pendapat kedua adalah pendapat Abu Zahrah. Menurutnya, saham  wajib dizakatkan tanpa melihat status perusahaannya karena saham adalah  harta yang beredar dan dapat diperjual-belikan, dan pemiliknya  mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan tersebut. Ini termasuk  kategori komoditi perdagangan dengan besaran zakat 2,5 persen dari harga  pasarnya. Caranya adalah setiap akhir tahun, yang bersangkutan  melakukan penghitungan harga saham pada harga pasar, lalu  menggabungkannya dengan dividen (keuntungan) yang diperoleh. Jika  besarnya harga saham dan keuntungannya tersebut mencapai nishab maka  saham tersebut wajib dizakatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf Qaradawi sendiri mempunyai  pendapat yang agak berbeda dengan kedua pendapat di atas. Beliau  mengatakan jika saham perusahaan berupa barang atau alat seperti mesin  produksi, gedung, alat transportasi dan lain-lain, maka saham perusahaan  tersebut tidak dikenai zakat. Zakat hanya dikenakan pada hasil bersih  atau keuntungan yang diperoleh perusahaan, dengan kadar zakat 10 persen.  Hukum ini juga berlaku untuk aset perusahaan yang dimiliki oleh  individu/perorangan. Lain halnya kalau saham perusahaan berupa komoditi  yang diperdagangkan (tercatat di bursa saham), zakat dapat dikenakan  pada saham dan keuntungannya sekaligus karena dianalogikan dengan urudh  tijarah (komoditi perdagangan). Besarnya kadar zakat adalah 2,5 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal  ini juga berlaku untuk aset serupa (surat-surat berharga lainnya) yang  dimiliki oleh perorangan. Pendapat yang terakhir ini, sebagaimana  disampaikan Yusuf Qaradawi nampaknya lebih mudah dalam aplikasinya.  Zakat saham hanya diwajibkan pada saham yang berupa komoditi perdagangan  dengan kadar zakat 2,5 persen. Untuk saham yang berupa alat-alat atau  barang, zakatnya adalah pada keuntungan yang diperoleh dan bukan pada  nilai saham itu sendiri. Kadar zakatnya 10 persen, dianalogikan dengan  zakat hasil pertanian dan perkebunan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-650192216069003092?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/650192216069003092/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-saham-investasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/650192216069003092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/650192216069003092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/zakat-saham-investasi.html' title='Zakat Saham &amp; Investasi'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-8996376227335842564</id><published>2011-07-25T17:03:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T17:12:54.581-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana Keislaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Realita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembaga Ekonomi Syariah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Pengenalan Zakat</title><content type='html'>Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan apabila telah memenuhi syarat –  syarat yang telah ditentukan oleh agama, dan disalurkan kepada  orang–orang yang telah ditentukan pula, yaitu delapan golongan yang  berhak menerima zakat sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an surat  At-Taubah ayat 60 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk  orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para  mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk  budak, orang-orang yang berhutang,  untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan,  sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui  lagi Maha Bijaksana .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat dalam bahasa Arab mempunyai beberapa makna :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama,  zakat bermakna At-Thohuru, yang artinya membersihkan atau mensucikan.  Makna ini menegaskan bahwa  orang yang selalu menunaikan zakat karena  Allah dan bukan karena ingin dipuji manusia, Allah akan membersihkan dan  mensucikan baik hartanya maupun jiwanya. Allah SWT berfirman dalam  surat At-Taubah ayat 103:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ambillah zakat dari sebagian harta  mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan  dan mensucikan  mereka  dan  mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya do'a kamu itu  ketenteraman jiwa  bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kedua,  zakat bermakna Al-Barakatu, yang artinya berkah. Makna ini menegaskan  bahwa orang yang selalu membayar zakat, hartanya akan selalu dilimpahkan  keberkahan oleh Allah SWT, kemudian keberkahan harta ini akan berdampak  kepada keberkahan hidup. Keberkahan ini lahir karena harta yang kita  gunakan adalah harta yang suci dan bersih, sebab harta kita telah  dibersihkan dari kotoran dengan menunaikan zakat yang hakekatnya zakat  itu sendiri berfungsi  untuk membersihkan dan mensucikan harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga,  zakat bermakna An-Numuw, yang artinya tumbuh dan berkembang. Makna ini  menegaskan bahwa orang yang selalu menunaikan zakat, hartanya (dengan  izin Allah) akan selalu terus tumbuh dan berkembang. Hal ini disebabkan  oleh kesucian dan keberkahan harta yang telah ditunaikan kewajiban  zakatnya. Tentu kita tidak pernah mendengar orang yang selalu menunaikan  zakat dengan ikhlas karena Allah, kemudian banyak mengalami masalah  dalam harta dan usahanya, baik itu kebangkrutan, kehancuran, kerugian  usaha, dan lain sebagainya. Tentu kita tidak pernah mendengar hal  seperti itu, yang ada bahkan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beraktivitas di  Lembaga Amil Zakat, sampai saat ini penulis belum menemukan orang –orang  yang rutin menunaikan zakat kemudian berhenti dari menunaikan zakat  disebabkan usahanya bangkrut atau ekonominya bermasalah, bahkan yang ada  adalah orang–orang yang selalu menunaikan zakat, jumlah nominal zakat  yang dikeluarkannya dari waktu ke waktu semakin bertambah besar, itulah  bukti bahwa zakat sebenarnya tidak mengurangi harta kita, bahkan  sebaliknya. Memang secara logika manusia, dengan membayar zakat maka  harta kita akan berkurang, misalnya jika kita mempunyai penghasilan Rp.  2.000.000,- maka zakat yang kita keluarkan adalah 2,5 % dari Rp.  2.000.000,- yaitu Rp 50.000,-. Jika kita melihat menurut logika manusia,  harta yang pada mulanya berjumlah Rp.2.000.000,- kemudian dikeluarkan  Rp. 50.000,- maka harta kita menjadi Rp. 1.950.000,-  yang berarti  jumlah harta kita berkurang. Tapi, menurut ilmu Allah yang Maha Pemberi  rizki, zakat yang kita keluarkan tidak mengurangi harta kita, bahkan  menambah harta kita dengan berlipat ganda.  Allah SWT berfirman dalam  surat Ar-Rum ayat 39 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesuatu riba  yang kamu berikan agar  dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi  Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk  mencapai keridhaan Allah, maka  itulah orang-orang yang melipat  gandakan .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini Allah berfirman tentang zakat yang  sebelumnya didahului dengan firman tentang riba. Dengan ayat ini Allah  Maha Pemberi Rizki menegaskan bahwa riba tidak akan pernah melipat  gandakan harta manusia, yang sebenarnya dapat melipat gandakannya adalah  dengan menunaikan zakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, zakat bermakna As-Sholahu,  yang artinya beres atau keberesan, yaitu bahwa orang orang yang selalu  menunaikan zakat, hartanya akan selalu beres dan jauh dari masalah.  Orang yang dalam hartanya selalu ditimpa musibah atau  masalah, misalnya  kebangkrutan, kecurian, kerampokan, hilang, dan lain sebagainya boleh  jadi karena mereka selalu melalaikan zakat yang merupakan kewajiban  mereka dan hak fakir miskin beserta golongan lainnya yang telah Allah  sebutkan dalam Al – Qur’an.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-8996376227335842564?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/8996376227335842564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/pengenalan-zakat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/8996376227335842564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/8996376227335842564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/pengenalan-zakat.html' title='Pengenalan Zakat'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-4273667562327260011</id><published>2011-07-25T16:32:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T16:42:49.196-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana Keislaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>KEUTAMAAN PUASA RAMADHAN</title><content type='html'>&lt;p&gt;Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly&lt;br /&gt;Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ramadhan adalah bulan kebaikan dan barokah, Allah memberkahinya  dengan banyak keutamaan sebagaimana dalam penjelasan berikut ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[1]. Bulan Al-Qur’an&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Allah menurunkan kitab-Nya yang mulia sebagai petunjuk bagi manusia,  obat bagi kaum mukminin, membimbing kepada yang lebih lurus, menjelaskan  jalan petunjuk. (Al-Qur’an) diturunkan pada malam Lailatul Qadar, suatu  malam di bulan Ramadhan. Allah berfirman.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Artinya : (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan,  bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk  bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan  pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di  antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka  hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam  perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak  hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki  kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah  kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas  petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”  [Al-Baqarah : 185]&lt;span id="more-75"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketahuilah saudaraku -mudah-mudahan Allah meberkatimu- sesungguhnya  sifat bulan Ramadhan adalah sebagai bulan yang diturunkan padanya  Al-Qur’an, dan kalimat sesudahnya dengan huruf (fa) yang menyatakan  illat dan sebab : “Barangsiapa yang melihatnya hendaklah berpuasa”  Memberikan isyarat illat (penjelas sebab) yakni sebab dipilihnya  Ramadhan adalah karena bulan tersebut adalah bulan yang diturunkan  padanya Al-Qur’an.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[2]. Dibelengunya Syaithan, Ditutupnya Pintu-Pintu Neraka dan Dibukanya Pintu-Pintu Surga&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada bulan ini kejelekan menjadi sedikit, karena dibelenggu dan  diikatnya jin-jin jahat dengan salasil (rantai), belenggu dan ashfad.  Mereka tidak bisa bebas merusak manusia sebagaimana bebasnya di bulan  yang lain, karena kaum muslimin sibuk dengan puasa hingga hancurlah  syahwat, dan juga karena bacaan Al-Qur’an serta seluruh ibadah yang  mengatur dan mebersihkan jiwa. Allah berfirman.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Artinya : Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas  orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” [Al-Baqarah : 183]&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka dari itu ditutupnya pintu-pintu jahannam dan dibukanya  pintu-pintu surga, (disebabkan) karena (pada bulan itu) amal-amal shaleh  banyak dilakukan dan ucapan-ucapan yang baik berlimpah ruah (yakni  ucapan-ucapan yang mengandung kebaikan banyak dilafadzkan oleh kaum  mukminin-ed).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Artinya : Jika datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu  surga [dalam riwayat Muslim : 'Dibukalah pintu-pintu rahmat"] dan  ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu syetan” [Hadits Riwayat  Bukhari 4/97 dan Muslim 1079]&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Semuanya itu sempurna di awal bulan Ramadhan yang diberkahi, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Artinya : Jika telah datang awal malam bulan Ramadhan, diikatlah  para syetan dan jin-jin yang jahat, ditutup pintu-pintu neraka, tidak  ada satu pintu-pintu yang dibuka dan dibukalah pintu-pintu surga, tidak  ada satu pintu-pun yang tertutup, berseru seorang penyeru ; “Wahai orang  yang ingin kebaikan lakukanlah, wahai orang yang ingin kejelekan  kurangilah. Dan bagi Allah mempunyai orang-orang yang dibebaskan dari  neraka, itu terjadi pada setiap malam” [Diriwayatkan oleh Tirmidzi 682  dan Ibnu Khuzaimah 3/188 dari jalan Abi Bakar bin Ayyasy dari Al-A'masy  dari Abu Hurairah. Dan sanad hadits ini Hasan]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[3]. Malam Lailatul Qadar&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Engkau telah mengetahui, wahai hamba yang mukmin bahwa Allah Jalla  Jallaluhu memilih bulan Ramadhan karena diturunkan padanya Al-Qur’an,  dan mungkin untuk mengetahui hal ini dibantu qiyas dengan berbagai cara,  diantaranya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;[a] Hari yang paling mulia di sisi Allah adalah pada bulan  diturunkannya Al-Qur’an hingga harus dikhususkan dengan berbagai macam  amalan. Hal ini akan dijelaskan secara terperinci dalam pembahasan malam  Lailatul Qadar, Insya Allah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;[b] Sesungguhnya jika satu nikmat dicapai oleh kaum muslimin,  mengharuskan adanya tambahan amal sebagai wujud dari rasa syukur kepada  Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah setelah menceritakan sempurnanya  nikmat bulan Ramadhan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Artinya : Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah  kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,  supaya kamu bersyukur” [Al-Baqarah : 185]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala setelah selesai (menyebutkan) nikmat haji.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Artinya : Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka  berdzikirlah (dengan menyebut) Allah. Sebagaimana kamu menyebut-nyebut  (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikir lebih  banyak dari itu” [Al-Baqarah : 200]&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam  Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa  sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul  Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&amp;amp;article_id=1069&amp;amp;bagian=0&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://masbembengs.blogspot.com/feeds/posts/default&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5764370933077288995-4273667562327260011?l=masbembengs.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://masbembengs.blogspot.com/feeds/4273667562327260011/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/keutamaan-puasa-ramadhan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/4273667562327260011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5764370933077288995/posts/default/4273667562327260011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://masbembengs.blogspot.com/2011/07/keutamaan-puasa-ramadhan.html' title='KEUTAMAAN PUASA RAMADHAN'/><author><name>Bambang Irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08084490995366592174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_E915E4oASo0/S2pzZJEv7fI/AAAAAAAAAFU/8n950yS5C8E/S220/Q.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5764370933077288995.post-8978038352664323248</id><published>2011-06-30T15:50:00.000-07:00</published><updated>2011-06-30T15:54:18.858-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmu Falak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syari&apos;ah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rukyatul Hilal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Praktek Falak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makalah'/><title type='text'>Prediksi Awal Bulan Dzul Hijjah 1433 H, Sistem Ephemeris</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 115%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;PENENTUAN AWAL BULAN DZUL HIJJAH 1433 H.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;SISTEM EPHEMERIS&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Markas : Pelabuhan Ratu;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;p&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;= -7&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;01’ 44,6”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                              &lt;/span&gt;L&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;= 106&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;33’ 27.8”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                              &lt;/span&gt;h&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;= 52, 685 meter&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.45pt; text-align: justify; text-indent: -36.75pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;Menghitung perkiraan akhir Dzul Qo’dah 1433 H.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;Tanggal 29 Dzul Qo’dah 1433 H.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;= 1432 : 30 = 47 siklus + 22 tahun + 10 bulan + 29 hari.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;= 47 X 10631 + ( 22 X 354 + 8 ) + ( 59 X 5 ) + 29 hari.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;= 499657 + 7796 + 295 + 29 hari = 507777 + 227029 hari = 734806 hari.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;= 734806 : 1461 = 502 daur + 3 tahun + 289 hari.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;= 502 X 4 tahun = 2008 tahun + 3 tahun + 9 bulan + 15 hari.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;= Tanggal 15 Oktober 2012 M.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;= 734793 : 7 = 104970 sisa 3 = SENIN.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;= 734793 : 5 = 146958 sisa 3 = PAHING.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;Jadi Ijtimak akhir bulan Dzul Qo’dah 1433 H. jatuh pada hari : &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;SENIN PAHING , 15 OKTOBER 2012 M.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.45pt; text-align: justify; text-indent: -36.75pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;Menghitung saat ijtimak akhir Dzul Qo’dah 1433 H. / Tgl. 15 Oktober 2012 M.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Dari data Ephemeris 2012 bulan Oktober, dapat diturunkan sebagai berikut :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72.75pt; text-align: justify; text-indent: -54.05pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;FIB terkecil bulan Oktober 2012, adalah 0.00065 pada pukul 13:00 GMT.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18.7pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Tanggal 15 Oktober 2012 atau pukul 20:00 WIB, Tgl 15 Oktober 2012 M.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18.7pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;2.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;ELM pada pukul 13:00 GMT&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;= 202&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;34’ 46”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18.7pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;3.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;ALB pada pukul 13:00 GMT&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;= 203&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;07’ 03”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18.7pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;4.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Sabaq matahari perjam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18.7pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;- ELM pada pukul 13:00 GMT&lt;span style=""&gt;                  &lt;/span&gt;= 202&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;34’ 46”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18.7pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;- ELM pada pukul 14:00 GMT&lt;span style=""&gt;                  &lt;/span&gt;&lt;u&gt;= 202&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;37’ 14” -&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18.7pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                        &lt;/span&gt;=&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;0&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;02’ 28”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.45pt; text-align: justify; text-indent: -18.75pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;Sabaq bulan perjam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.45pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;- ALB pada pukul 13:00 GMT&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;= 203&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;07’ 03”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.45pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;- ALB pada pukul 14:00 GMT&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;u&gt;= 203&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;44’ 05” -&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.45pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                  &lt;/span&gt;=&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;0&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;37’ 02”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.45pt; text-align: justify; text-indent: -18.75pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;Saat ijtimak dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.45pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;Jam FIB (GMT) + (&lt;u&gt;ELM –&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ALB&lt;/u&gt;) + 07:00 (WIB)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                              &lt;/span&gt;(SB – SM)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.4pt; text-align: justify; text-indent: -37.4pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;= 13:00 + &lt;u&gt;(202&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;34’ 46” – 203&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;07’ 03”)&lt;/u&gt; + 07:00 (WIB)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.4pt; text-align: justify; text-indent: -37.4pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;( 0&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;37’ 02” –&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;0&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;02’ 28” )&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.4pt; text-align: justify; text-indent: -37.4pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;= 13:00 + ( -0&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;56’ 2.2” ) + 07:00 WIB = 19:3:57.8 WIB.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.4pt; text-align: justify; text-indent: -37.4pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Jadi ijtimak akhir Sya’ban 1433 H. terjadi pada pukul 19:04 WIB.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.4pt; text-align: justify; text-indent: -37.4pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18.7pt; text-align: justify; text-indent: -18.7pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;Menghitung jarak, posisi dan keadaan hilal akhir Dzul Qo’dah 1433 H. menjelang awal Dzul Hijjah 1433 H. di Pelabuhan Ratu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -17.3pt; line-height: 115%;"&gt;1.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Ijtimak akhir Dzul Qo’dah 1433 H. terjadi pada tanggal 15 Oktober 2012 pukul 19:04 WIB.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -17.3pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -17.3pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -17.3pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -17.3pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;2.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Menghitung tinggi Matahari (h&lt;sub&gt;o&lt;/sub&gt;) saat terbenam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Rumus : h&lt;sub&gt;o&lt;/sub&gt; = 0&lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt; – s.d – ref – Dip.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Deklinasi Matahari (d&lt;sub&gt;o&lt;/sub&gt;) pada pukul 11:00 GMT &lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;= -8&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;45’ 10”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Perata waktu (e) pada pukul 11:00 GMT&lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt;= 0j 14m 19d&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Semi Diameter (sd) pada pukul 11:00 GMT&lt;span style=""&gt;                  &lt;/span&gt;= 0&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;16’ 02.48”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Refraksi (ref) = 0&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;34’ 30” (tercantum dalam daftar Refraksi pada Epehemeris). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Kerendahan ufuk (Dip) = 1.76 √ 52.685&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;/ 60&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;= 0&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;12’ 46.49”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Koreksi Waktu Daerah (KWD)= 106&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;33’ 27.8”– 105&lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt; / 15 = 0j 06m 13.85d&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;h&lt;sub&gt;o &lt;/sub&gt;= 0&lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt; – 0&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;16’ 02.48” –&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;0&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;34’ 30” –&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;0&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;12’ 46.49”&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;= -1&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;3’ 18.97”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; text-indent: -19.5pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;Menghitung sudut waktu Matahari (t&lt;sub&gt;o&lt;/sub&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;Rumus : Cos t = -tan p tan d + sec p sec d sin h&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;Cos&lt;sup&gt;-1&lt;/sup&gt; (-tan -7&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;01’ 44.6” X tan -8&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;45’ 10” + 1/cos -7&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;01’ 44.6” X 1/cos -8&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;45’ 10” X sin -1&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;3’ 18.97”) = shif o’” = 88&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;27’ 30.94”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;t&lt;sub&gt;o&lt;/sub&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt; = 92&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;9’ 50.14” / 15&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;=&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;6j 8m 39.34d&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; text-indent: -19.5pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;Menghitung saat Matahari terbenam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;Rumus : 12 – e + t&lt;sub&gt;o &lt;/sub&gt;– KWD&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;Kulminasi&lt;span style=""&gt;                                                   &lt;/span&gt;= 12j 00m 00d&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;Perata waktu (e)&lt;span style=""&gt;                                        &lt;/span&gt;&lt;u&gt;=&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;0j 14m 19d&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;-&lt;/u&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                 &lt;/span&gt;= 11j 45m 41d&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                                                    &lt;/span&gt;t&lt;sub&gt;o&lt;/sub&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;u&gt;=&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;6j &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;8m 39.34d&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;+&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                  &lt;/span&gt;= 17j 54m 20.34d&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                                              &lt;/span&gt;KWD&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;u&gt;=&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;0j 06m 13.85d&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;–&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                                              &lt;/span&gt;WIB&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;= 17j 48m &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;6.49d &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                    &lt;/span&gt;GMT&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;= 10j 48m &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;6.49d&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; text-indent: -19.5pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;Menentukan Asensiorekta (AR) Matahari dan Bulan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;Rumus : A – (A – B ) X C / 1&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;AR Matahari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada pukul&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;10:00 GMT&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;= 200&lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt; 45’ 54”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                           &lt;/span&gt;11:00 GMT&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;= 200&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;48’ 14”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;AR pada pukul 10:48:6.49 GMT = 200&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;45’ 54” – (200&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;45’ 54” – 200&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;48’ 14”)&lt;span style=""&gt;                                            &lt;/span&gt;x 0:48:6.49 / 1 = 200&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;47’ 46.2”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.4pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;AR&lt;sub&gt;o&lt;/sub&gt; = 200&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;47’ 46.2”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.4pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.4pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;AR Bulan pada pukul 10:00 GMT&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;= 198&lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt; 30’ 30”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.4pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                    &lt;/span&gt;11:00 GMT&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;= 199&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;06’ 24”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 233.75pt; text-align: justify; text-indent: -196.35pt; line-height: 115%;"&gt;AR pada pukul 10:48:6.49 GMT&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;= 198&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;30’ 30” – (198 &lt;sup&gt;0&lt;/sup&gt;30’ 30” - 199&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;06’ 24”) x&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;0:48:6.49 / 1&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;= 198&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;59’ 17”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;AR&lt;sub&gt;) &lt;/sub&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;= 198&lt;sup&gt;0 &lt;/sup&gt;59’ 17”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; text-indent: -19.5pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;Menentukan sudut waktu bulan ( t&lt;sub&gt;) &lt;/sub&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;Rumus :&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;t&lt;sub&gt;)&lt;/sub&gt; = AR&lt;sub&gt;o&lt;/sub&gt; – AR&lt;sub&gt;)&lt;/sub&gt; + t&lt;sub&gt;o&lt;/sub&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 37.5pt; text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;t&lt;sub&gt;)&lt;/sub&gt;&l
